BAHWASANNYA

Adanya "ADA" itu "ADA",Tidak adanya "ADA" itu "ADA".Adanya "Tidak Ada" itu "ADA",Tidak Adanya "Tidak Ada" itu "ADA"....
"Huwalloh, Robby...Wa Robbukum...Dialah Allah, Tuhanku dan Tuhan Kalian"

Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Apakah Gus Dur Sengaja Mencari Celaan?

EMDE Channel | 9/17/2013 06:39:00 PM | 0 komentar
 
Jakarta, NU Online
Gus Dur tokoh yang kontraversial, banyak pendukung dan pemujanya, tetapi disisi lain, banyak orang yang mencaci dirinya. Toh ia santai saja atas sikap kelompok tersebut.

Banyak perilakunya yang diluar standar normal. Yang paling terkenal diantaranya ketika ia menyebut “DPR seperti anak TK“ yang masih sering dikutip sampai sekarang, dan hanya memakai celana pendek ketika keluar dari istana saat digulingkan dari jabatannya sebagai presiden. Banyak orang memandangnya dengan sinis, “presiden kok begitu.“

Jangan-jangan ia sengaja mencari celaan dan hinaan dari publik, agar hatinya selalu dekat dengan Allah? Dalam sufi, terdapat aliran Malamatiyah, yaitu kelompok sufi yang sengaja menghinakan dirinya. Ketika orang memuji dan mengkultuskannya, ia akan melakukan tindakan kontraversial agar dicaci publik untuk menghindari penyakit hati seperti riya’ (ingin dilihat baik), ujb (kagum dengan diri sendiri) dan nifaq (munafik/penampilan lahir lebih baik dari batin). Semua penyakit hati ini bisa menjauhkan hati seorang sufi kepada Allah.

“Saya ngak mau kurang ajar untuk ngrasani Gus Dur. Banyak orang yang lebih nyeleneh daripada Gus Dur dalam kewalian,“ kata ulama Betawi KH Saifuddin Amsir.

Orang seperti itu, kata rais syuriyah PBNU ini, mencari celaan dan orang lain dalam upaya melatih hati untuk meningkatkan kualitas hubungan dengan Allah. Pada titik tertentu, mereka sampai merasa, dirinya lebih hina daripada orang lain, bahkan binatang sekalipun.

Namun, aliran ini berbahaya jika salah memahaminya. Banyak orang yang ingin masuk kelompok ini dan melakukan maksiat yang berlebihan, tetapi terjebak disitu, tidak bisa membedakan antara mencari kemuliaan dan pemuja syahwat.

“Jadi kata malamatiyah, yaitu orang yang menisbahkan diri kepada malamah, kehinaan, cercaan. Itu yang dia cari.”

Di Jakarta, ia mengenal sosok seperti itu, dalam kehidupan sehari-hari, banyak perilakunya yang kelihatannya tidak pantas dilakukan oleh seorang tokoh agama, sehingga ia banyak diejek. Tetapi di sisi lain, sikapnya sangat baik kepada masyarakat.

Suatu hari “sufi” tersebut dengan kasar meminta hampir semua uang yang dimiliki oleh pejabat yang dengan sangat terpaksa memberikan apa yang dimiliki, meskipun dalam hati menjerit, karena harta yang dikumpulkan dengan susah payah tersebut diminta, apalagi dengan cara kasar.
Begitu mendapat uang tersebut, ia pergi ke rumah janda-janda yang membutuhkan sampai semua uang tersebut habis. Pulang ke rumah, orang tersebut masih diomeli sama istrinya, “setan loe, pulang-pulang ngak bawa uang.”

Disisi lain, pejabat yang dimintai uang tersebut mendapat ganti yang luar biasa besarnya. Peristiwa tersebut berulang kali terjadi pada orang tersebut, meminta uang kepada seseorang, kemudian ternyata tak lama kemudian, yang dimintai mendapat ganti yang lebih banyak.

“Pada puncak ia dihina habis, sampai merasa dia bukan apa-apa, kayak debu di atas meja, baru ada keberhasilan dia sebagai orang yang menjalani malamatiyah, ini sangat berat. Ini menghindari rasa riya, sombong, dan sifat hati jelek lainnya. Semuanya dipangkas habis. Ini sifat dasar manusia.”

Perilaku seperti ini tentu berbeda dengan kecenderungan manusia sekarang yang berusaha menampilkan kemegahan, citra semu agar dianggap kaya, keren atau berkuasa agar orang lain takut dan segan kepadanya.

Idiom yang sangat terkenal tentang kewalian adalah Laa yakriful wali illal wali yang artinya, tidak tahu seseorang itu wali kecuali juga wali. Ia menjelaskan, mereka merupakan sebuah komunitas khusus, yang saling kenal dan berkomunikasi karena memiliki kualitas yang sama. “Kalau anda kenal, berarti memiliki kualitas yang sama. Mereka tidak memiliki rasa takut dan sedih, semuanya diserahkan kepada Allah.”

Kiai Saifuddin menuturkan, sufi merupakan orang yang menghargai semua makhluk hidup, termasuk binatang. Di Jakarta, tahun 1940-an, terdapat sufi yang dikenal dengan mana Guru Kholid Gondangdia. Ia berkawan dengan KH Hasyim Asy’ari.

Ia pernah mengembalikan seekor semut rang-rang ke Cilebut, daerah dekat Bogor, tempat ia mengajar ketika pulang lewat kebun rambutan, semut tersebut menempel di jubahnya. Ia balik lagi ke kebun tersebut dan menaruh kembali semut rang-rang di pohon rambutan.

“Kalau kita sekarang, buang saja, banyak pohon rambutan di Jakarta, kan selesai. Ini sikap Guru Kholid, akan kasih sayangnya pada binatang.”(mukafi niam)

Sumber :nu.or.id

KH. SOLEH BAHRUDIN KALAM & NGALAH

EMDE Channel | 9/06/2013 06:45:00 PM | 0 komentar
Setelah beliau menikah pada tahun 1975 diusianya yang ke 22, beliau tidak lantas mengaktualisasikan ilmunya ditengah-tengah kehidupan yang lebih nyata, mengasingkan diri dari dekapan kedua orang tuanya dan hijrah untuk berjuang menyebarkan syariat Islam dipergumulan orang-orang yang masih membutuhkan media untuk mentransfer hidayah Tuhan masuk kedalam hati sanubari mereka, merubah kultur budaya masyarakat yang jauh dari tuntunan syariat.

Beliau yang sudah menikah mulai berfikir akan perekonomian keluarga yang dibinahnya, bergeraklah beliau untuk membuka usaha untuk menopang ekonomi keluarga dirumahnya, dengan modal yang sedikit beliau mencoba keberuntungannya untuk berdagang berbagai macam kebutuhan bangunan, dimulailah perdagangan itu dengan menyediakan batu kapur dan sedikit kayuglugu. Namun Tuhan berkata lain dan menurunkan ujian kepada beliau dengan diberi kesuksesan dan keberhasilan dalam usaha beliau, sehingga dengan waktu yang cukup singkat beliau mampu mengembangkan usahanya dan mendapatkan keuntungan yang melimpah. Pada dasarnya keuntungan dan keberhasilan dalam berdagang selalu beliau harapkan dan itu semua tentu saja menjadi harapan semua orang apalagi orang tua yang biasanya bahagia melihat kesuksesan anaknya. Namun berbeda dengan beliau dan kedua orang tuanya, beliau justru melihat semua itu merupakan ujian dari Allah SWT yang bisa membuat beliau melupakan tanggung jawab dan kewajibannya untuk mendampingi dan membantu orang tua beliau dalam mengajar dan mendidik para santri di pesantren ayahnya. Dengan kesibukan beliau akan pencarian dan penerimaan karunia Tuhan itu, suatu ketika beliau meninggalkan kewajibannya untuk mengajar dan mendidik santri ayahnya, seketika itu beliau dipanggil oleh ayahnya dan ditegur dengan nada penuh dengan kemarahan. Ayah beliau bertanya”teko endi koen kok gak ngajar mangko” (dari mana kamu? kok ndak ngajar tadi?) beliau menjawab dengan sopan”ndugi kilaan pak”mendengar jawaban sang putra Mbah Kyai Bahruddin Kalam atau ayah beliau langsung memarahi beliau”terusno.... tak obong tokomu” (teruskan ! saya bakar tokomu) , sungguh tauladan yang perlu kita petik hikmahnya, dimana kepentingan akhirat harus didahulukan dari pada kepentingan dunia, dan kepentingan orang lain lebih diutamakan dari pada kepentingan pribadi.

Hari demi hari beliau merasa gunda mendengar perkataan orang tuanya. Bagaimana tidak keberhasilan yang selalu diharapkan ternyata tidak bisa membuat orang tua beliau senang melihatnya, tapi justru membuat sedih dan marah. Itulah kesedihan beliau yang mendalam. Namun bagaimanapun juga beliau adalah hamba Tuhan yang selalu diberi petunjuk, sehingga pada akhirnya beliau menyadari bahwa dalam menjalani kehidupan ini tidak ada ujian dan cobaan yang berat untuk taat kepada kedua orang tua dan kepada Tuhannya selain ujian dan cobaan yang bersifat kenikmatan dan kesenangan. Dengan kenikamatan dan kesenangan orang akan lupa kepada perintah Tuhan dan bisa membuat dirinya berlaku sombong dan menghilangkan kepatuhan kepada kedua orang tuanya.

Disaat kebingungan menyelimuti alam pikiran beliau, terbersitlah hidayah Tuhan, sehingga beliau memutuskan untuk mencari sebuah ketenangan batin yang lebih hakiki, pergilah beliau untuk”manjing suluk”menuntaskan ilmu thoriqohnya pada Mbah KH. Munawir Kertosono, tepatnya pada tahun 1984 M, setelah”manjing suluk”selesai akhirnya beliau mendapatkan mandataris kemursyitan sebagai guru thoriqoh Naqsyabandiyah, Qodiriyah, kholidiyah, walmujadadiyah.Kesempurnaan beliau sebagai guru thoriqoh membuat hati sang guru yaitu Mbah KH. Munawir menguji akan kesetiaan beliau sebagai seorang murid, dipanggilah beliau oleh Mbah KH Munawir dan beliau diberi amanah yang cukup bertentangan dengan nafsu duniawi, dimana pada saat itu perekonomian keluarga beliau sudah mulai terbangun, tiba-tiba sang guru menyuruh beliau untuk meninggalkan semuanya; berkatalah sang guru “Koen iku anak barep, ojo gembol uwong tuwomu, dulurmu sek akeh, sak aken adik-adikmu kate manggon nangdi, wong tanahe bapakmu yo mek sak munu (kamu itu anak pertama, jangan bergantung pada orang tuamu, saudaramu banyak, kasihan adik-adikmu, mau bertempat dimana? lha tanah orang tuamu cuma segitu), beliau menjawab dospundi kale bapak? (bagaimana dengan bapak saya?) Sang guru menegur”uwong tuwomu opo jare aku, kuwe gelem tak toto leh? (orangtuamu itu urusanku, kamu mau saya tata?) ”beliau menjawab”inggih”sang guru mengatakan”kuwe nek gelem Ngalah barokah..!!” (kamu kalau mau mengalah..akan barokah). beliau menjawab lagi dengan kepatuhan”inggih”, dari situlah muncul sebuah doa yang terucap dari sang guru”Ngalah barokah,...Ngalah barokah,... Ngalah barokah” (mengalah.. barokah) .Tidak lama kemudian beliau minta izin pulang kerumah ayahnya, dan Mbah KH. Munawir berpesan”nek wes tutuk omah warahen bapakmu kongkon mrene”.
(jika sampai rumah, bilang bapakmu suruh kesini).

Setelah sampai dirumah beliau menceritakan kepada ayahnya apa yang telah diperintahkan oleh sang guru (Mbah KH. Munawir) kepadanya. Mbah KH. Bahruddin yang juga masih termasuk keponakan dari Mbah KH. Munawir langsung pergi ke Kertosono untuk menemui beliau, sesampainya Mbah KH. Bahruddin disana, Mbah KH. Munawir berkata kepada beliau ”anakmu soleh ojok digembol ae, culno jarno arek iku cek ngaleh” beliau menjawab ”inggih nderek aken”. Setelah perbincangan antara keduanya selesai, akhirnya Mbah KH. Bahruddin pulang, dan sesampainya dirumah beliau langsung memanggil Romo KH. Soleh Bahruddin dan memberikan sebuah wejangan akan beberapa hal yang harus beliau lakukan dalam menjalankan perintah sang guru.Dengan diiringi doa restu yang tulus, melepaskan anaknya untuk pergi berjuang menyampaikan kalam Tuhan, beliau berpesan;
  1. Kowe yen dholek panggunan kudu ora ado lan ora jedek songko pasar (Kamu kalau mencari tempat jangan yang terlalu jauh dan terlalu dekat dengan pasar)
  2. Panggunan mau ora adoh songko dalan sepur (Stasiun) (Tempat itu juga tidak jauh dari stasiun)
  3. Panggunan mau ora adoh songko ratan (Tempat itu juga tidak jauh dari jalan raya)
  4. Panggonan mau ora adoh songko banyu. (Tempat itu juga tidak jauh dari sungai)
  5. Panggunan mau seng penduduk’e isih tipis imane (Tempat yang penduduk atau warganya masih banyak yang belum beriman)
  6. Panggonan mau durung ono bangunan masjid. (Tempat itu masih belum ada masjidnya)
  7. Lan panggonan mau kudu ono pinggir tengene dalan. (dan tempat itu harus berada disebelah kanan jalan)
Belum kering rasa kegelisahan untuk mengawali perjuangan, pindah dari dekapan orang tua, jauh dari keluarga yang selalu memberikan perlindungan sesuai dengan amanah sang guru, hati danpikiran beliau tambah bergejolak rasa kebingungan sesaat setelah menerima pesan dari orang tuanya itu.
Dalam hati beliau bertanya-tanya kemana aku harus mencari tempat yang sesuai dengan petunjuk sang ayah itu.Namun dengan latar belakang ketaatan seorang anak yang selalu berbakti kepada guru dan orang tua, beliaupun tidak pikir panjang dan banyak komentar, dengan Bismillahdan percaya akan pertolongan Allah yang selalu menolong hamba-Nya, perintah itupun dilaksanakan dengan meminta restu kepada orang tuanya”Pangestunipun”,”iyo wes budalo tak pangestoni” (berangkatlah, saya restui) hanya doa itulah yang mengiringi beliau dalam menunaikan perintah sang guru dan orang tuanya.

bersambung...

Sumber : FP Komunitas Ngaji Sak Paran-Paran

Mitos asal muasal larangan menikah Sunda-Jawa

EMDE Channel | 10/31/2012 09:57:00 PM | 0 komentar
Foto Illustrasi
Pernahkah anda mendengar bahwa orang Sunda dilarang menikah dengan orang Jawa atau sebaliknya? Ternyata hal itu hingga ini masih dipercaya oleh sebagian masyarakat kita. Lalu apa sebabnya?

Mitos tersebut hingga kini masih dipegang teguh beberapa gelintir orang. Tidak bahagia, melarat, tidak langgeng dan hal yang tidak baik bakal menimpa orang yang melanggar mitos tersebut.

Lalu mengapa orang Sunda dan Jawa dilarang menikah dan membina rumah tangga. Tidak ada literatur yang menuliskan tentang asal muasal mitos larang perkawinan itu. Namun mitos itu diduga akibat dari tragedi perang Bubat.

Peristiwa Perang Bubat diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk yang ingin memperistri putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Negeri Sunda. Konon ketertarikan Hayam Wuruk terhadap putri tersebut karena beredarnya lukisan sang putri di Majapahit, yang dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman pada masa itu, bernama Sungging Prabangkara.

Hayam Wuruk memang berniat memperistri Dyah Pitaloka dengan didorong alasan politik, yaitu untuk mengikat persekutuan dengan Negeri Sunda. Atas restu dari keluarga kerajaan Majapahit, Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamar Dyah Pitaloka. Upacara pernikahan rencananya akan dilangsungkan di Majapahit.

Maharaja Linggabuana lalu berangkat bersama rombongan Sunda ke Majapahit dan diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat. Raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit.

Menurut Kidung Sundayana, timbul niat Mahapatih Gajah Mada untuk menguasai Kerajaan Sunda. Gajah Mada ingin memenuhi Sumpah Palapa yang dibuatnya pada masa sebelum Hayam Wuruk naik tahta, sebab dari berbagai kerajaan di Nusantara yang sudah ditaklukkan Majapahit, hanya kerajaan Sunda lah yang belum dikuasai.

Dengan maksud tersebut, Gajah Mada membuat alasan oleh untuk menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat adalah bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit. Gajah Mada mendesak Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan pengakuan superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara. Hayam Wuruk sendiri disebutkan bimbang atas permasalahan tersebut, mengingat Gajah Mada adalah Mahapatih yang diandalkan Majapahit pada saat itu.

Versi lain menyebut bahwa Raja Hayam Wuruk ternyata sejak kecil sudah dijodohkan dengan adik sepupunya Putri Sekartaji atau Hindu Dewi. Sehingga Hayam Wuruk harus menikahi Hindu Dewi sedangkan Dyah Pitaloka hanya dianggap tanda takluk.

"Soal pernikahan itu, teori saya tentang Gajah Mada, Gajah Mada tidak bersalah. Gajah Mada hanya melaksanakan titah sang raja. Gajah Mada hendak menjodohkan Hayam Wuruk dengan Diah Pitaloka. Gajah mada Ingin sekali untuk menyatukan antara Raja Sunda dan Raja Jawa lalu bergabung. Indah sekali," tegas sejarawan sekaligus arkeolog Universitas Indonesia (UI) Agus Aris Munandar.

Hal ini dia sampaikan dalam seminar Borobudur Writers & Cultural Festival 2012 bertemakan; 'Kontroversi Gajah Mada Dalam Perspektif Fiksi dan Sejarah' di Manohara Hotel, Kompleks Taman Wisata Candi Borobudur, Magelang, Jateng, Selasa (30/10).

Pihak Pajajaran tidak terima bila kedatangannya ke Majapahit hanya menyerahkan Dyah Pitaloka sebagai taklukan. Kemudian terjadi insiden perselisihan antara utusan Linggabuana dengan Gajah Mada.

Perselisihan ini diakhiri dengan dimaki-makinya Gajah Mada oleh utusan Negeri Sunda yang terkejut bahwa kedatangan mereka hanya untuk memberikan tanda takluk dan mengakui superioritas Majapahit, bukan karena undangan sebelumnya. Namun Gajah Mada tetap dalam posisi semula.

Belum lagi Hayam Wuruk memberikan putusannya, Gajah Mada sudah mengerahkan pasukan Bhayangkara ke Pesanggrahan Bubat dan mengancam Linggabuana untuk mengakui superioritas Majapahit. Demi mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda, Linggabuana menolak tekanan itu.

Terjadilah peperangan yang tidak seimbang antara Gajah Mada dengan pasukannya yang berjumlah besar, melawan Linggabuana dengan pasukan pengawal kerajaan (Balamati) yang berjumlah kecil serta para pejabat dan menteri kerajaan yang ikut dalam kunjungan itu. Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Raja Linggabuana, para menteri, pejabat kerajaan beserta segenap keluarga kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat.

Tradisi menyebutkan sang Putri Dyah Pitaloka dengan hati berduka melakukan bela pati atau bunuh diri untuk membela kehormatan bangsa dan negaranya. Menurut tata perilaku dan nilai-nilai kasta ksatria, tindakan bunuh diri ritual dilakukan oleh para perempuan kasta tersebut jika kaum laki-lakinya telah gugur. Perbuatan itu diharapkan dapat membela harga diri sekaligus untuk melindungi kesucian mereka, yaitu menghadapi kemungkinan dipermalukan karena pemerkosaan, penganiayaan, atau diperbudak.

Hayam Wuruk pun kemudian meratapi kematian Dyah Pitaloka. Akibat peristiwa Bubat ini, bahwa hubungan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada menjadi renggang. Gajah Mada sendiri menghadapi tentangan, kecurigaan, dan kecaman dari pihak pejabat dan bangsawan Majapahit, karena tindakannya dianggap ceroboh dan gegabah. Mahapatih Gajah Mada dianggap terlalu berani dan lancang dengan tidak mengindahkan keinginan dan perasaan sang Mahkota, Raja Hayam Wuruk sendiri.

Tragedi perang Bubat juga merusak hubungan kenegaraan antar Majapahit dan Pajajaran atau Sunda dan terus berlangsung hingga bertahun-tahun kemudian. Hubungan Sunda-Majapahit tidak pernah pulih seperti sedia kala.

Pangeran Niskalawastu Kancana, adik Putri Dyah Pitaloka yang tetap tinggal di istana Kawali dan tidak ikut ke Majapahit mengiringi keluarganya karena saat itu masih terlalu kecil dan menjadi satu-satunya keturunan Raja yang masih hidup dan kemudian akan naik takhta menjadi Prabu Niskalawastu Kancana.

Kebijakan Prabu Niskalawastu Kancana antara lain memutuskan hubungan diplomatik dengan Majapahit dan menerapkan isolasi terbatas dalam hubungan kenegaraan antar kedua kerajaan. Akibat peristiwa ini pula, di kalangan kerabat Negeri Sunda diberlakukan peraturan larangan estri ti luaran (beristri dari luar), yang isinya diantaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda, atau sebagian lagi mengatakan tidak boleh menikah dengan pihak Majapahit. Peraturan ini kemudian ditafsirkan lebih luas sebagai larangan bagi orang Sunda untuk menikahi orang Jawa.

Tindakan keberanian dan keperwiraan Raja Sunda dan putri Dyah Pitaloka untuk melakukan tindakan bela pati (berani mati) dihormati dan dimuliakan oleh rakyat Sunda dan dianggap sebagai teladan. Raja Lingga Buana dijuluki 'Prabu Wangi' (bahasa Sunda: raja yang harum namanya) karena kepahlawanannya membela harga diri negaranya. Keturunannya, raja-raja Sunda kemudian dijuluki Siliwangi yang berasal dari kata Silih Wangi yang berarti pengganti, pewaris atau penerus Prabu Wangi.

Beberapa reaksi tersebut mencerminkan kekecewaan dan kemarahan masyarakat Sunda kepada Majapahit, sebuah sentimen yang kemudian berkembang menjadi semacam rasa persaingan dan permusuhan antara suku Sunda dan Jawa yang dalam beberapa hal masih tersisa hingga kini. Antara lain, tidak seperti kota-kota lain di Indonesia, di kota Bandung, ibu kota Jawa Barat sekaligus pusat budaya Sunda, tidak ditemukan jalan bernama 'Gajah Mada' atau 'Majapahit'. Meskipun Gajah Mada dianggap sebagai tokoh pahlawan nasional Indonesia, kebanyakan rakyat Sunda menganggapnya tidak pantas akibat tindakannya yang dianggap tidak terpuji dalam tragedi ini.

Nostalgia Puasa Pertama Seleb Mualaf

EMDE Channel | 7/23/2012 08:34:00 AM | 0 komentar
Hari pertama puasa, selalu menjadi momen yang spesial.  Tiap orang memaknai hari tersebut dengan berbagai cara, seperti menyiapkan makan sahur dan berbuka yang istimewa, hingga memakai perlengkapan salat yang baru untuk tarawih.

Tapi tak ada yang bisa menandingi perasaan campur aduk antara bahagia, cemas, dan terharu bagi yang pertama kali menjalankannya sebagai seorang muslim. Mulai dari menyesuaikan diri bangun pagi untuk sahur, hingga meluangkan waktu untuk mengaji dan salat sunah mengikuti anjuran Rasul.

Inilah yang dirasakan oleh Jessica Iskandar saat pertama kali berpuasa. Sejak mengucap dua kalimat syahadat setahun silam, tahun ini adalah Ramadan keduanya sebagai umat muslim. “Aku nggak sabar.  Ini bulan Ramadan kedua bagiku, tapi kali ini aku merindukannya. Ingin sekali bisa beribadah dengan khusyuk,” ujar artis kelahiran Jakarta, 29 Januari 1988 itu.
"Ini bulan Ramadan kedua bagiku, kali ini aku merindukannya," ujar Jessica Iskandar. (Inilah)
Maklum, puasa tahun lalu pengisi acara Pesbukers ini mengakui belum sempurna dijalankan layaknya seorang muslim sejati. “Tahun lalu belum terlalu mantap menjalankan ibadah puasanya, dan belum paham benar tata caranya. Puasanya kebanyakan masih setengah hari,” kenang bintang di film Dealova itu.

Pengalaman berpuasa tahun lalu dijadikan Jessica sebagai pembelajaran. “Di hari-hari pertama perutku seperti memberontak, dan  butuh menyesuaikan diri dengan pola makan yang berubah. Beberapa hari berpuasa, perut mulai tada-tanda maag. Mungkin karena kaget oleh perubahan jam makan. Selain itu badan juga terasa lemas seharian.” kata presenter Dahsyat itu.

Tapi Ramadan kali ini, Jessica sudah memantapkan tekad. Tidak bakal ada yang bolong sepanjang tidak ada 'halangan'. “Aku dilimpahkan banyak rejeki tahun ini. Jadi aku ingin sekali mensyukurinya dengan khusyuk mematuhi ibadah puasa yang merupakan bagian dari rukun Islam,” papar gadis berusia 24 tahun itu.

Beruntung, niat Jessica untuk khusyuk beribadah ini mendapat banyak dukungan. Terutama ayah kandungnya yang menganut Islam. Semua keperluan Jessica untuk menjalankan ibadah pun terasa lebih lancar.

Artis cantik Natalie Sarah juga punya kenangan puasa pertama yang unik. Menginjak usia 29 tahun, Sarah telah mengalami perjalanan berliku dalam menjalankan ibadah laksana seorang muslimah. Sejak menganut Islam di tahun 2001, keputusannya ini banyak ditentang oleh keluarga besar.

Saat puasa pertama kali, Sarah masih sembunyi-sembunyi melaksanakannya. Bahkan beberapa kali, Sarah terpaksa tidak sahur lantaran anggota keluarganya di rumah sudah mulai menaruh curiga. “Jadilah, selama berpuasa aku jarang ada di rumah. Dulu mukena pertamaku, kubeli dari hasil honor menjadi figuran sinetron. Karena setelah lulus sekolah aku tidak pernah minta uang Iagi sama mama," ujarnya.

Lalu bagaimana Sarah merayakan hari kemenangan? “Lebaran juga aku rayakan sendiri bersama teman-teman di luar. Walau sendiri tapi tetap tak mengurangi nikmat atas rasa bersyukurnya,” kenang Sarah. Selang beberapa tahun, Sarah baru memaparkan perihal  mualaf-nya kepada sang mama. Untunglah, seiring berjalannya waktu, ibunda Sarah pun merestui keputusannya.

Artis cantik Alice Norin  mengaku puasa pertamanya penuh kenangan indah. Sejak menjadi mualaf sejak 2007, ibunda Alince mendukung penuh keputusannya menganut Islam. Alhasil, selama belajar beribadah, Alice tak pernah mengalami kesulitan yang berarti. Bahkan selalu mendapat dukungan dan bimbingan. “Puasa pertama kali aku penuh lho.” ujarnya bangga.
Alice mengaku, puasa pertamanya saat baru menjadi Islam tidak ada batal. (Inilah)
Justru pada puasa tahun kedua dirasakan lebih berat oleh bintang film Ketika Cinta Bertasbih ini.  Sebab di tahun ini, Alice mendapatkan cobaan berat, sang ibunda tercinta wafat.

“Tahun 2008 ibuku meninggal, sejak itu semua ritual bulan puasa berubah dan mulai terasa berbeda.  Biasanya ada mama yang selalu mengingatkan sahur dan mengajak berbuka bersama. Setiap bulan Ramadan, mama juga rajin memberi aku nasehat,” kenang perempuan kelahiran Norwegia, 21 Juni 1987 itu.

Kini, setiap bulan Ramadan tiba, ritual tidur Alice berubah. Agar bisa bangun sahur tepat waktu, Alice harus membawa jam weker ‘tidur bersama’. Sebab hanya cara itulah yang bisa membangunkannya untuk sahur. Kebiasaan itu muncul setelah ibundanya wafat, sebab sang mama lah yang biasa membangunkannya saat waktunya imsak tiba.

Lain halnya ritual dengan puasa pertama aktor yang dirasakan oleh aktor Tukang Bubur Naik Haji, El manik. Sepanjang statusnya sebagai muslim, ibadah puasa Ramadan dilalui dengan mulus sejak menjadi mualaf di tahun 1993. Rahasianya? “Saat baru pertama kali ikut puasa, saya tidak kaget. Karena sebelum jadi mualaf sudah latihan berpuasa. Saya ikut-ikutan umat Islam yang berpuasa. Sejak mualaf sampai sekarang saya selalu puasa penuh,” kenang El Manik.

El Manik menambahkan, puasa ibarat turun mesin. Mesin kalau dipakai bekerja terus kan panas, jadi perlu untuk turun mesin sesekali.

“Begitu pula dengan tubuh kita. Bayangkan dalam setahun kita makan terus menerus setiap hari, sehingga perlu masanya untuk tidak makan minum selama sebulan penuh melalui puasa,” ujarnya mantap. 
 
Sumber : Yahoo News by  
Oleh Anugerah/Marni untuk Yahoo! Indonesia

Puji Hadiatmoko, Jagal Tumpang

EMDE Channel | 5/07/2010 10:08:00 AM | 2komentar
Kisah ini menarik bagi saya, karena tokoh yang diceritakan adalah seseorang yang domisilinya tidak jauh dari tempat saya tinggal, sebut saja Jepang, bukan nama Negara Nippon tapi singkatan dari Jeru-Tumpang. Antara tempat saya tinggal dengan tokoh tersebut hanya berbatas sungai, atau biasa dikampung saya disebut sebagai Gang, Saya di gang 1( satu) dan dia di Gang 2 (dua). Dia punya adik yang kenal baik dengan saya, sebagai teman bermain, meskipun dia lebih tua dari umur saya waktu itu. Artikel di bawah ini menceritakan Kakak kandungnya yang disebut oleh banyak orang, media masa waktu itu sebagai "Jagal Tumpang" Seperti judul artikel di atas.
Artikel ini saya temukan tanpa sengaja pada saat saya googling "Arek Tumpang". Sampai saya menemukan artikel di bawah ini. Karena saya anggap kisah ini cukup menarik, dengan harapan bisa membawa hikmah dari ceita yang ada, maka saya coba untuk sadur dan saya posting ke Blog ini tanpa mengurangi isi yang ada, dan tidak melupakan Sumber dari arikel ini.

Namanya Puji Hadiatmoko, pak Puji begitu saya memanggilnya. Orangnya tegap, matanya tajam, sedikit botak (seperti saya hehehehe), ngomongnya tegas. Dia dijuluki Jagal Tumpang, karena kekejamannya membunuh 3 orang (pacarnya, selingkuhan pacarnya dan mertuanya), dipotong2, dan dimasukkan kedalam WC.

Memiliki kemampuan silat yang tinggi sehingga sangat sulit ditangkap dan hanya satu orang yang berhasil menangkapnya yaitu guru silatnya sendiri. Ada yang percaya bahwa pak Puji memiliki kemampuan menghilang dan ada juga yang bilang bahwa pak Puji memiliki kemampuan untuk berubah wujud. Entah benar atau tidak, saya sendiri belum pernah menanyakan atau melihatnya secara langsung.
Perkenalan saya dengan pak Puji dimulai ketika saya masih kecil sekali, yaitu kelas 1 di SMPN 5 Malang. Ayah saya, yang waktu itu bekerja sebagai PNS di LP Lowokwaru, sering mengajak saya keluar masuk ke LP Lowokwaru dan berkeliling-keliling melihat situasi di dalam LP.

Nekat, itu yang sering dikatakan oleh orang-orang, karena anak kecil masuk LP? banyak yang bilang itu bukan cara mendidik yang bagus. Banyak teman-teman saya di kompleks perumaha LP Lowokwaru yang seumuran dilarang untuk masuk oleh orang tuanya. Mereka khawatir nanti diapa-apain, bisa dibunuh atau dilukai karena anak petugas LP, bisa jadi disodomi, bisa macam2 lah resikonya. Saya sendiri selama keluar masuk LP Lowokwaru nggak pernah diapa2in sih.

Entah apa yang ada didalam pikiran ayah saya waktu itu, mungkin beliau pikir karena saya masuk siang dan bisa saja beliau berpikir bahwa saya butuh ekstrakurikuler gratis di pagi hari.

Oleh pak Puji, saya diperkenalkan dengan seorang perampok ulung di Jogjakarta (yang satu isi ruangan selnya penuh dengan peta kota Jogja sampai detail sekecil2nya), dan seorang perampok bank di blok lain yang nggak pernah takut ditembak (kaki, paha dan tubuhnya ada bekas luka tembakan), tapi takut dengan ulat daun (hahahaha yang ini sering saya takut2in).

Saya belajar cukup banyak dari pak Puji terutama dari nasihat dan pengalaman hidupnya. Selain memberikan ilmunya, pak Puji juga menjadi penjaga yang baik selama didalam LP sehingga tidak ada yang berani mengganggu saya. Saya mempermahir keahlian catur sama si perampok Jogja dan belajar pingpong sama si perampok bank. Sesekali pak Puji juga berkesempatan mengajari saya pingpong. Selebihnya dia habiskan waktu jualan indomie dan ngajar silat kepada beberapa napi, didalam selnya. Setiap kali saya selesai latihan catur atau pingpong, saya mampir ke sel pak Puji. Dan dia dengan senang hati membuatkan indomie untuk saya. Enak lho bikinannya, sambil makan indomi sambil nonton napi latihan silat.

Belum cukup sampai disitu kebaikannya, karena setiap Jumat selesai sholat dan ketika saya siap berangkat ke sekolah, dia selalu ngasih saya uang jajan sambil memberikan nasihat-nasihat. Salah satu pesannya yang selalu saya ingat, “Sinau sing genah, ojo dadi wong koyok aku karo arek2 iki, sing sabar dadi uwong, ojo grasa grusu, opo2 pikirin dhisik sing mateng, wis ati2 yo le” (Terjemahan: belajar yang bener, jangan jadi orang kayak aku sama anak2 disini, yang sabar jadi orang, jangan terburu-buru, segalanya dipikir dulu yang mateng, udah ati2 ya)

Oh ya, saya ingat kejadian lucu ketika hari minggu pagi datang ke sel pak Puji. Orangnya nggak ada, sedangkan pagi itu saya baru selesai lari keliling LP Lowokwaru sebanyak 2x putaran (inget, ini saya masih SMP lho). Waktu itu haus sekali, jadi nggak pikir panjang, begitu lihat teko air langsung ditenggak. Nggak lama saya langsung muntahin lagi karena pedes banget. Dalam hati mikir juga sih, ini air atau apa ya? … nggak lama kemudian pak Puji dateng.

“Eh, le, wis ket mau ta?”
(Terjemahan: Eh, nak, udah dari tadi?)

“Sampun pak, la sampeyan teko endi?”
(Terjemahan: Sudah pak, anda dari mana?)

“Mau latihan karo arek2, koen arep sarapan ta? aku ono panganan enak iki tapi rodo pedes”
(Terjemahan: Tadi latihan sama anak2, kamu mau sarapan nggak? saya ada makanan enak tapi agak pedes)

“Pak, aku njaluk ngombe ae, banyu sing nang teko pedes”
(Terjemahan: Pak, aku minta minum aja, air yang di teko pedes)

“Lho!!! Lapo mbok ombe, iku mau kobokane arek arek”
(Terjemahan: Lho!!! ngapain kamu minum, itu cuci tangannya anak2)

Hahahahahaha…yah ini cuma salah satu pengalaman lucu yang saya alami selama di Kota Malang, masih banyak stok, hehehehehe

Setiap 17 Agustusan, saya selalu datang ke LP Lowokwaru, baik sendiri ataupun bareng ayah saya. Saya ingin melihat atraksi pak Puji. Walaupun selalu sama di setiap tahun, bagi saya tetap menarik.

Atraksinya antara lain, menaiki motor dengan mata tertutup dari depan LP hingga lapangan bola (area paling belakang dari LP Lowokwaru). Setelah sampai di tengah lapangan, pak Puji turun sambil membawa bendera merah, kuning, hijau dan biru, masih dengan mata tertutup. Di setiap ujung lapangan bola sudah berdiri satu orang yang membawa bendera berbeda2.

Satu orang di ujung lapangan mulai mengangkat bendera yang dipegangnya, warnanya merah. Nggak lama kemudian, tanpa aba-aba, tanpa komando, masih dengan mata tertutup kain hitam tebal dan arah pandangan ke bawah (alias ndingkluk), pak Puji mengangkat bendera warna merah. Tepuk tangan pun mulai riuh.

Kemudian menyusul satu orang lagi di ujung lapangan mengangkat bendera kuning. Pak Puji pun tanpa melihat, memilih bendera yang ditangan, lalu diangkatnya, warna kuning. Tepuk tangan kembali riuh. Begitu seterusnya hingga seluruh warna dapat dicocokkan dengan benar.

Atraksi terakhir yang dilakukan pak Puji adalah kembali mengendarai motornya sementara di tengah lapangan udah dipasang lingkaran api yang harus dilewati
pak Puji. Motor berputar2 disekeliling lapangan, lalu masuk kedalam lingkaran api tanpa mengenai apinya. Fantastik!!! Diwaktu itu belum ada Deddy Corbuzier lho.

Beranjak dewasa, ketika saya kelas 3 SMP (kalo nggak salah), terjadi kerusuhan yaitu perkelahian antar napi di LP Lowokwaru. Waktu itu saya sempat disana, saya ingat betul ketika melihat si perampok bank yang nggak takut ditembak itu sudah bersimbah darah dan digotong teman2nya. Ngeri banget waktu itu, saya nggak sempet ketemu pak Puji, karena saya langsung pulang.

Semenjak kejadian itu saya nggak pernah lagi masuk LP Lowokwaru karena peraturan baru yang tidak mengijinkan sembarang orang untuk masuk hingga jauh kedalam. Kemudian ketika masuk SMA, saya membaca berita di surat kabar bahwa pak Puji melarikan diri setelah mengelabui petugas dengan alasan sakit. Sedih juga waktu mendengar itu, karena bagaimanapun juga beliau turut berjasa dalam membentuk karakter dan mental saya. Dan lebih sedih lagi ketika saya mendengar rumor dari kalangan tetangga bahwa pak Puji terpaksa ditembak mati oleh petugas. Entah benar entah tidak.

Anyway cerita ini nyata, saya alami sendiri, Insya Allah tidak dilebihkan dan tidak dikurangi. Dan maksud dari cerita ini adalah, bahwa setiap orang yang bersalah walaupun untuk itu dia dihukum dan dengan status napinya, dia masih berhak mendapatkan pendidikan, ilmu pengetahuan dan informasi baru dari dunia luar. Seperti yang sudah saya alami, napi bukanlah orang yang menakutkan, mereka pun bersedia sharing ilmu dan keahliannya (tentu kita ambil yang positif ya), so kenapa kita tidak mau melakukan hal yang sama untuk mereka? Bukankah dengan memberikan pengetahuan kita, ilmu kita dapat mencegah mereka kembali melakukan kejahatan? menjadikan negara kita lebih aman, Insya Allah.

Untuk itu saya mohon doa dan dukungan dari kawan-kawan untuk rencana komunitas CFH bergabung dengan salah satu organisasi mengadakan kegiatan Pelatihan Komputer Gratis di Lapas Cipinang.

Insya Allah apa yang akan kami kerjakan nanti bermanfaat bagi kawan2 kita yang ada didalam LP sana, semoga mereka menjadi bermanfaat bagi sesama dan kita mendapatkan pahala dari ilmu yang kita sebarkan.

Sumber
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Griya Maya Rog Rog Asem - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger