BAHWASANNYA

Adanya "ADA" itu "ADA",Tidak adanya "ADA" itu "ADA".Adanya "Tidak Ada" itu "ADA",Tidak Adanya "Tidak Ada" itu "ADA"....
"Huwalloh, Robby...Wa Robbukum...Dialah Allah, Tuhanku dan Tuhan Kalian"

Tampilkan postingan dengan label Sekedar Tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekedar Tulisan. Tampilkan semua postingan

Kontroversasi Kudeta Calistung Dini

EMDE Channel | 9/17/2013 11:35:00 AM | 0 komentar
Mendikbud, Mohammad Nuh MENEGASKAN bahwa SD tidak boleh memberikan tes Calistung kepada calon murid. Paud bukanlah tempat bagi anak untuk belajar calistung.

Lanjut beliau katakan, bahwa mengajarkan calistung adalah KEWAJIBAN SD, bukan PAUD. Oleh karena itu, anak yg akan masuk sekolah tidak boleh dituntut sudah menguasai hitung.

"Bila SD memberikan tes calistung kepada calon murid, maka anak2 akan diajari calistung sejak TK, jika TK anak sudah diajari calistung, maka sejak PAUD ia sudah diperkenalkan huruf. Jangan2 semenjak di dalam kandungan sudah minta belajar," kata Nuh.

Tuntutan yg berat kepada anak usia dini akan membuat anak tsb tertekan.

Senada dengan seruan Mendikbud, Direktur PAUD Ditjen PNFI Kemendiknas, Sudjarwo juga tegas menghimbau:
Hendaknya pengajaran PAUD dikembalikan pada 'qitah' nya yaitu memberikan kesempatan pada anak untuk bermain, tanpa membebaninya dengan BEBAN AKADEMIK, termasuk Calistung.

Anak balita sebaiknya tak buru2 diajarkan calistung. Jika dipaksa menguasai calistung, maka si anak akan terkena 'MENTAL HECTIC' pada usia 8-9 tahun (2-3 SD). Anak akan selalu bergerak, sulit diatur, egosentris, dan pemberontak.

"Oleh karena itu JANGAN BANGGA bagi anda atau siapa saja yg memiliki anak usia 2 atau 3 tahun sudah bisa membaca & menulis," lanjut Sudjarwo.

Bagaimana pendapat para psikolog mengenai 'fenomena' calistung dini ini?

Masa kanak2 (bawah 7 tahun) adalah masa dimana anak harusnya BANYAK BERMAIN. Bukan duduk diam menghapal angka atau huruf, lalu sepulangnya harus mengerjakan PR dari sekolah, belum lagi banyak dari mereka yg sudah diikutkan Les calistung sejak dini.

Psikologis anak belumlah siap untuk itu semua. Yg ada anak akan STRESS, dan itu berbahaya buat perkembangan mentalnya. Belum lagi dari sisi perkembangan Otak anak. Bawah 7 tahun, otak anak BELUM SIAP belajar Kognitif seperti Calistung.

Jadi sangatlah tak bijak jika memaksakan anak bawah 7 tahun untuk duduk diam menghapal huruf2 atau angka, apalagi sampai memasukkan mereka ke LES Calistung. Karena memang secara Psikologis juga perkembangan Otak, mereka belum siap untuk itu.

Apa Kesimpulannya?

Masa bawah 7 tahun, adalah masa Pembentukan Karakter dan Empati bagi anak. Di masa ini mereka Harusnya menghabiskan waktu mereka dengan bermain (yg positif dan terarah pastinya). Karena melalui bermain itulah justru mereka belajar.

Di masa ini pula kreatifitas anak harus dikembangkan. Karena sesungguhnya, Karakter yg kuat & Kreatifitas yg tinggi itulah MODAL UTAMA serta DASAR yg harus dimiliki setiap anak dalam menghadapi kehidupan 'nyata' kelak.

Karena pada kenyataannya, yg bisa BERTAHAN dalam 'persaingan' di dunia ini adalah mereka yg Berkarakter kuat dan penuh kreatifitas. Bukan yg hanya memiliki nilai akademik yg bagus.

Akademik sejatinya hanyalah Elemen penunjang saja dari keberhasilan seseorang. Karena itulah, yg harus kita utamakan sejak dini adalah pendidikan Karakter dan pengembangan kreatifitas seluas2 nya pada anak. Jangan terbalik (akademik duluan).

Kasihanilah anak2 kita. Jangan biarkan mereka Stress oleh karena hapalan2 yg belum seharusnya, jadwal sekolah dan les yg padat, PR yg menyita waktu bermain mereka.

Dibutuhkan hati yg BAHAGIA untuk perkembangan Otak dan mental yg Optimal.

Namun itu semua kembali kepada pilihan pribadi masing2. Saya hanya menghimbau, mari kita jadikan anak2 kita GENERASI PENERUS BANGSA yg Bahagia, Berakhlak Mulia, Berkarakter kuat, Berempati, dan Kreatif..

Jangan biarkan anak jadi korban dari Kontroversasi Kudeta Calistung Dini ya..

Sumber : FP Kid Are BEST GURU

Foto : http://kabarberita.info

KH. SOLEH BAHRUDIN KALAM & NGALAH

EMDE Channel | 9/06/2013 06:45:00 PM | 0 komentar
Setelah beliau menikah pada tahun 1975 diusianya yang ke 22, beliau tidak lantas mengaktualisasikan ilmunya ditengah-tengah kehidupan yang lebih nyata, mengasingkan diri dari dekapan kedua orang tuanya dan hijrah untuk berjuang menyebarkan syariat Islam dipergumulan orang-orang yang masih membutuhkan media untuk mentransfer hidayah Tuhan masuk kedalam hati sanubari mereka, merubah kultur budaya masyarakat yang jauh dari tuntunan syariat.

Beliau yang sudah menikah mulai berfikir akan perekonomian keluarga yang dibinahnya, bergeraklah beliau untuk membuka usaha untuk menopang ekonomi keluarga dirumahnya, dengan modal yang sedikit beliau mencoba keberuntungannya untuk berdagang berbagai macam kebutuhan bangunan, dimulailah perdagangan itu dengan menyediakan batu kapur dan sedikit kayuglugu. Namun Tuhan berkata lain dan menurunkan ujian kepada beliau dengan diberi kesuksesan dan keberhasilan dalam usaha beliau, sehingga dengan waktu yang cukup singkat beliau mampu mengembangkan usahanya dan mendapatkan keuntungan yang melimpah. Pada dasarnya keuntungan dan keberhasilan dalam berdagang selalu beliau harapkan dan itu semua tentu saja menjadi harapan semua orang apalagi orang tua yang biasanya bahagia melihat kesuksesan anaknya. Namun berbeda dengan beliau dan kedua orang tuanya, beliau justru melihat semua itu merupakan ujian dari Allah SWT yang bisa membuat beliau melupakan tanggung jawab dan kewajibannya untuk mendampingi dan membantu orang tua beliau dalam mengajar dan mendidik para santri di pesantren ayahnya. Dengan kesibukan beliau akan pencarian dan penerimaan karunia Tuhan itu, suatu ketika beliau meninggalkan kewajibannya untuk mengajar dan mendidik santri ayahnya, seketika itu beliau dipanggil oleh ayahnya dan ditegur dengan nada penuh dengan kemarahan. Ayah beliau bertanya”teko endi koen kok gak ngajar mangko” (dari mana kamu? kok ndak ngajar tadi?) beliau menjawab dengan sopan”ndugi kilaan pak”mendengar jawaban sang putra Mbah Kyai Bahruddin Kalam atau ayah beliau langsung memarahi beliau”terusno.... tak obong tokomu” (teruskan ! saya bakar tokomu) , sungguh tauladan yang perlu kita petik hikmahnya, dimana kepentingan akhirat harus didahulukan dari pada kepentingan dunia, dan kepentingan orang lain lebih diutamakan dari pada kepentingan pribadi.

Hari demi hari beliau merasa gunda mendengar perkataan orang tuanya. Bagaimana tidak keberhasilan yang selalu diharapkan ternyata tidak bisa membuat orang tua beliau senang melihatnya, tapi justru membuat sedih dan marah. Itulah kesedihan beliau yang mendalam. Namun bagaimanapun juga beliau adalah hamba Tuhan yang selalu diberi petunjuk, sehingga pada akhirnya beliau menyadari bahwa dalam menjalani kehidupan ini tidak ada ujian dan cobaan yang berat untuk taat kepada kedua orang tua dan kepada Tuhannya selain ujian dan cobaan yang bersifat kenikmatan dan kesenangan. Dengan kenikamatan dan kesenangan orang akan lupa kepada perintah Tuhan dan bisa membuat dirinya berlaku sombong dan menghilangkan kepatuhan kepada kedua orang tuanya.

Disaat kebingungan menyelimuti alam pikiran beliau, terbersitlah hidayah Tuhan, sehingga beliau memutuskan untuk mencari sebuah ketenangan batin yang lebih hakiki, pergilah beliau untuk”manjing suluk”menuntaskan ilmu thoriqohnya pada Mbah KH. Munawir Kertosono, tepatnya pada tahun 1984 M, setelah”manjing suluk”selesai akhirnya beliau mendapatkan mandataris kemursyitan sebagai guru thoriqoh Naqsyabandiyah, Qodiriyah, kholidiyah, walmujadadiyah.Kesempurnaan beliau sebagai guru thoriqoh membuat hati sang guru yaitu Mbah KH. Munawir menguji akan kesetiaan beliau sebagai seorang murid, dipanggilah beliau oleh Mbah KH Munawir dan beliau diberi amanah yang cukup bertentangan dengan nafsu duniawi, dimana pada saat itu perekonomian keluarga beliau sudah mulai terbangun, tiba-tiba sang guru menyuruh beliau untuk meninggalkan semuanya; berkatalah sang guru “Koen iku anak barep, ojo gembol uwong tuwomu, dulurmu sek akeh, sak aken adik-adikmu kate manggon nangdi, wong tanahe bapakmu yo mek sak munu (kamu itu anak pertama, jangan bergantung pada orang tuamu, saudaramu banyak, kasihan adik-adikmu, mau bertempat dimana? lha tanah orang tuamu cuma segitu), beliau menjawab dospundi kale bapak? (bagaimana dengan bapak saya?) Sang guru menegur”uwong tuwomu opo jare aku, kuwe gelem tak toto leh? (orangtuamu itu urusanku, kamu mau saya tata?) ”beliau menjawab”inggih”sang guru mengatakan”kuwe nek gelem Ngalah barokah..!!” (kamu kalau mau mengalah..akan barokah). beliau menjawab lagi dengan kepatuhan”inggih”, dari situlah muncul sebuah doa yang terucap dari sang guru”Ngalah barokah,...Ngalah barokah,... Ngalah barokah” (mengalah.. barokah) .Tidak lama kemudian beliau minta izin pulang kerumah ayahnya, dan Mbah KH. Munawir berpesan”nek wes tutuk omah warahen bapakmu kongkon mrene”.
(jika sampai rumah, bilang bapakmu suruh kesini).

Setelah sampai dirumah beliau menceritakan kepada ayahnya apa yang telah diperintahkan oleh sang guru (Mbah KH. Munawir) kepadanya. Mbah KH. Bahruddin yang juga masih termasuk keponakan dari Mbah KH. Munawir langsung pergi ke Kertosono untuk menemui beliau, sesampainya Mbah KH. Bahruddin disana, Mbah KH. Munawir berkata kepada beliau ”anakmu soleh ojok digembol ae, culno jarno arek iku cek ngaleh” beliau menjawab ”inggih nderek aken”. Setelah perbincangan antara keduanya selesai, akhirnya Mbah KH. Bahruddin pulang, dan sesampainya dirumah beliau langsung memanggil Romo KH. Soleh Bahruddin dan memberikan sebuah wejangan akan beberapa hal yang harus beliau lakukan dalam menjalankan perintah sang guru.Dengan diiringi doa restu yang tulus, melepaskan anaknya untuk pergi berjuang menyampaikan kalam Tuhan, beliau berpesan;
  1. Kowe yen dholek panggunan kudu ora ado lan ora jedek songko pasar (Kamu kalau mencari tempat jangan yang terlalu jauh dan terlalu dekat dengan pasar)
  2. Panggunan mau ora adoh songko dalan sepur (Stasiun) (Tempat itu juga tidak jauh dari stasiun)
  3. Panggunan mau ora adoh songko ratan (Tempat itu juga tidak jauh dari jalan raya)
  4. Panggonan mau ora adoh songko banyu. (Tempat itu juga tidak jauh dari sungai)
  5. Panggunan mau seng penduduk’e isih tipis imane (Tempat yang penduduk atau warganya masih banyak yang belum beriman)
  6. Panggonan mau durung ono bangunan masjid. (Tempat itu masih belum ada masjidnya)
  7. Lan panggonan mau kudu ono pinggir tengene dalan. (dan tempat itu harus berada disebelah kanan jalan)
Belum kering rasa kegelisahan untuk mengawali perjuangan, pindah dari dekapan orang tua, jauh dari keluarga yang selalu memberikan perlindungan sesuai dengan amanah sang guru, hati danpikiran beliau tambah bergejolak rasa kebingungan sesaat setelah menerima pesan dari orang tuanya itu.
Dalam hati beliau bertanya-tanya kemana aku harus mencari tempat yang sesuai dengan petunjuk sang ayah itu.Namun dengan latar belakang ketaatan seorang anak yang selalu berbakti kepada guru dan orang tua, beliaupun tidak pikir panjang dan banyak komentar, dengan Bismillahdan percaya akan pertolongan Allah yang selalu menolong hamba-Nya, perintah itupun dilaksanakan dengan meminta restu kepada orang tuanya”Pangestunipun”,”iyo wes budalo tak pangestoni” (berangkatlah, saya restui) hanya doa itulah yang mengiringi beliau dalam menunaikan perintah sang guru dan orang tuanya.

bersambung...

Sumber : FP Komunitas Ngaji Sak Paran-Paran

Ketika mahameru didaki pemula (Sebuah Status "Opini")

EMDE Channel | 9/05/2013 09:49:00 AM | 0 komentar

Ketika mahameru didaki pemula. Akibatnya banyak kerusakan pada alam... *Sampah e cak dijupuki, ojok foto2an ae!!!  
(Sebuah Status kawan Abi Yazid Al Basthomi)


TINDAKAN NYATA MENOLONG WONG CILIK

EMDE Channel | 7/30/2009 05:06:00 PM | 0 komentar
TINDAKAN NYATA MENOLONG WONG CILIK
Di bawah ini adalah usulan-usulan dari Romo Anton Gunardi MSF dalam menolong kalangan miskin dalam menghadapi "Krisis Ekonomi Global" ini. Saya dapatkan dari email ex temen kantor yang diambil dari milis sebelah tapi rasanya kita perlu merenungkannya, terlepas kita setuju atau tidak, namun intinya kita memang perlu lebih memperhatikan orang-orang yang tidak seberuntung kita. Untuk itu saya coba posting juga di blog sederhana ini sekedar share, dan untuk sama-sama kita renungkan.

Silakan diamati :

1. Kalau beli MAJALAH, jangan beli di dalam supermarket atau toko buku. Tetapi usahakan untuk membelinya dari kios pinggir jalan atau pun di lampu merah. Sehingga uang keuntungan akan masuk ke orang kecil.
2. Kalau beli SAYUR-SAYURAN, mungkin bisa beli di tukang sayur yang lewat di rumah daripada beli di supermarket. Kebanyakan dari kita tidak ada di rumah pada saat tukang sayur lewat, tetapi bisa juga kita titipkan dengan pembantu/ tetangga. Agak lebih repot sedikit, tetapi uangnya akan masuk ke orang kecil.
3. Ada baiknya secara berkala, misalnya satu bulan sekali, kita panggil tukang NASI GORENG/ TUKANG SATE/ MIE TEK2 yang lewat di depan rumah. Walaupun kita tidak terlalu ingin makan nasi goreng atau sate, tetapi bolehlah sekali-sekali membeli dagangan mereka. Uangnya akan membantu orang kecil juga.
4. Sering kita berjalan-jalan dan mendapati beberapa orang berjualan KUE, misalnya kue Pancong, kue Odading, Suabi, Apem, dsb. Belilah.Untuk kita uangnya tidak seberapa, tetapi untuk mereka akan sangat berguna bagi org kecil. Tentu saja jangan keseringan, karena nanti kita juga bosan.
6. Untuk yang Anak Laki2 -- mungkin jika tidak terlalu pusing sama model rambut, ada baiknya mulai POTONG RAMBUT di Barbershop ketimbang di salon. Lumayan bisa menolong mereka.
7. Kalo mo service Motor; AC, dsb. ke BENGKEL, mendingan nggak ke Dealer tapi ke bengkel umum / biasa, jadi dapat membantu usaha orang kecil.
8. Sebulan sekali gaji yang kita peroleh bisa kita sisihkan ke YATIM atau JANDA janda tua atau orang yang berhak / yang membutuhkan. Hal ini sangat membantu kaum miskin / duafa. Disamping itu kita juga akan mendapat pahala atas kebaikan kita tersebut.
9. Bagi yang punya MOBIL ada baiknya kita sewaktu-waktu naik angkutan umum seperti bus, mikrolet, bajai dan becak, buat nambah penghasilan mereka.
10. Bagi yg punya dana berlebih, bisa juga membuka usaha kecil2an seperti WARUNG rokok, kios pulsa, jual gorengan, dll. untuk membantu anggota keluarga ataupun teman sekampung yang menganggur. Ini akan sangat membantu mengurangi pengangguran di negara kita.

Kalau pembaca di dalam blog ini ada 30 orang, rasanya uang yang turun ke bawah cukup lumayan. Jika kita beli nasi goreng seharga 4000 rupiah satu kali sebulan, maka uang yang kita "berikan" ke orang kecil sudah mencapai 120 ribu sebulan, itu hanya dari urusan nasi goreng.
Jadi rasanya kalau kita membiasakan diri untuk melakukan ini, maka mudah-mudahan secara perlahan kita bisa menyeimbangkan distribusi uang ke bawah.
Apalagi jika anda mau meneruskan usul ini. Atau jika itu terlalu muluk, paling tidak kita sudah memainkan peran kita untuk menolong CASH FLOW pedagang yang mewakili orang kecil ini.

Aku Bingung......

EMDE Channel | 11/12/2008 07:46:00 PM | 0 komentar
Aku bingung neh...Setiap kali ada pertanyaan dari temen2.... Mas.. Sudah update blog belummm??? mas Blognya udah di update belum, ada postingan baru gak?
Aduh... aku harus posting apa ya...? apalagi si Nduth... yang rajin nginceng meski via HP (sempet2nya sms, Sam... wis update blog durung...??) Si D1era Semarang yang sempat merinding ketika membaca postingan "Adakah yang mendoakan Kita?? dan jadi berhati2 dalam mengkonsumsi makanan setelah baca artikel tentang kangker hati wew.....
Ya.. terimakasih buat temen2 yang sudah setia mengunjungi blog ini dengan segala komentarnya... (eh, sekarang bukan seperti blog lagi kan...? www.djerugangsiji.co.cc yahhh gak jauh dan memang gak beda dari konten aslinya yang berawal dari Blogger... cuma katanya itu pengalihan url aja.

So, apa lagi neh...??? ada banyak sih artikel kalo mau kopas (kopi paste) tapi, seperti yang pernah saya baca diblognya orang2 /blogger senior katanya sih kurang etis.... ya, meski ada yang mengijinkan dengan syarat menyertakan penulis aslinya atau sumber dari tulisan itu.

ada niatan ganti tampilan template, udah browsing buanyak sample template... eh belum ada yang pas juga...
Jadi ya.... masih ini...dan begini aja jadinya...

Kali ini lagi malas aja, jadi gak sempat posting yang baru. abis kerjaan juga gak ada habisnya. kalo cuma nulis kisah /pengalam pribadi, katanya itu ego sendiri aja... (alahhh opo iki...) kalo mau nulis yang lain, ya nulis apa.... (aku memang bukan penulis jie.....)
Oalah, yo wis lah... kembali ke prinsipku waktu masih bujang dulu "HIDUP APA ADANYA, MESKI BUKAN BERARTI TANPA USAHA...." WEE.....

Sahabat....

EMDE Channel | 11/11/2008 10:16:00 AM | 0 komentar
Sedikit meneruskan pesan dari sahabat, tentang SAHABAT

Sahabatku……… Seberat Apapun Masalahmu Sekelam Apapun Beban Hidupmu Jangan Pernah Berlari Darinya Ataupun Bersembunyi Agar Kau Tak Akan Bertemu Dengannya Atau Agar Kau Bisa Menghindar Darinya Karena Sahabat….. Seberapa Jauhpun Kau Berlari Dan Sedalam Apapun Kau Bersembunyi Dia Pasti Akan Menemuimu Dalam Sebuah Episode Kehidupanmu. Sahabatku…… Alangkah Indahnya Bila Kau Temui ia Dgn Dada Yg Lapang Persilahkan ia Masuk Dalam Bersihnya Rumah Hati Dan Mengkilapnya Lantai Nuranimu Hadapi ia Dengan Senyum Seterang Mentari Pagi Ajak ia Untuk Menikmati Hangatnya Teh Kesabaran Ditambah Sedikit Penganan Keteguhan Sahabat……. Dengan Begitu Sepulangnya ia Dari Rumahmu Akan Kau Dapati Dirimu Menjadi Sosok Yg Tegar...

Jakarta, 11 Nopember 2008 dari sahabat YM s4st1ny@yahoo.com
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Griya Maya Rog Rog Asem - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger