BAHWASANNYA

Adanya "ADA" itu "ADA",Tidak adanya "ADA" itu "ADA".Adanya "Tidak Ada" itu "ADA",Tidak Adanya "Tidak Ada" itu "ADA"....
"Huwalloh, Robby...Wa Robbukum...Dialah Allah, Tuhanku dan Tuhan Kalian"

Tampilkan postingan dengan label hiburan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hiburan. Tampilkan semua postingan

'Raya', Album Terbaru Iwan Fals

EMDE Channel | 6/26/2013 05:00:00 PM | 0 komentar
Album terbaru Iwan Fals yang diambil dari anak ketiganya, "Raya", dirilis  25 Juni 2013. Untuk mengeluarkan almbum baru tersebut, pemilik nama asli Virgiawan Listianto Virgiawan Listianto itu mengatakan, dirinya harus menunggu selama sepuluh tahun.  Alasannya,  ia ingin Raya sendiri yang mengizinkan sang ayah untuk menggunakan namanya pada satu lagu dan album terbaru ini. "Pada saat saya bicara pada Raya dan dia bilang boleh, ya sudah akhirnya dibuatlah album ini," kata Iwan di Jakarta.

Keputusan pengambilan judul album ini selain meminta izin pemilik nama juga dibahas melalui keputusan bersama sang istri selaku manager dan puterinya, Cikal.

Lagu berjudul "Raya" ini, bercerita tentang kelahiran anak ketiga Iwan. Secara garis besar musiknya mirip dengan lagu "Galang Rambu Anarki", lagu yang sempat dibuat untuk sang putera sulungnya yang telah tiada.

Berikut petikan lirik pada bait pertama dalam lagu Raya:

22 januari dua ribu tiga
Raya Rambu Rabbani anak yang ketiga
Tanggal dan bulan sakti janjian kita
Entah kenapa Januari jadi cerita
Mas Galang dan mbak Cikal lahir januari juga
Padahal papa-mamamu virgo dan libra

Selain bercerita tentang kelahiran dan kebetulan-kebetulan bulan kelahiran dengan ketiga kakaknya, dalam lagu ini pun Iwan taklupa menyisipkan pesan dan harapan bagi si bungsu yang baru berusia 10 tahun.

22 Januari rayalah rabbani
Rambu-rambu dunia juga surgawi
Kau datang tak terduga menjadi tenaga
Di hidup sementara yang penuh mantra

Sumber :
Foto :

Redupnya Pamor Sang Aquarius

EMDE Channel | 8/30/2010 04:14:00 PM | 0 komentar
Toko Kaset Gulung Tikar

Jika anda pergi ke toko kaset Aquarius dan toko kaset besar lain di Jakarta, nuansanya adalah obral besar dan cuci gudang. Toko kaset, meskipun sekaliber Aquarius kini berhadapan dengan kemungkinan gulung tikar. Selera masyarakat untuk menikmati musik, dinilai sudah beralih dari kaset konvensional.

Sejumlah pengunjung pun hanya puas melihat-lihat beberapa rak kaset di pojokan Toko Aquarius, Jalan Mahakam, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Beberapa terlihat kecewa, begitu melihat rak-rak kaset musik dalam negeri dan mancanegara hanya berisi kaset-kaset dari penyanyi lama. Tak ada kaset produk penyanyi baru yang dipajang di sana. Bahkan sebagian rak dibiarkan kosong dan malah diisi Compact Disc (CD) atau DVD.

"Cari apa, Mas?" tanya salah seorang karyawan Toko Kaset dan CD Aquarius di Jalan Mahakam, Kebayoran, Jakarta Selatan, Kamis (26/8/2010) sore. "Kaset Astrid ada? Kok sudah jarang koleksi kaset di sini," tanya detikcom kepada karyawan tersebut.

Sang karyawan pun menjelaskan, memang sudah agak lama penjualan kaset di tokonya sudah mulai berkurang. "Sudah jarang, Pak sekarang kita jual kaset. Sekarang banyak lebih ke CD atau DVD saja. Album Astrid yang ada juga CD saja," jelasnya.

Ia menambahkan, toko kaset Aquarius di Pondok Indah pun sekarang rencananya akan ditutup, makanya sekarang sedang diskon besar-besaran semua produk kaset, CD dan DVD. Ia juga menambahkan, kaset saat ini agak kurang diminati masyarakat karena beralih ke CD dan DVD. Selain itu, orang juga bisa dengan mudah mendownload lagu yang dia gemari dari berbagai situs internet, dan menyimpannya file di flashdisk.

Suasana masih agak mendingan di Toko Kaset Duta Suara di Jalan Sabang, Jakarta Pusat. Walaupun juga tampak sepi, terlihat penjualan kaset masih normal. Rak-rak penjualan kaset yang berada di lantai tiga toko itu masih terisi, baik album musik Indonesia, Barat, Mandarin dan lainnya. Sedangkan untuk CD dan DVD berada di lantai satu dan dua. Karyawan mengakui, jumlah pembeli juga turun.

"Kalau kaset kita masih terus jual. Masih banyak yang cari kaset, walau memang saat ini banyak berkurang peminatnya. Tapi pasti ada yang cari juga," jelas salah seorang karyawannya.

Duta Suara memang sangat terkenal sebagai toko kaset sejak lama di Jakarta. Bahkan, untuk album tempo dulu atau jadul pun masih lengkap di jual di sini. "Nah, itu salah satu keunggulan kita. Memang kita koleksi kaset-kaset lama juga, yang jadul banyak di sini," jelasnya lagi.

Sebenarnya, penutupan toko kaset dan CD terbesar yang dikelola PT Aquarius Musikindo ini mengejutkan masyarakat. Ritel kaset dan CD Aquarius terbesar di Pondok Indah yang dibangun sejak tahun 1995 silam ini, yang dulu tak pernah sepi pengunjung, akhirnya menyerah akibat menurunnya penjualan kasetnya.

Menurut pengamat musik Bens Leo, penurunan penjualan kaset dan CD ini mulai terasa sejak lima tahun silam, tapi puncaknya baru dua tahun belakangan ini. "Makanya, untuk tahun 2007, karena adanya penurunan drastis itu diputuskan penggunaan label rekaman menggunakan platinum, sekarang lebih pada penggunaan digital," ungkap Bens Leo yang dihubungi detikcom beberapa waktu lalu.

Bens juga mengakui penutupan ritel kaset dan CD Aquarius. Bahkan menurutnya, perusahaan itu terpaksa harus merumahkan sejumlah karyawannya. Namun, Bens juga menjelaskan, penurunan penjualan kaset dan CD ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja, tapi di seluruh dunia. Makanya, perusahaan rekaman dunia seperti BMG dan Sonny melebur menjadi satu.

Bens menjelaskan, penjualan kaset untuk tahun 2009 tercatat sekitar 15 juta keping. Bandingkan dengan penjualan kaset di era tahun 1982-1989 yang bisa mencapai 80 juta keping. "Bayangkan penurunan yang drastis antara tahun 1982 hingga tahun 1990-an. Tahun 2004 penjualan kaset masih diuntungkan dengan penjualan kaset Peterpan yang mencapai 2 juta keping, juga album Zamrud yang juga mencapai 2 juta keping. Sekarang tidak ada yang pernah mencapai angka itu, pada tahun 2005 turun lagi," jelasnya.

Salah satu terobosan baru penjualan pun dilakukan melalui kerjasama dengan sejumlah perusahan telekomunikasi dan perusahaan seluler. Kerjasama ini melalui layanan Ring Back Tone (RBT), sehingga bisa mencakup ratusan hingga ribuan lagu. Lagu populer, walaupun sepenggal, bisa dinikmati di ponsel ketika kita menelepon seseorang. Tidak hanya itu, artis maupun pemusiknya pun tetap mendapatkan hak royalti.

Bens juga mengatakan, di Indonesia penggunaan kaset dan CD masih sangat penting keberadaannya. Karena pada kenyataannya, artis, penyanyi atau pemusik masih menggantungkan keberadaan kaset atau CD sebegai wujud dari apresiasi mereka terhadap karyanya. "Masyarakat juga akan tanya, kok ada lagunya, tapi mana kaset dan CD-nya? Kan RBT hanya lewat handphone saja. Oleh karena itu sebagai bentuk apresiasi, keberadaan kaset atau CD seharusnya tetap dipertahankan," tegasnya.

Terobosan lainnya, lanjut Bens, saat ini banyak album baik kaset dan CD yang dijual di hipermarket. "Harapan kita ke depan ada terobosan yang terus dikembangkan, karena masih banyak kaset dan CD yang dibutuhkan orang. Cuma terus terang, dari 15 juta keping kaset yang terjual tahun lalu, hampir 80 persen cukai tertinggi justru 80 persen album Indonesia, sisanya lagu barat. Bayangkan kalau ini semakin menghilang," pungkasnya. (zal/fay)

Sumber :

'KANTATA TAKWA' Ikut Bersaing di Festival Film Brisbane

EMDE Channel | 7/28/2009 10:15:00 AM | 0 komentar
KANTATA TAKWA menjadi satu-satunya film karya sineas Indonesia yang ikut memeriahkan Festival Film Internasional Brisbane (BIFF) yang akan berlangsung selama 11 hari mulai Kamis (30/7).
Informasi yang dihimpun ANTARA di Brisbane, Senin (27/7), menyebutkan, film Indonesia yang dirilis tahun 2008 itu akan diputar dua kali, yakni pada 4 dan 9 Agustus. Film semidokumenter yang antara lain dibintangi W.S Rendra, Iwan Fals, Sawong Jabo, Setiawan Djody, dan Clara Sinta itu menyuarakan protes terhadap rezim represif Orde Baru.

BIFF 2009 yang acara pembukaannya akan dilangsungkan di Sinema Regent Brisbane pada 30 Juli malam itu dimeriahkan puluhan film dari 48 negara. Tuan rumah Australia menyuguhkan 37 film dalam festival film yang sudah digelar sejak 1992 dan menyedot sedikitnya 350 ribu pencinta film di negara itu.

Di antara film-film Australia yang diputar selama BIFF itu adalah AUNTY MAGGIE AND THE WOMBA WAKGUN, BALIBO, BOURKE BOY, CHAINSAW, DANCE OF DEATH, DARRA DOGS, dan DREAMLAND.

BIFF 2009 juga menyuguhkan film-film dari 44 negara lainnya, seperti Belanda, Jepang, Kazakhstan, Jerman, Uruguay, Amerika Serikat, Swedia, Norwegia, dan Inggris. Pada Juli dan Agustus 2009 ini, selain menyelenggarakan BIFF, Australia juga menggelar Festival Film Internasional Melbourne (MIFF).

Seperti halnya di BIFF, film Indonesia juga ikut memeriahkan MIFF. Di festival film Melbourne yang berlangsung dari 24 Juli hingga 9 Agustus itu, Indonesia mengikutsertakan tiga film, yakni BABI BUTA YANG INGIN TERBANG, RUMAH GILA, dan JERMAL.

Di dua festival film internasional itu, panitia juga menyuguhkan film BALIBO karya Sutradara Robert Connolly yang mengangkat kisah kematian lima orang jurnalis asal Australia di Timor Timur tahun 1975. (kpl/bun)

Sumber : Kapanlagi.com - Selasa, Juli 28

Iwan Fals Rindukan Indonesia Yang 'Original'

EMDE Channel | 7/28/2009 09:42:00 AM | 0 komentar
Iwan Fals rupanya memendam kerinduan untuk berkumpul dengan para budayawan, setelah cukup lama ia tak lagi mengangkat tema-tema sosial dalam lagu-lagunya. Musisi bernama asli Virgiawan Listianto pada era keemasannya terkenal lantang menyerukan berbagai ketimpangan sosial - politik melalui musik dan sempat kena 'cekal' oleh pemerintah yang berkuasa saat itu.

Ditemui di acara Mufakat Kebudayaan di Tea Addict, Jl. Gunawarman, Jakarta Selatan, Minggu (26/7), Iwan mengatakan bahwa politik dan musik sebenarnya tak bisa selalu berjalan seiring.

"Kalau politik berurusan dengan strategi yang mengatasnamakan kesejahteraan, ada menang kalah. Tapi kalau saya menyanyi, saya enggak ngurusin menang atau kalah, paling hanya berfikir laku atau tidak. Saya melihat masyarakat sekarang sudah pintar, mereka sudah terbiasa dengan menang atau kalah, sportifitas," papar Iwan pada KapanLagi.com.

Lalu, apa harapannya untuk kebudayaan Indonesia di masa yang akan datang?

"Saya merindukan Indonesia yang original, saya maunya damai terus. Kalau kita orang Indonesia, harus hargai berbagai budaya yang ada," tegasnya. (kpl/buj/bun)

Sumber : Kapanlagi.com (Senin, 27 Juli 2009 23:15)

Sawung Jabo Teriak Juancuook

EMDE Channel | 4/03/2009 11:06:00 AM | 0 komentar
Sawung Jabo merasa tertohok, sekaligus terangsang oleh keadaan musik dan kondisi Indonesia pada umumnya. Maka, setelah lama tak muncul, kini dia siap menggebrak belantika musik Indonesia lagi lewat album terbarunya.

Dia lantunkan "Karena Kau Bunda Kami", "Gumam Batin Pengembara", "Kesaksian Jalanan", "Jamrud Katulistiwa", "Serigala Sakit Jiwa", "Sang Rajawali", "Arek-arek Indonesia", sampai teriak "Juancuook...."

Itu sebagian dari lagu-lagu Jabo yang siap masuk dapur rekaman, mulai Februari ini. Rencananya, Jabo akan memulai merekam lagu-lagunya di Studio Kua Etnika milik Jadug Ferianto, Yogyakarta, mulai 7 Februari.

Ini teriakan keprihatinannya, juga rekannya Hengky Kurniadi yang sekaligus sebagai produser, atas keadaan musik dan Indonesia pada umumnya. Untuk "meneriakkan" isi hatinya, dia menggandeng 23 musisi muda. Empat musisi dari Surabaya, 11 dari Solo, dan 8 dari Yogyakarta.

"Mereka punya latar belakang musik etnis sendiri-sendiri yang khas. Ini justru lebih memperkaya. Nanti, jenis musiknya tribal rock percussion. Ini sekaligus mengembangkan musik lokal. Siapa lagi kalau bukan kita yang memelihara dan mengembangkan. Sudah banyak karya bangsa ini yang diambil orang lain," jelas Jabo, kala ditemui Kompas.com, di Joglo Jago (Jabo Gono) di kawasan Wirosaban, Yogyakarta.

Rencananya, Jabo akan mengusung 10 lagu. Tiga lagu di antaranya karangan lama, seperti "Karena Kau Bunda Kami" (1995), "Dongeng Politik" (1996), dan "Bianglala Jiwa" (2007). Tiga lagu lagi syairnya ditulis Hengky Kurniadi, yakni "Gumam Batin Pengembara", "Sang Rajawali", dan "Jamrud Katulistiwa".

Jabo mengaku memang lama tak membuat album. Terakhir, dia membuat "Memasuki Lorong Sunyi" pada 2003. Itu album tentang pengakuan diri dan panggilan hati. Namun, sebenarnya dia terus berkesenian baik di Indonesia maupun di Australia.

Kenapa tiba-tiba dia membuat album lagi? "Aku prihatin dengan keadaan musik Indonesia, juga negeri ini. Mosok, keadaan negeri memprihatinkan begini, musik kita tak bereaksi. Aku tak mengutuk musik industri. Tapi, sebagai tanggung jawab seniman, harusnya ada porsi untuk menyikapi keadaan," katanya.

"Yang aku prihatinkan, rakyat begitu terkotak-kotak. Rakyat seperti sapi perah para wakil rakyat atau partai politik. Saya tak yakin, partai-partai yang ada sekarang punya program yang jelas atau memenuhi harapan rakyat," keluhnya.

"Yang ada sekarang bagaimana cara berkuasa. Setelah itu, bagaimana agar berkuasa lebih lama. Ini politik kekuasaan yang sedang dominan. Terbukti, partai-partai tak menyejahterakan rakyat," tambahnya.

Karena musik Indonesia asyik dengan industri dan budaya selebritisnya, Jabo ingin bereaksi terhadap keadaan dengan musiknya. Maka, albumnya nanti tak dijual, melainkan dibagi-bagi. Sehingga, semua orang bisa memilikinya dengan mudah, tanpa mengeluarkan uang.

"Kebetulan aku bertemu dengan Hengky. Terus, kami sepakat untuk melihat dan mereaksi keadaan Indonesia dari kacamata orang Surabaya atau Jawa Timur," jelas Jabo.

Salah satu lagu Jabo dia beri judul "Juancuook Iku Sakti". Kata jancuk memang khas Jawa Timur untuk mengekspresikan banyak hal, keprihatinan, kekagetan, kegelisahan, kekecewaan, keheranan, dan sebagainya. Dengan kata itu pula, dalam salah satu lagunya, Jabo ingin berteriak. Sebab, katanya, "juancuook" itu memang satu kata, tapi jutaan maknanya.

Tangi turu moco koran. Beritane gak karuan. Wong korupsi dadi menteri. Pringas-pringis nang televisi.....Wis tobato, ojok korupsi. Nek gak mandeg tak pisuhi, juancuooooook....juancuooooook.

Demikian salah satu nukilan lagu Jabo berjudul "Juancuook Iku Sakti". Artinya kurang lebih, "Bangun tidur baca koran, beritanya tak karuan. Orang korupsi malah jadi menteri, senyam-senyum di televisi. Sudah, tobat saja. Kalau tidak berhenti, akan kuumpat juancuooooook....juancuooooook!"

Tentang album, temanya masih dicari. "Mungkin juga pakai tema juancuook itu. Tapi, masih dipikir. Yang pasti, diusahakan Maret sudah mulai dirilis," katanya. (HPR)

Sumber : kompas.com
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Griya Maya Rog Rog Asem - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger