BAHWASANNYA

Adanya "ADA" itu "ADA",Tidak adanya "ADA" itu "ADA".Adanya "Tidak Ada" itu "ADA",Tidak Adanya "Tidak Ada" itu "ADA"....
"Huwalloh, Robby...Wa Robbukum...Dialah Allah, Tuhanku dan Tuhan Kalian"

Tampilkan postingan dengan label Siapkan diri menyongsong Bulan Ramadlan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Siapkan diri menyongsong Bulan Ramadlan. Tampilkan semua postingan

Malam Nisfu Sya’ban 1434 H

EMDE Channel | 6/20/2013 11:30:00 AM | 0 komentar
Tanggal 15 Sya’ban 1434 H jatuh pada tanggal 24 Juni 2013 (Malam Nisfu Sya’ban pada hari Senin sore tgl 24 Juni 2013 Malam Selasa sejak terbenamnya matahari). Jadi jika ingin Puasa Nisfu Sya’ban, pada hari Selasa 25 Juni 2013.
Apa yang menyebabkan malam Nisfu Sya’ban ini besar artinya bagi umat Muslim ? Berikut ini diceritakan seperti yang di alami Rasulullah Saw (HR. Abu Hurairah):
Kebesaran hari ini diterangkan oleh Rasulullah saw.
” Malaikat Jibril mendatangiku pada malam Nishfu (15) Sya’ban, seraya berkata, ” Hai Muhammad, malam ini pintu-pintu langit dibuka. Bangunlah dan Shalatlah, angkat kepalamu dan tadahkan dua tanganmu kelangit .”
Rasulullah saw bertanya,
” Malam apa ini Jibril ?”
Jibril menjawab.
” Malam ini dibukakan 300 pintu rahmat. Tuhan mengampuni kesalahan orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, kecuali tukang sihir, tukang nujum, orang bermusuhan, orang yg terus menerus minum khamar (arak atau minuman keras), terus menerus berzina, memakan riba, durhaka kepada ibu bapak, orang yang suka mengadu domba dan orang yang memutuskan silaturahim. Tuhan tidak mengampuni mereka sampai mereka taubat dan meninggalkan kejahatan mereka itu .”
Rasulullah pun keluar rumah, lentas mengerjakan shalat (sendirian) dan menangis dalam sujudnya, seraya berdoa :
” Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab dan siksa-Mu serta kemurkaan-Mu Tiada kubatasi pujian-pujian kepada-Mu sebagaimana Engkau memuji diri-Mu Maka bagi-Mu lah segala pujia-pujian itu Hingga Engkau rela .” (HR Abu Hurairah)
Oleh karena itu sahabatku, malam tersebut sangatlah baik untuk beribadah dan memohon ampunan (bertaubat) atas segala hal buruk yang kita lakukan, dan semoga Allah swt menerima segala amal ibadah dan mengampuni dosa-dosa dan kesalahan kita.
Diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asy’ari RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“ “Sesungguhnya Allah pada malam Nishfu Sya’ban mengawasi seluruh mahluk-Nya dan mengampuni semuanya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan.” (HR Ibnu Majah)

Doa Malam Nisfu Sya’ban

Berikut adalah Pendapat yang dikemukakan oleh Habib Habib Munzir Al Musawwa tentang Amalan-amalan yang dilakukan di Malam Nisfu Syaban:
Doa dimalam nisfu sya’ban adalah sunnah, dan memang jelas riwayat dimalam itu adalah ditentukannya takdir-takdir ketentuan kita hingga 15 sya’ban yg akan datang, walaupun pendapat terkuat adalah malam lailatulqadar, demikian dijelaskan pd Tasfir Imam Attabari, tafsir Imam Ibn Katsir, Tafsir Imam Qurtubi dll.
Maka doa di malam itu adalah amal yg mulia, namun mengenai membaca Yaasiin 3x itu adalah saran para ulama, jika hal itu dikatakan bid’ah maka hal itu adalah bid’ah hasanah, sebagaimana banyak bid’ah-bid’ah hasanah yg juga dilakukan oleh para sahabat ra, karena telah diperbolehkan oleh Rasul saw dg hadits beliau saw :
“Barangsiapa membuat kebiasaan baru berupa kebaikan maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya, dan barangsiapa yg membuat kebiasaan buruk berupa kebaikan maka baginya dosanya dan dosan orang yg mengamalkannya” (Shahih Muslim hadits no.1017).
Mengenai doa dimalam nisfu sya’ban adalah sunnah Rasul saw, sebagaimana hadits2 berikut :
Sabda Rasulullah saw :
“Allah mengawasi dan memandang hamba hamba Nya di malam nisfu sya’ban, lalu mengampuni dosa dosa mereka semuanya kecuali musyrik dan orang yg pemarah pada sesama muslimin” (Shahih Ibn Hibban hadits no.5755)
berkata Aisyah ra : disuatu malam aku kehilangan Rasul saw, dan kutemukan beliau saw sedang di pekuburan Baqi’, beliau mengangkat kepalanya kearah langit, seraya bersabda : “Sungguh Allah turun ke langit bumi di malam nisfu sya’ban dan mengampuni dosa dosa hamba Nya sebanyak lebih dari jumlah bulu anjing dan domba” (Musnad Imam Ahmad hadits no.24825)
berkata Imam Syafii rahimahullah :
“Doa mustajab adalah pada 5 malam, yaitu malam jumat, malam idul Adha, malam Idul Fitri, malam pertama bulan rajab, dan malam nisfu sya’ban” (Sunan Al Kubra Imam Baihaqiy juz 3 hal 319).
Dengan fatwa ini maka kita memperbanyak doa di malam itu, jelas pula bahwa doa tak bisa dilarang kapanpun dan dimanapun, bila mereka melarang doa maka hendaknya mereka menunjukkan dalilnya,
Bila mereka meminta riwayat cara berdoa, maka alangkah bodohnya mereka tak memahami caranya doa, karena caranya adalah meminta kepada Allah, Pelarangan akan hal ini merupakan perbuatan mungkar dan sesat, sebagaimana sabda Rasulullah saw :
“sungguh sebesar besarnya dosa muslimin dg muslim lainnya adalah pertanyaan yg membuat hal yg halal dilakukan menjadi haram, karena sebab pertanyaannya” (Shahih Muslim).
Yang paling pokok adalah berdoa, karena memang ada pendapat para Mufassirin bahwa malam nisfu sya’ban adalah malam ditentukannya banyak takdir kita, walaupun pendapat yg lebih kuat adalah pada malam lailatul qadar, namun bukan berarti pendapat yg pertama ini batil, karena diakui oleh para Muhadditsin.
Sumber :artikel Pustaka Sekolah mengenai Malam Nisfu Sya’ban 2013, semoga artikel ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.[ps]

Sumber :Artikel  IJT (Interkomunitas jejaring Sosial Tumpang) Illustrasi Gambar, terlait dengan artikel tentang kemuliaan Bulan Sa'ban :

Nostalgia Puasa Pertama Seleb Mualaf

EMDE Channel | 7/23/2012 08:34:00 AM | 0 komentar
Hari pertama puasa, selalu menjadi momen yang spesial.  Tiap orang memaknai hari tersebut dengan berbagai cara, seperti menyiapkan makan sahur dan berbuka yang istimewa, hingga memakai perlengkapan salat yang baru untuk tarawih.

Tapi tak ada yang bisa menandingi perasaan campur aduk antara bahagia, cemas, dan terharu bagi yang pertama kali menjalankannya sebagai seorang muslim. Mulai dari menyesuaikan diri bangun pagi untuk sahur, hingga meluangkan waktu untuk mengaji dan salat sunah mengikuti anjuran Rasul.

Inilah yang dirasakan oleh Jessica Iskandar saat pertama kali berpuasa. Sejak mengucap dua kalimat syahadat setahun silam, tahun ini adalah Ramadan keduanya sebagai umat muslim. “Aku nggak sabar.  Ini bulan Ramadan kedua bagiku, tapi kali ini aku merindukannya. Ingin sekali bisa beribadah dengan khusyuk,” ujar artis kelahiran Jakarta, 29 Januari 1988 itu.
"Ini bulan Ramadan kedua bagiku, kali ini aku merindukannya," ujar Jessica Iskandar. (Inilah)
Maklum, puasa tahun lalu pengisi acara Pesbukers ini mengakui belum sempurna dijalankan layaknya seorang muslim sejati. “Tahun lalu belum terlalu mantap menjalankan ibadah puasanya, dan belum paham benar tata caranya. Puasanya kebanyakan masih setengah hari,” kenang bintang di film Dealova itu.

Pengalaman berpuasa tahun lalu dijadikan Jessica sebagai pembelajaran. “Di hari-hari pertama perutku seperti memberontak, dan  butuh menyesuaikan diri dengan pola makan yang berubah. Beberapa hari berpuasa, perut mulai tada-tanda maag. Mungkin karena kaget oleh perubahan jam makan. Selain itu badan juga terasa lemas seharian.” kata presenter Dahsyat itu.

Tapi Ramadan kali ini, Jessica sudah memantapkan tekad. Tidak bakal ada yang bolong sepanjang tidak ada 'halangan'. “Aku dilimpahkan banyak rejeki tahun ini. Jadi aku ingin sekali mensyukurinya dengan khusyuk mematuhi ibadah puasa yang merupakan bagian dari rukun Islam,” papar gadis berusia 24 tahun itu.

Beruntung, niat Jessica untuk khusyuk beribadah ini mendapat banyak dukungan. Terutama ayah kandungnya yang menganut Islam. Semua keperluan Jessica untuk menjalankan ibadah pun terasa lebih lancar.

Artis cantik Natalie Sarah juga punya kenangan puasa pertama yang unik. Menginjak usia 29 tahun, Sarah telah mengalami perjalanan berliku dalam menjalankan ibadah laksana seorang muslimah. Sejak menganut Islam di tahun 2001, keputusannya ini banyak ditentang oleh keluarga besar.

Saat puasa pertama kali, Sarah masih sembunyi-sembunyi melaksanakannya. Bahkan beberapa kali, Sarah terpaksa tidak sahur lantaran anggota keluarganya di rumah sudah mulai menaruh curiga. “Jadilah, selama berpuasa aku jarang ada di rumah. Dulu mukena pertamaku, kubeli dari hasil honor menjadi figuran sinetron. Karena setelah lulus sekolah aku tidak pernah minta uang Iagi sama mama," ujarnya.

Lalu bagaimana Sarah merayakan hari kemenangan? “Lebaran juga aku rayakan sendiri bersama teman-teman di luar. Walau sendiri tapi tetap tak mengurangi nikmat atas rasa bersyukurnya,” kenang Sarah. Selang beberapa tahun, Sarah baru memaparkan perihal  mualaf-nya kepada sang mama. Untunglah, seiring berjalannya waktu, ibunda Sarah pun merestui keputusannya.

Artis cantik Alice Norin  mengaku puasa pertamanya penuh kenangan indah. Sejak menjadi mualaf sejak 2007, ibunda Alince mendukung penuh keputusannya menganut Islam. Alhasil, selama belajar beribadah, Alice tak pernah mengalami kesulitan yang berarti. Bahkan selalu mendapat dukungan dan bimbingan. “Puasa pertama kali aku penuh lho.” ujarnya bangga.
Alice mengaku, puasa pertamanya saat baru menjadi Islam tidak ada batal. (Inilah)
Justru pada puasa tahun kedua dirasakan lebih berat oleh bintang film Ketika Cinta Bertasbih ini.  Sebab di tahun ini, Alice mendapatkan cobaan berat, sang ibunda tercinta wafat.

“Tahun 2008 ibuku meninggal, sejak itu semua ritual bulan puasa berubah dan mulai terasa berbeda.  Biasanya ada mama yang selalu mengingatkan sahur dan mengajak berbuka bersama. Setiap bulan Ramadan, mama juga rajin memberi aku nasehat,” kenang perempuan kelahiran Norwegia, 21 Juni 1987 itu.

Kini, setiap bulan Ramadan tiba, ritual tidur Alice berubah. Agar bisa bangun sahur tepat waktu, Alice harus membawa jam weker ‘tidur bersama’. Sebab hanya cara itulah yang bisa membangunkannya untuk sahur. Kebiasaan itu muncul setelah ibundanya wafat, sebab sang mama lah yang biasa membangunkannya saat waktunya imsak tiba.

Lain halnya ritual dengan puasa pertama aktor yang dirasakan oleh aktor Tukang Bubur Naik Haji, El manik. Sepanjang statusnya sebagai muslim, ibadah puasa Ramadan dilalui dengan mulus sejak menjadi mualaf di tahun 1993. Rahasianya? “Saat baru pertama kali ikut puasa, saya tidak kaget. Karena sebelum jadi mualaf sudah latihan berpuasa. Saya ikut-ikutan umat Islam yang berpuasa. Sejak mualaf sampai sekarang saya selalu puasa penuh,” kenang El Manik.

El Manik menambahkan, puasa ibarat turun mesin. Mesin kalau dipakai bekerja terus kan panas, jadi perlu untuk turun mesin sesekali.

“Begitu pula dengan tubuh kita. Bayangkan dalam setahun kita makan terus menerus setiap hari, sehingga perlu masanya untuk tidak makan minum selama sebulan penuh melalui puasa,” ujarnya mantap. 
 
Sumber : Yahoo News by  
Oleh Anugerah/Marni untuk Yahoo! Indonesia

Tingkatan Puasa dan Kerugian meninggalkan puasa Ramadhan

EMDE Channel | 7/29/2011 05:47:00 PM | 0 komentar
Tingkatan Puasa
Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam bukunya Ihya al-'Ulumuddin telah membahagikan puasa itu kepada 3 tingkatan:

  1. Puasanya orang awam (shaum al-'umum): menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkan puasa seperti makan dan minum.
  2. Puasanya orang khusus (shaum al-khusus): turut berpuasa dari panca indera dan seluruh badan dari segala bentuk dosa.
  3. Puasanya orang istimewa, super khusus (shaum al-khawasi al-khawas): turut berpuasa 'hati nurani', yaitu tidak memikirkan sangat soal keduniaan

Pembahagian di atas memberikan umat Islam ruang untuk berfikir dan menelaah tingkat manakah mereka berada. Kerugian meninggalkan puasa Ramadhan Pahala puasa Ramadhan amat besar. Orang yang meninggalkan puasa dengan sengaja, bukan saja telah melakukan satu dosa besar, bahkan dia mengalami satu kerugian yang amat besar, satu hari puasa yang ditinggalkan tersebut tidak boleh ditebus dengan apa jua cara, tidak boleh ditukar ganti, sekalipun orang yang meninggalkannya berpuasa seumur hidupnya. Ini jelas sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam: Maksudnya: “Sesiapa berbuka satu hari pada bulan Ramadhan tanpa ada rukhshah (uzur syarak) dan tidak juga kerana sakit, dia tidak akan dapat menggantikan puasa yang ditinggalkannya itu, sekalipun dia berpuasa seumur hidup.” (Hadis riwayat Tirmidzi, Abu Daud, Nasa’i, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah).

Inilah Dua Urgensi Sambut Ramadhan

EMDE Channel | 7/29/2011 02:38:00 PM | 0 komentar
Oleh Ustadz Bukhari Yusuf MA

Tidak terasa Ramadhan sebentar lagi tiba. Sebuah bulan yang sangat agung dan mulia serta satu-satunya bulan yang disebutkan namanya secara jelas di dalam Alquran. Sudah sepantasnya kaum Muslim mempersiapkan diri menghadapi kedatangannya. Sebab, persiapan menyambut kedatangan bulan Ramadhan, menjadi langkah awal yang sangat menentukan berhasil tidaknya seseorang dalam meraih berbagai keutamaan yang terdapat di dalamnya.

Paling tidak ada dua alasan mengapa kita harus mempersiapkan diri menyambut Ramadhan. Pertama, merujuk kepada sikap yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW, sahabat, dan generasi saleh terdahulu. Seperti disebutkan dalam riwayat yang berasal dari Anas ra dengan sanad yang lemah bahwa ketika memasuki bulan Rajab, Rasulullah saw berdoa, "Ya Allah berkahi kami pada bulan Rajab dan Sya'ban ini. Serta sampaikan kami ke dalam bulan Ramadhan." (HR al-Tirmidzi dan al-Darimi).

Bahkan, Ma'la bin Fadhal berkata, "Dulu sahabat Rasul SAW berdoa kepada Allah sejak enam bulan sebelum masuk Ramadhan agar Allah sampaikan umur mereka ke bulan yang penuh berkah itu. Kemudian, selama enam bulan sejak Ramadhan berlalu, mereka berdoa agar Allah terima semua amal ibadah mereka di bulan itu." Jika demikian sudah semestinya kita juga mempersiapkan diri sebaik mungkin menyambut Ramadhan.

Kedua, melihat posisi dan urgensi Ramadhan sebagai tamu Allah yang istimewa. Sebab, seperti diketahui Ramadhan dihadirkan untuk membentuk manusia yang bertakwa (lihat QS al-Baqarah [2]: 183).

Dengan visi ketakwaan tersebut, Ramadhan menjadi media yang sangat penting untuk meng-upgrade kualitas manusia dan meningkatkan derajatnya di sisi Allah (QS al-Hujurât [49]: 13). Dengan visi ketakwaan, Ramadhan juga menjadi media yang sangat efektif untuk mendapatkan berbagai kemudahan dan kelapangan hidup dari Allah SWT (QS ath-Thalaq [65]:2). Selain itu, Ramadhan juga menjadi media bagi lahirnya keberkahan, terbukanya pintu rahmat, dan solusi bagi bangsa dan negara (QS al-A'raf [7]: 96).

Melihat peran tersebut, Ramadhan tak ubahnya seperti wadah pembinaan yang memiliki fungsi strategis. Jika lembaga seperti Lemhanas diproyeksikan untuk mencetak SDM unggulan, melahirkan pejabat yang berkualitas, serta memberikan solusi bagi bangsa dan negara, Ramadhan juga demikian. Bahkan, lebih daripada itu, Ramadhan telah terbukti menjadi madrasah istimewa yang berhasil melahirkan generasi dan solusi terbaik sepanjang masa.

Karena itu, Ramadhan harus disikapi dan disambut secara positif. Agar mencapai prestasi maksimal, dibutuhkan sejumlah persiapan. Di antaranya memperbanyak puasa di bulan Sya'ban, melaksanakan shalat sunah terutama di waktu malam, membaca Alquran, berzikir dan berdoa, serta bersedekah. Selain itu, harus ada perencanaan dan rapat kerja keluarga untuk menetapkan target yang akan dicapai pada bulan Ramadhan, berikut cara pencapaiannya. Wallahu a'lam bish-shawab.

Diterbitkan di Republika Cetak dengan judul "Bersiap Menyambut Ramadhan"


Siapkan Diri Menyongsong Bulan Ramadlan

EMDE Channel | 8/20/2009 11:09:00 AM | 0 komentar

Ditulis oleh Ustadz Ahmad Sodiq, Lc (Pesantrenvirtual.com)

Dalam kitab “Baina Yadai Ramadlan” disebutkan, bahwa di bulan Sya’ban inilah, -tepatnya tahun ke dua hijriyah-, penentuan arah Qiblat itu ditetapkan. Dimana sebelumnya, selama tujuh belas bulan berada di Madinah, Nabi SAW ketika sholat menghadap Al-Quds (Baitul Maqdis di Palestina), tetapi kemudian Allah SWT mengabulkan keinginan hati Nabi SAW, sehingga menghadap Qiblatnya berpindah ke arah Ka’bah (Masjidil Haram di Makkah Al-Mukarramah). Sebagaimana sebab turunnya surat al-Baqarah, ayat 144: “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke Qiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram”. Itu di antara nilai sejarah yang ada di bulan Sya’ban. Berikut ini adalah pembicaraan berkenaan dengan bulan Sya’ban, serta fadlilah (keutaman)nya:

Bulan yang sangat digemari Nabi untuk berpuasa.
Diriwayatkan dari Aisyah RA, berkata; “Saya tidak melihat Rasulullah SAW berpuasa lengkap sebulan penuh kecuali di bulan Ramadlan. Dan saya tidak melihat yang banyak dipuasani Rasulullah SAW kecuali di bulan Sya’ban”. HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan lainnya.

Shahabat Anas bin Malik RA juga meriwayatkan, bahwa “Rasulullah SAW itu puasanya sedang-sedang aja, antara puasa dan tidaknya secara berimbang, di sepanjang tahunnya. Namun, ketika masuk bulan Sya’ban beliau tampak kelihatan rajin dalam menekuni puasanya”. HR Imam Ahmad dan Thabrani.
Dalam hal ini, Imam Ibnu Hajar menjelaskan hadits yang disebutkan di atas, bahwa hampir hari-hari di bulan Sya’ban ini dipuasani oleh Rasulullah.[1]

Merangkaikannya dengan Ramadlan.

Dari Aisyah RA berkata bahwa; “Di antara bulan-bulan yang sangat dicintai Nabi dalam melakukan puasa adalah di bulan Sya’ban, lalu menyambungkannya dengan bulan Ramadlan”. HR. Abu Dawud.

Allah SWT telah memproklamirkan Pengampunan-Nya.

Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal RA bahwa Rasulullah SWT bersabda; “Pada malam Nisfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban), Allah SWT akan mengumumkan kepada sekalian manusia, bahwa Ia akan mengampuni orang-orang yang mau beristighfar (minta ampunan-Nya), kecuali kepada orang-orang yang menyekutukan-Nya, juga orang-orang yang suka mengadu domba (menciptakan api permusuhan) terhadap saudara muslim”. HR. Al-Thabrani dan Ibnu Hibban.

Dalam riwayat lain dari Aisyah RA, disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda; “Malaikat Jibril telah datang kepadaku, seraya berkata (memberikan informasi): Malam ini adalah malam Nisfu Sya’ban. Dan pada malam ini pula Allah akan membebaskan hamba-hamba-Nya dari api neraka. Namun Allah SWT akan membiarkan enam kelompok manusia tetap dalam neraka, karena telah melakukan dosa-dosa besar, yaitu:

1. orang yang menyekutukannya (syirik),
2. orang yang suka mengadu domba (menciptakan api permusuhan) terhadap saudara muslim.
3. orang yang memutuskan tali shilaturrahmi (hubungan kekerabatan).
4. orang yang sombong, yang berjalan dengan penuh keangkuhan.
5. orang yang durhaka terhadap kedua orang tuanya.
6. orang yang kecanduan minuman keras”. HR. Baihaqy.


Amal Perbuatan manusia akan dilaporkan ke hadiran Allah SWT.

Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid RA berkata, “Wahai Rasulullah, saya lihat anda lebih bersemangat (lebih rajin) berpuasa di bulan Sya’ban ini, dibanding bulan-bulan lainnya. Mengapa (ada apa gerangan)?”. Nabi menjawab; “Karena Sya’ban ini bulan agung, yang banyak dilupakan orang. Padahal, di bulan inilah amal perbuatan manusia akan dinaikkan (dilaporkan) ke hadirat Allah. Kerena itu, saya ingin (lebih senang) bila di saat amalan-amalan itu diangkat (dihadirkan) kepada Allah, kondisi saya dalam keadaan puasa”. HR Nasa’i.[2]

Berkaitan dengan ini, para ulama menjelaskan akan perhatian dan begitu antusiasnya Nabi di bulan Sya’ban, dalam rangka menyambut bulan suci Ramadlan. Diantaranya, bila digambarkan adalah sbb:

Perhatian dan sayang Nabi SAW terhadap isteri-isterinya.

Imam Ibnu Hajar menyebutkan, bahwa di antara hikmah (rahasia, mengapa) Rasulullah SAW memperbanyak puasanya di bulan Sya’ban adalah karena isteri-isterinya banyak yang menuntaskan tanggungan (menjalankan qadla puasa Ramadlan, karena berhalangan, haidl dan sebab-sebab lain) di bulan Sya’ban ini. Jadi, Nabi SAW tidak ingin terlalu merepotkan isteri-isterinya, kecuali menghormati dan bahkan menemani aktifitas ritual yang sedang dijalankan isteri-isterinya. Luar bisa, sikap dan cara Nabi SAW dalam memberikan semangat atau support terhadap isteri-isterinya.

Waktu yang sangat tepat untuk mengevaluasi diri.

Adalah pesan shahabat Umar RA, agar kita selalu berintropeksi terlebih dahulu. Beliau mengingatkan, “Hasibu Anfusakum Qabla An-Tuhasabu, Wa-Zinu A’malakum Qabla An-Tuzanu ‘Alaikum”. Makanya, alangkah baiknya bila kesempatan di bulan Sya’ban ini kita bisa mengevaluasi diri, bisa berintropeksi apa yang telah perbuat sepanjang tahun ini. Kita telah melalui dengan bagaimana, apa yang telah kita kerjakan, serta dengan aktifitas apa saja selama ini. Sudahkah kita mengindahkan antara hak dan kewajiban kita. Bukankah kita telah banyak alpa kepada Allah, ataupun khilaf kita kepada sesama manusia.

Terlalu banyak, -dan kita tidak pernah akan sanggup menghitung- kasih sayang, nikmat dan anugerah yang Allah SWT berikan kepada hamba-Nya. Kita ini telah banyak dikaruniai kesehatan, ketenangan, rasa aman dan hidup nyaman. Namun, sering lengah terhadap kehadiran Allah SWT. Berapa banyak dosa yang telah kita perbuat. Apakah selama ini, kita telah menjalankan perintah-Nya dengan baik dan benar. Sadarkah, bahwa kita sering “bolang-bolong”, menyepelekan ibadah, menggampangkan sholat lima fardlu, dsb. Sudah sebanding/berimbangkah antara kenakalan dan ampunan yang kita harapkan. Apakah sudah diimbangi dengan ketundukan kita kepada-Nya.

Repotnya, mengapa kita ini hanya selalu Nasta’iin (minta pertolongan, minta ini-itu, dst), tanpa diimbangi dengan Na’budu (beribadah yang baik dan benar)”. Mestinya, kita tahu diri dan malu ketika hanya “Nasto’an-Nasta’in” melulu, tanpa pernah mau meningkatkan “Na’bud”nya. Maka dari itu, pada bulan inilah sangat layak untuk merenungkan, apakah kita telah memenuhi wajiban kita sebagai hamba yang baik, dan pandai bersyukur?

Lalu, terhadap manusia dan sesama saudara muslim, apakah juga telah penuhi hak-haknya? Bukankah kita pernah menyakitinya, menaruh curiga terhadapnya, mengumpat dan menggunjingya, dst? Baik yang disengaja, ataupun tidak. Kesemuanya perlu dibersihkan, untuk menghadap Allah SWT dengan kondisi yang suci, sehingga kita bisa lebih dapat meraih Ramadlan yang berkwalitas.

Menjadikannya sebagai tahap persiapan mental (pemanasan).

Disamping itu, bulan Sya’ban juga sangat baik dijadikan sebagai tahap persiapan, sehingga ketika masuk bulan suci Ramadlan telah siap dan terbiasa untuk memaksimalkan sajian, fadlilah dan kemurahan Allah SWT, dan lebih meningkatkan kwalitasnya di bulan suci Ramadlan nantinya.

Karena itu, pada masa persiapan ini, kita mestinya –sebisa mungkin- mampu menghadirkan hati yang suci, lisan yang tidak henti-hentinya berdzikir, juga jiwa yang siap “berharap” pada ridla Allah SWT. Sehingga dengan persiapan yang cukup matang ini, -yang telah dimulai sejak di bulan Sya’ban, sebagaimana Nabi SAW dalam mempersiapkan dirinya- kita akan lebih bisa menjalani puasa ini dengan penuh berisi dan berkwalitas, dan nantinya kita bisa berharap lebih optimis untuk mendapatkan ridla-Nya. Bagaimana tidak, karena kita telah puasa dengan yang sebenar-benarnya. Puasa yang tidak hanya sekedar meninggalkan makan dan minum, tetapi juga mampu mengendalikan godaan nafsu dan syahwat selama berpuasa.

Semoga, dengan persiapan yang lebih matang ini, kwalitas puasa Ramadlan kita serta ibadah dan amal sholeh kita di bulan suci Ramdlan nanti akan terdapat peningkatan, baik kwantitas maupun kwalitasnya. Amien, Ya Rabbal ‘Alamin.


[1]- “Fathu al-Bary, Maktabah al-Halaby- Mesir, Juz 5 hlm. 117.

[2]- Disusun berdasarkan beberapa hadits yang termuat dalam kitab “Al-Targhib Wal-Tarhib”, Imam Mundziri, Juz 2, hlm. 116, Dar al-Fikr, tahun 1014H-1981M.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Griya Maya Rog Rog Asem - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger