BAHWASANNYA

Adanya "ADA" itu "ADA",Tidak adanya "ADA" itu "ADA".Adanya "Tidak Ada" itu "ADA",Tidak Adanya "Tidak Ada" itu "ADA"....
"Huwalloh, Robby...Wa Robbukum...Dialah Allah, Tuhanku dan Tuhan Kalian"

Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

MUTIARA NASEHAT GUS MIEK ( KH. Hamim Tohari Djazuli )

EMDE Channel | 9/18/2014 09:46:00 AM | 5komentar
Sekarang, mencari orang bodah itu sulit, sebab orang bodoh kini mengaku pintar. Kelak, kalau kamu sekolah, berlaku bodah saja. Bagaimana caranya? Pura-pura saja, dan harus bisa pura-pura bodoh. Maksudnya, kamu harus pintar membedakan antara orang bodoh dengan orang yang pura-pura bodoh.
KH. Hamim Tohari Djazuli atau akrab dengan panggilan Gus Miek lahir pada 17 Agustus 1940,beliau adalah putra KH. Jazuli Utsman (seorang ulama sufi dan ahli tarikat pendiri pon-pes Al Falah Mojo Kediri), Gus Miek salah-satu tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dan pejuang Islam yang masyhur di tanah Jawa dan memiliki ikatan darah kuat dengan berbagai tokoh Islam ternama, khususnya di Jawa Timur. (Kutipan Biografi Gus Miek)

Dan berikut adalah Mutiara nasehat (Dawuhipun) Gus Miek (KH.Hamim Tohari Djazuli)

Nasihat 1
Saya adalah mursyid tunggal Dzikrul Ghofilin.
“Lho, Gus kok berkata begitu bagaimana dengan farid dan syauki..?” tanya Gus Ali sidoarjo.”mereka hanya meramaikan saja” , jawab Gus Miek

Nasihat 2
Demi Allah, saya hanya bisa menangis kepada Allah, semoga sami’in yang setia, pengamal Dzikrul Ghofilin, semua maslah-masalahnya tuntas diperhatikan oleh Allah.

Nasihat 3
Bila mengikuti Dzikrul Ghofilin, kalau tidak tahu artinya yang penting hatinya yakin.

Nasihat 4
Barusan ada orang bertanya: Gus, Dzikrul Ghofilin itu apa..? saya jawab: “Jamu”.

Nasihat 5
Dzikrul Ghofilin itu senjata pamungkas, khususnya menghadapi tahun 2000 ke atas

Nasihat 6
Ulama sesepuh yang dikirimi fatihah oleh orang-orang yang tertera atau tercantum dalam Dzikrul Ghofilin itu yang akan saya dan kalian ikuti di akhirat nanti.

Nasihat 7
Dekatlan kepada Allah..! kalau tidak bisa, dekatlah dengan orang yang dekat denganNya.

Nasihat 8
Kemanunggalan sema’an Al Qur’an dan Dzikrul Ghofilin adalah sesuatu yang harus di wujudkan oleh pendherek, pimpinan Dzikrul Ghofilin, dan jama’ah sema’an Al Qur’an. Sebab antara sema’an Al Qur’an kaliyan Dzikrul Ghofilin ingkang sampun dipun simboli kaliyan fatihah miata marroh ba’da kulli shalatin, meniko berkaitan manunggal.

Nasihat 9
Semoga Dzikrul Ghofilin ini menjadi ketahanan batiniah kita, sekaligus penyangga kita di hari Hisab (hari perhitungan amal). Itulah yang paling penting..!

Nasihat 10
Nuzulul Qur’an yang bersamaan dengan turunnya hujan ini, semoga menjadi isyarat turunnya petunjuk kepada saya dan kalian semua, seperti firman Allah: “Ulaika ‘ala hudan min rabbihim wa ulaika hum al-muflihun” (Mereka telah berada di jalan petunjuk , dan mereka adalah orang-orang yang beruntung).

Nasihat 11
Barusan ada orang yang bertanya: Gus, bagaimana saya ini, saya tidak bisa membaca Al Qur’an..? saya jawab: “Paham atau tidak, yang penting sampean datang ke acara sema’an, karena mendengarkan saja besar pahalanya”.

Nasihat 12
Sejak sekarang, yang kecil harus berpikir: kelak kalau besar, aku besar seperti apa, yang besar harus berpikir, kalau tua kelak, aku tua seperti apa, yang tua juga harus berpikir, kelak kalau mati, aku mati dalam keadaan seperti apa.

Nasihat 13
Dalam sema’an ada seorang pembaca Al Qur’an, huffazhul Qur’an dan sami’in. Seperti ditegaskan oleh sebuah hadits: Baik pembaca maupun pendengar setia Al Qur’an pahalanya sama. Malah di dalam ulasan tokoh lain dikatakan: pendengar itu pahalanya lebih besar daripada pembacanya. Sebab pendengar lebih main hati, pikiran, dan telinganya. Pendengar dituntut untuk lebih menata hati dan pikirannya dan lebih memfokuskan pendekatan diri kepada Allah.

Nasihat 14
Satu-satunya tempat yang baik untuk mengutarakan sesuatu kepada Allah adalah majelis sema’an Al Qur’an. Hal ini tertera di dalam (kalau tidak salah) tiga hadits. Antara lain Man arada an yatakallam ma’a Allah falyaqra’ Al Qur’an (siapa ingin berkomunikasi dengan Allah, hendaknya ia membaca Al Qur’an).

Nasihat 15
Seorang yang ikut sema’an berturut-turut 20 kali saya jamin apa pun masalah yang sedang dihadapinya pasti akan beres/tuntas.

Nasihat16
Ada seorang datang kepada saya: “Gus, problem saya bertumpuk-tumpuk, saya sudah mengikuti sema’an 19 kali, tinggal 1 kali lagi, kira-kira masalah saya nanti tuntas atau tidak..?” saya jawab: “yang sial itu saya, kok bertemu dengan orang yang mempunyai masalah seperti itu.”

Nasihat 17
Saya sendiri sebagai pencetus sema’an Al Qur’an ternyata kurang konsekuen, sementara sami’in datang dari jauh, bahkan hadir sejak subuh, mulai surat Al fatihah dibaca sampai berakhir setelah doa khotmil Qur’an malam berikutnya baru mereka pulang. Sedang saya ini, baru datang kalau sema’an Al Qur’an akan diakhiri. Itu pun tidak pasti. Terkadang saya berpikir, saya ini seorang yang dipaksakan untuk siap dipanggil kiai.

Nasihat 18
Berapa yang hadir setiap sema’an? Jangan lebih lima persen. Nanti bila sami’innya terlalu banyak, saya hanya menangis dan membaca Al Fatihah, lalu pulang. Saya sadar, saya tidak mampu berbuat apa-apa. Jangankan untuk orang banyak, untuk satu orang saja saya tidak bisa.

Nasihat 19
Kalau saya nongol, mungkin tak cukup semalaman. Satu persatu harus dilayani. Saya besok ke mana? Apa yang harus saya lakukan? Kami tidak punya modal? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan, Dan, saya dituntut untuk memberikan keterangan yang bisa mereka terima, setidaknya agak menghibur, dengan lelucon atau dengan pengarahan yang pas.

Nasihat 20
Semoga sema’an dan Dzikrul Ghofilin ini kelak menjadi tempat duduk-duduk dan hiburan anak cucu kita semua.

Nasihat 21
Alhamdulillah, saya adalah yang pertama memberitahukan kepada “anak-anak” tentang makna dan kegunaan sema’an Al Qur’an. Di tengah maraknya Al Qur’an diseminarkan dan didiskusikan, Alhamdulillah masih ada kelompok kecil yang menyakini bahwa Al Qur’an itu mengandung berkah.

Nasihat 22
Saya mengambil langkah silang dengan mengatakan kepada anak-anak yang berkumpu agar sebulan sekali mengadakan pertemuan, ngobrol-ngobrol, guyon-guyon santai, syukur bisa menghibur diri dengan hiburan yang berbau ibadah yang menyentuh rahmat dan nikmat Allah. Kebetulan saya menemukan satu pakem bahwa pertemuan yang dibarengi dengan alunan Al Qur’an, membaca dan mendengarkannya, syukur-syukur dari awal sampai akhir, Allah akan memberikan rahmat dan nikmatNya. Jadi, secara batiniah, sema’an Al Qur’an ini menurut saya adalah hiburan yang bersifat hasnah (bernilai baik). Juga, pendekat diri kita kepada Allah dan tabungan di hari akhir. Itu pula yang benar-benar diyakini para pengikut sema’an Al Qur’an.

Nasihat 23
Di bukit ini terdapat 3 tiang kokoh (panutan), yaitu (1) Syaikh Abdul Qodir Khoiri, seorang wali yang penuh kasih, (2) Abdul Sholih As-Saliki, seorang wali yang terus menjaga wudhunya demi menempuh jalan berkah, (3) Muhammad Herman, ia adalah wali penutup, orang-orang terbaik berbaur dengannya. Wahai tuhanku, berilah manfaat dan berkah mereka. Kumpulkan aku bersama mereka.

Nasihat 24
Mengenai tata krama ziarah kubur, selayaknya lahir batin ditata dengan baik. Saya juga berpesan, kalau seseorang berceramah, hendaknya ia tidak meneliti siapa yang dimakamkan, juga riwayat hidupnya. Setidaknya hal demikian ini hukumnya makruh.

Nasihat 25
Tiga orang yang tidur ini hidup sebelum Wali songo. Orang-orang banyak datang kesini. Demikian juga orang-orang yang sakit, mereka kalau datang ke sini sembuh.

Nasihat 26
Kelak, bila aku sudah tiada, yang saya tempati ini (makam tambak) bertambah ramai (makmur)

Nasihat 27
Saya disini hanya ittiba’(mengikuti) kiai sepuh, seperti kiai Fattah dan kiai Mundzir. Di sini, dulu pernah dibuat pertemuan kiai-kiai pondok besar.

Nasihat 28
Makam ini yang menemukan keturunan Pangeran Diponegaoro. Dulu, desa ini pernah dibuat istirahat oleh pangeran Diponegoro. Di desa ini tidak ada shalat dan tidak ada apapun. Keturunan Diponegoro ini ada dua, yang satu menjadi dukun sunat tetapi kalau berdandan nyentrik, sedang adiknya jadi pemimpin seni jaranan.

Nasihat 29
Berbaik sangka itu sulit. Jangankan berbaik sangka kepada Allah, kepada para wali dan para kiai sepuh saja sulit.

Nasihat 30
Di tambak itu, kalau bisa bersabar, akan terasa seperti lautan, dan kalau bisa memanfaatkan, akan banyak sekali manfaatnya. Tapi kalau tidak bisa memanfaatkan, ia akan bisa menenggelamkan.

Nasihat 31
Huruf hijaiyah itu ada banyak ada ba’, jim, dhot, sampai ya’. Demikian juga dengan taraf ilmu seseorang. Ada orang yang ilmunya cuma sampai ba’, ada orang yang ilmunya sampai jim, ada orang yang ilmunya sampai dhot saja. Nah, orang yang ilmunya seperti itu tidak paham kalau di omongi huruf tha’, apalagi huruf hamzah dan ya’.

Nasihat 32
Saya bukan kiai, saya ini orang yang terpaksa siap dipanggil kiai. Saya juga bukan ulama. Ulama dan kiai itu beda. Kiai dituntut untuk punya santri dan pesantren. Ulama itu kata jamak yang artinya beberapa ilmuwan. Ketepatan saja saya punya bapak yang bisa ngaji dan punya pesantren. Itu pun tidak ada hubungannya dengan saya yang lebih banyak berkelana. Dari berkelana itu lahirlah sema’an Al Qur’an. Jadi, hiburan “anak-anak” dan saya datang bukan atas nama apa-apa. Hanya salah satu pengikut sama’an Al Qur’an, yang bukan sami’in setia bukan pengikut yang aktif.

Nasihat 33
Nanti, kalau suamimu berani menjadi kiai harus sanggup hidup melarat.

Nasihat 34
Akhirnya (maaf), kita menyadari bahwa kaum ulama, lebih-lebih seperti saya, dituntut untuk menggali dana yang lebih baik, dana yang benar-benar halal, kalau kita memang mendambakan ridho Allah.

Nasihat 35
Di era globalisasi ini kita dituntut untuk lebih praktis, tidak terlalu teoretis. Semua kiai dan ulama sekarang ini dituntut mengerti bahwa dirinya punya satu tugas dari Allah, yakni membawa misi manusiawi.

Nasihat 36
Kalau ingin pondok pesantrennya besar, itu harus kaya terlebih dahulu. Nah, kaya inilah yang sulit.

Nasihat 37
Pondok pesantren ini, walaupun kecil, mbok ya biarkan hidup, yang luar biar di luar, yang dalam biar di dalam.

Nasihat 38
Saya punya pertanyaan buat diri saya sendiri: mampukah saya mengatarkan “anak-anak?” Sedang ulama saja banyak yang kurang mampu mengantarkan anak-anak untuk saleh dan sukses. Suksenya diraih, salehnya meleset. Di dalam pesantren sama sekali tidak diajarkan keterampilan. Timbul pertanyaan: Bagaimana anak-anak kami nanti di masa mendatang, bisnisnya, ekonominya, nafkahnya hariannya? Mungkinkah mereka berumah tangga dengan kondisi seperti ini?.

Nasihat 39
Mbah, manusia itu kalau punya keinginan, hambatannya Cuma dua. Godaan dan hawa nafsu. Kuat cobaan apa tidak, kuat dicoba apa tidak.

Nasihat 40
Para santri itu lemah pendidikan keterampilannya. Sudah terlanjur sejak awalnya begitu. Tapi Alhamdulillah, di pesantren-pesantren seperti Gontor dan pondok pabelan diajarkan keterampilan-keterampilan. Di sana, keterampilannya ada, tapi wiridannya tidak ada. Saya senang pesantren yang ada wiridannya.

Nasihat 41
Sukses dalam studi belum menjamin sukses dalam hidup. Pokoknya, di luar buku, di luar bangku, di luar kampus, masih ada kampus yang lebih besar, yakni kampus Allah. Kita harus banyak belajar. Antara lain belajar dangdut Jawa, belajar tolak berhala, dan belajar tolak berhala itu sulit sekali! Sulit sekali.

Nasihat 42
Hidup ini sejak lahir hingga mati, adalah kuliah tanpa bangku.

Nasihat 43
Mbah, kamu itu ketika mengaji, jika dipanggil ayah, ibu atau putra-putra ayah, siapa saja itu, jangan menunggu selesai mengaji, langsung saja ditaruh kitabnya, lalu menghadap dengan niat mengaji.

Nasihat 44
Seorang (santri) yang tak kuat menahan lapar, bahayanya orang (santri) itu di pondok bisa berani banyak utang.

Nasihat 45
Mbah, kalau kamu menggantungkan kiriman dari rumah, kalau belum dikirim jangan mengharap-harap dikirim, semua sudah diatur oleh Allah.

Nasihat 46
Sekarang, mencari orang bodah itu sulit, sebab orang bodoh kini mengaku pintar. Kelak, kalau kamu sekolah, berlaku bodah saja. Bagaimana caranya? Pura-pura saja, dan harus bisa pura-pura bodoh. Maksudnya, kamu harus pintar membedakan antara orang bodoh dengan orang yang pura-pura bodoh.

Nasihat 47
Dunia itu memang sedikit, tapi tanpa dunia, seseorang bisa mecicil (blingsatan).

Nasihat 48
Jadi orang itu harus mencari yang halal, jangan sampai jadi tukang cukur merangkap jagal.

Nasihat 49
Miskin dunia sedikitnya berapa, tak ada batasannya demikian juga kaya dunia. Seorang yang kaya pasti ada yang di atasnya, seorang yang melarat banyak temannya. Orang kaya pasti ada kurangnya. Ini adalah ilmu Jawa, tidak perlu muluk-muluk mengkaji kitab kuning.

Nasihat 50
Kamu memilih kaya-sengsara atau melarat-terlunta? Maksudnya, kaya-sengsara itu adalah di dunia diganggu hartanya, sedang di akhirat banyak pertanyaannya.

Nasihat 51
Gus, tolong saya didoakan kaya. “kaya buat apa?”, tanya Gus Miek. Buat membiayai anak saya. Royan, kamu tak usah khawatir, saya berdoa kepada tuhan agar orang selalu baik dan membantu kamu. Adapun orang yang berbuat buruk atau berniat buruk kepadamu akan saya potong tangannya. Kelak, dirimu saya carikan tempat yang lebih baik dari dunia ini.

Nasihat 52
Royan, kamu ingin kaya ya? Kalau sudah kaya, nanti kamu repot lho.

Nasihat 53
Orang kaya yang masuk surga itu syaratnya harus baik dengan tetangganya yang fakir.

Nasihat 54
Seorang fakir yang tahan uji, yang tetap bisa tertawa dan periang. Sedang hatinya terus mensyukuri keadaan-keadaannya, masih lebih terhormat dan lebih unggul melebihi siapa pun, termasuk orang dermawan yang 99% hak milinya diberikan karena Allah, tetap saja masih unggul fakir yang saleh tadi.

Nasihat 55
Saat memimpin doa pada acara haul KH. Djazuli Ustman, Gus Miek membaca Ayyuha ad-dunya thallaqtuka fa’anta thaliqah.(Wahai dunia, aku telah menalak kamu, sungguh aku telah mentalak kamu). Gus Miek lalu berhenti dan berkomentar:
Doa-doa seperti ini janan sampai kalian ikut mengamini, belum mengamini saja sudah senin kemis, apalagi mengamini, bertambah dalam (terperosok) lagi.

Nasihat 56
Maaf, kalau saya harus mengatakan: Anda sebaiknya punya keterampilan. Jangan malu mengerjakan yang kecil, asal halal. Karena banyak sekali rekanan saya yang malu, misalnya jualan kopi di ujung sana, di sektor informal. Kok jualan kopi sih? Padahal saya mendambakan menjadi karyawan bank, biar terdengar keren dengan gaji tinggi. Kok ini? Kata mereka. Padahal ini halal menurut Allah dan sangat mulia. Sayang, mereka salah menempatkan, menjaga gengsi di hadapan manusia. Nah, ini tidak konsekuen, ini terlanjur salah kaprah. Kalau saya mengatakannya secara salah, saya yang terjepit.

Nasihat 57
Saya ini kan lain. Walau income resmi enggak ada, tanah tak punya, tapi ada rekanan yang lucu-lucu. Hingga rasa tasyakurlah yang lebih berkobar. Bukan rasa kurang atau yang lain.

Nasihat 58
Ada satu kios kecil yang isi dengan kebutuhan kampung seperti lombok, beras dan gula, di tempat yang sami’in tidak tahu. Kios itu saya percayakan pada seseorang. Terserah dia! Dan, tidak harus untung. Mungkin dia sendiri harus belajar untuk menerima kenyataan. Termasuk untuk tidak untung.

Nasihat 59
Jadilah seburuk-buruk manusia di mata manusia tetapi luhur di mata Allah.

Nasihat 60
Tidak apa-apa dianggap seperti PKI tetapi kelak masuk surga.

Nasihat 61
Hidup itu yang penting satu, keteladanan.

Nasihat 62
Kunci sukses adalah bergaul, dan di dalam bergaul kita harus ramah terhadap siapa saja. Sedang prinsipnya adalah bahwa pergaulan harus menjadikan cita-cita dan idaman kita tercapai, jangan sebaliknya.

Nasihat 63
Segala langkah, ucapan, dan perbuatan itu yang penting ikhlas, hatinya ditata yang benar, tidak pamrih apa-apa.

Nasihat 64
Kalau ada orang yang menggunjing aku, aku enggak usah kamu bela. Kalau masih kuat, silakan dengarkan, tapi kalau sudah tidak kuat, menyingkirlah.

Nasihat 65
Kalau ada orang yang menjelek-jelekkan, temani saja, jangan menjelek-jelekkan orang yang menjelek-jelekkan. Kalau memang senang mengikuti sunnah nabi, ya jangan dijauhi mereka itu karena nabi itu rahmatan lil alamin.

Nasihat 66
Kita anggota sami’in Dzikrul Ghofilin khususnya, ayo ramah tamah secara lahir dan batin dengan orang lain, dengan sesame, kita sama-sama manusia, walaupun berbeda wirid dan aliran. Kita harus mendukung kanan dan kiri yang sudah terlanjur mantab dalam Naqsabandiyah, Qodiriyah, atau ustadz-ustadz Tarekat Mu’tabarah. Jangan sampai terpancing untuk tidak suka, tidak menghormati pada salah satu wirid yang jelas muktabar dengan pedoman-pedoman yang sudah terang, khusus dan tegas

Nasihat 67
Tadi ada orang bertanya: Gus, saya ini di kampung bersama orang banyak. Jawab saya: Yang penting ingat pada Allah, tidak merasa lebih suci dari yang lain, tidak sempat melirik maksiat orang lain, dengan siapa saja mempunyai hati yang baik, itulah ciri khas pengamal Dzikrul Ghofilin.

Nasihat 68
Era sekarang, orang yang selamat itu adalah orang yang apa adanya, lugu dan menyisihkan diri.

Nasihat 69
“Miftah, kamu masih tetap suka bertarung pencak silat?” Tanya Gus Miek. Lha bagaimana Gus, saya ikut, jawab Miftah. “Kalau kamu masih suka (bertarung) pencak, jangan mengharap baunya surga.”

Nasihat 70
Saya lebih tertarik pada salah seorang ulama terdahulu, contohnya Ahmad bin Hambal. Kalau masuk tempat hiburan yang diharamkan Islam, dia justru berdoa: “Ya Allah, seperti halnya Kau buat orang-orang ini berpesta pora di tempat seperti ini, semoga berpesta poralah mereka di akhirat nanti. Seperti halnya orang-orang di sini bahagia, semoga berbahagia pula mereka di akhirat nanti.” Ini kan doa yang mahal sekali dan sangat halus. Tampak bahwa Ahmad bin Hambal tidak suka model unjuk rasa, demonstrasi anti ini anti itu. Apalagi seperti saya yang seorang musafir, saya dituntut untuk lebih menguasai bahasa kata, bahasa gaul, dan bahasa hati.

Nasihat 71
Seorang yang diolok-olok atau dicela orang lain, apa itu termasuk sabar? Badanya sakit, anaknya juga sakit, istrinya meninggal, apa itu juga termasuk sabar? Hartanya hancur, istrinya mati, anaknya juga mati, apa itu termasuk orang yang sudah sabar? Seperti itu tidak bisa disebut sebagai orang sabar, entah sabar itu bagaimana, aku sendiri tidak mengerti.

Nasihat 72
Tadi, ada orang yang bertanya: periuk terguling, anak-istri rewel, hati sumpek, pikiran ruwet, apa perlu pikulan ini (tanggung jawab keluarga) saya lepaskan untuk mencari sungai yang dalam (buat bunuh diri). Saya jawab: Jangan kecil hati, siapa ingin berbincng-bincang dengan Allah, bacalah Al Qur’an.

Nasihat 73
Tadi ada yang bertanya: Gus, bagaimana ya, ibadah saya sudah bagus, shalat saya juga bagus, tetapi musibah kok datang dan pergi? Saya jawab: mungkin masih banyak dosanya, mungkin juga bakal diangkat derajat akhiratnya oleh Allah; janganlah berkecil hati.

Nasihat 74
Orang-orang membacakan Al-Fatehah untukku, katanya aku ini sakit. Aku ini tidak sakit, hanya fisikku saja yang tidak kuat karena aktivitasku ini hanya dari mobil ke mobil, dan tidak pernah libur.

Nasihat 75
Ada empat macam perempuan yan diidam-idamkan semua orang (lelaki). Perempuan yang kaya, perempuan bangsawan, dan perempuan yang cantik. Tapi ada satu kelebihan yan tidak dimiliki oleh ketiga perempuan itu, yaitu perempuan yang berbudi.

Nasihat 76
Anaknya orang biasa itu ada yang baik dan ada yang jelek. Demikian juga anaknya kiai, ada yang baik dan ada yang jelek. Jangankan anaknya orang biasa atau anaknya kiai, anaknya nabi pun ada yang berisi dan ada yang kosong. Kalau sudah begini, yang paling baik bagi kita adalah berdoa.

Nasihat 77
Di tengah-tengah sulitnya kita mengarahkan istri, menata rumah tangga, dan sulitnya menciptakan sesuatu yang indah, sedang tanda-tanda musibah pun tampak di depan mata, semua itu menuntut kita menyusun ketahanan batiniah, berusaha bagaimana agar Allah sayang dan perhatian kepada kita semua.

Nasihat 78
Tadi, ada orang yang bertanya: anak saya nakal, ditekan justru menjadi-jadi, bagaimana Gus? Nasehat orang tua terhadap anaknya janganlah menggunakan bahasa militer, pakailah bahasa kata, bahasa gaul, dan bahasa hati.

Nasihat 79
Gus, kenapa Anda menamakan anak Anda dengan bahasa Arab dan non Arab? Begini, alas an saya menamakan dengan dua bahasa itu karena mbahnya dua; mbahnya di sini santri, mbahnya di sana bukan. Mbahnya di sini biar memanggil Tajud karena santri, mbahnya di sana yang bukan santri biar memanggil Herucokro; mbanya di sini biar memanggil sabuth, mbahnya di sana biar memanggil panotoprojo.

Nasihat 80
Menurut Anda, bagaimana sebaik-baiknya busana muslim itu? Jilbab kan banyak dipertentangkan akhir-akhir ini? Pada akhirnya, seperti penggabungan Indonesia, Siangapura, Malaysia, Thailand, Brunei, dan Filipina menjadi ASEAN, tidak menutup kemungkinan, ada bahasa dan busana ASEAN. Sehingga siapa pun dengan terpaksa untuk ikut dan patuh. Ya, kita sebagai orang tua harus diam kalau itu nanti terjadi, dan kalau ingin selamat, ya mulai sekarang kita harus berbenah.

Nasihat 81
Saya kira-kira dituntut untuk lebih menggalakkan ibadatul qalbi (ibadah dalam hati). Mungkin begitu. Sebetulnya putrid rekan-rekan ulama juga sudah banya yang terbawa arus; ya sebagian ada yang masih mengikuti aturan, tetap berjilbab, misalnya. Tetapi ada juga yang tetap berjilbab karena sungkan lantaran orang tuanya mubaligh. Secara umum, sudah banyak yang terbawa arus.

Nasihat 82
Dunia ini semakin lama semakin gelap, banyak hamba Allah yang bingung, dan sebagian sudah gila. Sahabat Muazd bin Jabbal berkata: “siapa yang ingat Allah di tengah-tengah dunia yang ramainya seperti pasar ini, dia sama dengan menyinari alam ini.”

Nasihat 83
Memiliki lidah atau mulut itu jangan dibirkan saja, lebih baik dibuat zikir pada Allah, dilanggengkan membaca lafal Allah.

Nasihat 84
Hadirin tadi ada orang yang bertanya: Gus, pendengar Al Qur’an ini kalau usai shalat fardhu, yang terbaik membaca apa ya? Saya jawab: Untuk wiridan, kecuali kalian yang sudah mengikuti sebagian tarekat mu’tabarah, baik membaca Al Fatehah 100 kali. Ini juga menjadi simbolnya Dzikrul Ghofilin. Resepnya, mengikuti imam Abu Hamid Al Ghazali, yang juga diijasahnya oleh adiknya, Syaikh Ahmad Al Ghazali.

Nasihat 85
Trimah, kamu pasti mau bertanya: Kiai, wiridannya apa, mau bertanya begitu kan? Tidak sulit-sulit, baca shalawat sekali, pahalanya 10 kali lipat; jangan repot-repot, baca shallallah ‘ala Muhammad, itu saja, yang penting benar.

Nasihat 86
Saya punya penyakit yang orang lain tidak tahu. Saya ini terus terang tamak, takabur yang terselubung, dan diam-diam ingin kaya. Padahal saya punya persoalan khusus dengan Allah. Artinya, saya adalah hamba yang diceramahkan, sedang Allah yang sudah saya yakini adalah sutradara.

Nasihat 87
Persoalan mengenai hakikat hidup di dunia masih sering kita anggap remeh. Olih karena itu, sangat perlu dilakukan sebentuk muhasabah. Sejauh mana tauhid kita, misalnya. Dan, ternyata kita belum apa-apa. Kita belum menjadi mukmin dan muslim yang kuat.

Nasihat 88
Taqarrub (pendekatan) kita kepada Allah seharusnya menjadi obat penawar bagi kita. Apa pun yang terjadi, apa pun yang diberikan Allah, syukuri saja. Sayang, terkadang kita belum bisa menciptakan keadaan yang demikian. Kita seharusnya bangga menjadi orang yang fakir. Sebab sebagian penghuni surga itu adalah orang –orang fakir yang baik.

Nasihat 89
Dahulu, pada usia sekitar 10 tahun, saya sering didekati orang,dikira saya itu siapa. Ungkapan orang yang datang kepada saya itu-itu saja: minta restu atau mengungkapkan kekurangan, terutama yang berhubungan dengan materi. Perempuan yang mau melahirkan juga datang. Dikira saya ini bidan. Karena makin banyak orang berdatangan, lalu saya menyimpulkan: jangan-jangan saya ini senang dihormati orang, jangan-jangan saya ini dianggap dukun tiban juru penolong atau orang sakti.

Nasihat 90
Surga itu miliknya orang-orang yang sembahyang tepat pada waktunya.

Nasihat 91
Shalat itu, yang paling baik, di tengah-tengah Al-Fatehah harus jernih pikiran dan hati.

Nasihat 92
Shalat itu, yang paling baik adalah berpikir di tengah-tengah membaca Al-Fatehah.

Nasihat 93
Coro pethek bodon. Di akhirat, bila berbuat buruk satu, berbuat baik satu itu rugi. Di akhirat, bila berbuat buruk satu, berbuat baik dua itu rugi. Di akhirat, bila berbuat buruk satu, berbuat baik tiga itu baru untung.

Nasihat 94
Kalau kamu ingin meningkat satu strip, barang yang kamu sayangi ketika diminta orang, berikan saja. Itu naik 1 strip, lebih-lebih sebelum diminta, tentu akan naik 1 strip lagi.

Nasihat 95
Seorang yang berani melakukan dosa, harus berani pula bertobat.

Nasihat 96
Kalau kamu mengerjakan kebaikan, sebaiknya kau simpan rapat-rapat; kalau melakukan keburukan, terserah kamu saja: mau kau simpan atau kau siarkan.

Nasihat 97
Kowe arep nandi Sir? Tanya Gus Miek. Badhe tumut ujian, jawab Siroj. Kapan? tanya Gus miek . sak niki, jawab Siroj. Golek opo?, Tanya Gus Miek lagi. “Ijasah,” jawab Siroj juga. Lho kowe ntukmu melu ujian ki mung golek ijasah, e mbok sepuluh tak gaekne. Yoh, dolan melu aku.
Artinya:
Kalau kamu ikut ujian hanya untuk ijasah, sini, mau 10 saya buatkan, ayo ikut saya.

Nasihat 98
“Kamu mau kemana sir?” Mau ngaji. “Biar dapat apa?” Biar masuk surga. “jadi, alasan kamu mengaji itu hanya untuk mencari surga? Jadi, surga bisa kamu peroleh dengan mengaji? Kalau begitu, sudah kitabmu ditaruh saja, ayo ikut bersama saya ke Malang.

Nasihat 99
Saya katakana kepada anak-anak, Dzikrul Ghofilin jangan sampai diiklankan atau dipromosikan sebagai senjata pengatrol kesuksesan duniawi.

Nasihat 100
Saya imbau, jangan sampai ada yang berjaga lailatul Qodar, itu ibarat memikat burung perkutut.

Nasihat 101
Belum tahun 2000 saja sudah begini; bagaimana kelak di atas tahun 2000? Dunia ini semakin lama semakin panas, semakin lama semakin panas, semakin lama semakin panas.

Nasihat 102
Saya senang orang-orang Nganjuk karena orangnya kecil-kecil. Ini sesuai sabda nabi: “Orang itu yang baik berat badannya 50.” Juga, ada sabda lain yang menguatkan : “Orang paling aku cintai di antara kalian adalah orang yang paling sedikit makannya.” Ini sesuai firman Allah: Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan rasa lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut (QS. Quraiys: 4).
Lapar adalah syarat untuk menghasilkan tujuan. Maka, siapa tidak senang lapar, ia bukan bagian dari ahli khalwat (menyendiri).

Nasihat 103
Miftah, kalau kamu nanti sudah pulang dari mondok, jangan suka menjadi orang terdepan.

Nasihat 104
Biarkan dunia ini maju. Akan tetapi, bagi kita umat Islam, akan lebih baik kalau kemajuan di bidang lahiriah dan umumiyah ini dibarengi dengan iman, ubudiyah, serta sejumlah keterampilan positif. Jadi, memasuki era globalisasi menuntut kita untuk lebih meyakini bahwa shalat lima waktu itu, misalnya, adalah senam atau olah raga yang paling baik. Setidak-tidaknya, bagi orang Jawa bangun pagi itu tentu baik. Apalagi kita yang mukmin. Dengan bangun pagi dan menyakini bahwa kegiatan shalat Subuh adalah senam olah raga yang paling baik, otomatis kita tersentuh untuk bergegas selakukan itu.

Nasihat 105
Sir, kalau kamu mau bertemu aku, bacalah Al-Fatehah 100 kali.

Nasihat 106
Kalau mau mencari aku, di mana dan kapan saja, silakan baca surah Al-Fatehah.

Nasihat 107
Mbah, kalau kamu mau bertemu aku, sedang kamu masih repot, kirimi saja aku Al-Fatehah, 41kali.

Nasihat 108
Mencari aku itu sulit; kalau mau bertemu dengan aku, akrablah dengan keluargaku, itu sama saja dengan bertemu aku. (tanbihun.com › Kumpulan Do'a)

Sumber : FP

Apakah Gus Dur Sengaja Mencari Celaan?

EMDE Channel | 9/17/2013 06:39:00 PM | 0 komentar
 
Jakarta, NU Online
Gus Dur tokoh yang kontraversial, banyak pendukung dan pemujanya, tetapi disisi lain, banyak orang yang mencaci dirinya. Toh ia santai saja atas sikap kelompok tersebut.

Banyak perilakunya yang diluar standar normal. Yang paling terkenal diantaranya ketika ia menyebut “DPR seperti anak TK“ yang masih sering dikutip sampai sekarang, dan hanya memakai celana pendek ketika keluar dari istana saat digulingkan dari jabatannya sebagai presiden. Banyak orang memandangnya dengan sinis, “presiden kok begitu.“

Jangan-jangan ia sengaja mencari celaan dan hinaan dari publik, agar hatinya selalu dekat dengan Allah? Dalam sufi, terdapat aliran Malamatiyah, yaitu kelompok sufi yang sengaja menghinakan dirinya. Ketika orang memuji dan mengkultuskannya, ia akan melakukan tindakan kontraversial agar dicaci publik untuk menghindari penyakit hati seperti riya’ (ingin dilihat baik), ujb (kagum dengan diri sendiri) dan nifaq (munafik/penampilan lahir lebih baik dari batin). Semua penyakit hati ini bisa menjauhkan hati seorang sufi kepada Allah.

“Saya ngak mau kurang ajar untuk ngrasani Gus Dur. Banyak orang yang lebih nyeleneh daripada Gus Dur dalam kewalian,“ kata ulama Betawi KH Saifuddin Amsir.

Orang seperti itu, kata rais syuriyah PBNU ini, mencari celaan dan orang lain dalam upaya melatih hati untuk meningkatkan kualitas hubungan dengan Allah. Pada titik tertentu, mereka sampai merasa, dirinya lebih hina daripada orang lain, bahkan binatang sekalipun.

Namun, aliran ini berbahaya jika salah memahaminya. Banyak orang yang ingin masuk kelompok ini dan melakukan maksiat yang berlebihan, tetapi terjebak disitu, tidak bisa membedakan antara mencari kemuliaan dan pemuja syahwat.

“Jadi kata malamatiyah, yaitu orang yang menisbahkan diri kepada malamah, kehinaan, cercaan. Itu yang dia cari.”

Di Jakarta, ia mengenal sosok seperti itu, dalam kehidupan sehari-hari, banyak perilakunya yang kelihatannya tidak pantas dilakukan oleh seorang tokoh agama, sehingga ia banyak diejek. Tetapi di sisi lain, sikapnya sangat baik kepada masyarakat.

Suatu hari “sufi” tersebut dengan kasar meminta hampir semua uang yang dimiliki oleh pejabat yang dengan sangat terpaksa memberikan apa yang dimiliki, meskipun dalam hati menjerit, karena harta yang dikumpulkan dengan susah payah tersebut diminta, apalagi dengan cara kasar.
Begitu mendapat uang tersebut, ia pergi ke rumah janda-janda yang membutuhkan sampai semua uang tersebut habis. Pulang ke rumah, orang tersebut masih diomeli sama istrinya, “setan loe, pulang-pulang ngak bawa uang.”

Disisi lain, pejabat yang dimintai uang tersebut mendapat ganti yang luar biasa besarnya. Peristiwa tersebut berulang kali terjadi pada orang tersebut, meminta uang kepada seseorang, kemudian ternyata tak lama kemudian, yang dimintai mendapat ganti yang lebih banyak.

“Pada puncak ia dihina habis, sampai merasa dia bukan apa-apa, kayak debu di atas meja, baru ada keberhasilan dia sebagai orang yang menjalani malamatiyah, ini sangat berat. Ini menghindari rasa riya, sombong, dan sifat hati jelek lainnya. Semuanya dipangkas habis. Ini sifat dasar manusia.”

Perilaku seperti ini tentu berbeda dengan kecenderungan manusia sekarang yang berusaha menampilkan kemegahan, citra semu agar dianggap kaya, keren atau berkuasa agar orang lain takut dan segan kepadanya.

Idiom yang sangat terkenal tentang kewalian adalah Laa yakriful wali illal wali yang artinya, tidak tahu seseorang itu wali kecuali juga wali. Ia menjelaskan, mereka merupakan sebuah komunitas khusus, yang saling kenal dan berkomunikasi karena memiliki kualitas yang sama. “Kalau anda kenal, berarti memiliki kualitas yang sama. Mereka tidak memiliki rasa takut dan sedih, semuanya diserahkan kepada Allah.”

Kiai Saifuddin menuturkan, sufi merupakan orang yang menghargai semua makhluk hidup, termasuk binatang. Di Jakarta, tahun 1940-an, terdapat sufi yang dikenal dengan mana Guru Kholid Gondangdia. Ia berkawan dengan KH Hasyim Asy’ari.

Ia pernah mengembalikan seekor semut rang-rang ke Cilebut, daerah dekat Bogor, tempat ia mengajar ketika pulang lewat kebun rambutan, semut tersebut menempel di jubahnya. Ia balik lagi ke kebun tersebut dan menaruh kembali semut rang-rang di pohon rambutan.

“Kalau kita sekarang, buang saja, banyak pohon rambutan di Jakarta, kan selesai. Ini sikap Guru Kholid, akan kasih sayangnya pada binatang.”(mukafi niam)

Sumber :nu.or.id

KH. SOLEH BAHRUDIN KALAM & NGALAH

EMDE Channel | 9/06/2013 06:45:00 PM | 0 komentar
Setelah beliau menikah pada tahun 1975 diusianya yang ke 22, beliau tidak lantas mengaktualisasikan ilmunya ditengah-tengah kehidupan yang lebih nyata, mengasingkan diri dari dekapan kedua orang tuanya dan hijrah untuk berjuang menyebarkan syariat Islam dipergumulan orang-orang yang masih membutuhkan media untuk mentransfer hidayah Tuhan masuk kedalam hati sanubari mereka, merubah kultur budaya masyarakat yang jauh dari tuntunan syariat.

Beliau yang sudah menikah mulai berfikir akan perekonomian keluarga yang dibinahnya, bergeraklah beliau untuk membuka usaha untuk menopang ekonomi keluarga dirumahnya, dengan modal yang sedikit beliau mencoba keberuntungannya untuk berdagang berbagai macam kebutuhan bangunan, dimulailah perdagangan itu dengan menyediakan batu kapur dan sedikit kayuglugu. Namun Tuhan berkata lain dan menurunkan ujian kepada beliau dengan diberi kesuksesan dan keberhasilan dalam usaha beliau, sehingga dengan waktu yang cukup singkat beliau mampu mengembangkan usahanya dan mendapatkan keuntungan yang melimpah. Pada dasarnya keuntungan dan keberhasilan dalam berdagang selalu beliau harapkan dan itu semua tentu saja menjadi harapan semua orang apalagi orang tua yang biasanya bahagia melihat kesuksesan anaknya. Namun berbeda dengan beliau dan kedua orang tuanya, beliau justru melihat semua itu merupakan ujian dari Allah SWT yang bisa membuat beliau melupakan tanggung jawab dan kewajibannya untuk mendampingi dan membantu orang tua beliau dalam mengajar dan mendidik para santri di pesantren ayahnya. Dengan kesibukan beliau akan pencarian dan penerimaan karunia Tuhan itu, suatu ketika beliau meninggalkan kewajibannya untuk mengajar dan mendidik santri ayahnya, seketika itu beliau dipanggil oleh ayahnya dan ditegur dengan nada penuh dengan kemarahan. Ayah beliau bertanya”teko endi koen kok gak ngajar mangko” (dari mana kamu? kok ndak ngajar tadi?) beliau menjawab dengan sopan”ndugi kilaan pak”mendengar jawaban sang putra Mbah Kyai Bahruddin Kalam atau ayah beliau langsung memarahi beliau”terusno.... tak obong tokomu” (teruskan ! saya bakar tokomu) , sungguh tauladan yang perlu kita petik hikmahnya, dimana kepentingan akhirat harus didahulukan dari pada kepentingan dunia, dan kepentingan orang lain lebih diutamakan dari pada kepentingan pribadi.

Hari demi hari beliau merasa gunda mendengar perkataan orang tuanya. Bagaimana tidak keberhasilan yang selalu diharapkan ternyata tidak bisa membuat orang tua beliau senang melihatnya, tapi justru membuat sedih dan marah. Itulah kesedihan beliau yang mendalam. Namun bagaimanapun juga beliau adalah hamba Tuhan yang selalu diberi petunjuk, sehingga pada akhirnya beliau menyadari bahwa dalam menjalani kehidupan ini tidak ada ujian dan cobaan yang berat untuk taat kepada kedua orang tua dan kepada Tuhannya selain ujian dan cobaan yang bersifat kenikmatan dan kesenangan. Dengan kenikamatan dan kesenangan orang akan lupa kepada perintah Tuhan dan bisa membuat dirinya berlaku sombong dan menghilangkan kepatuhan kepada kedua orang tuanya.

Disaat kebingungan menyelimuti alam pikiran beliau, terbersitlah hidayah Tuhan, sehingga beliau memutuskan untuk mencari sebuah ketenangan batin yang lebih hakiki, pergilah beliau untuk”manjing suluk”menuntaskan ilmu thoriqohnya pada Mbah KH. Munawir Kertosono, tepatnya pada tahun 1984 M, setelah”manjing suluk”selesai akhirnya beliau mendapatkan mandataris kemursyitan sebagai guru thoriqoh Naqsyabandiyah, Qodiriyah, kholidiyah, walmujadadiyah.Kesempurnaan beliau sebagai guru thoriqoh membuat hati sang guru yaitu Mbah KH. Munawir menguji akan kesetiaan beliau sebagai seorang murid, dipanggilah beliau oleh Mbah KH Munawir dan beliau diberi amanah yang cukup bertentangan dengan nafsu duniawi, dimana pada saat itu perekonomian keluarga beliau sudah mulai terbangun, tiba-tiba sang guru menyuruh beliau untuk meninggalkan semuanya; berkatalah sang guru “Koen iku anak barep, ojo gembol uwong tuwomu, dulurmu sek akeh, sak aken adik-adikmu kate manggon nangdi, wong tanahe bapakmu yo mek sak munu (kamu itu anak pertama, jangan bergantung pada orang tuamu, saudaramu banyak, kasihan adik-adikmu, mau bertempat dimana? lha tanah orang tuamu cuma segitu), beliau menjawab dospundi kale bapak? (bagaimana dengan bapak saya?) Sang guru menegur”uwong tuwomu opo jare aku, kuwe gelem tak toto leh? (orangtuamu itu urusanku, kamu mau saya tata?) ”beliau menjawab”inggih”sang guru mengatakan”kuwe nek gelem Ngalah barokah..!!” (kamu kalau mau mengalah..akan barokah). beliau menjawab lagi dengan kepatuhan”inggih”, dari situlah muncul sebuah doa yang terucap dari sang guru”Ngalah barokah,...Ngalah barokah,... Ngalah barokah” (mengalah.. barokah) .Tidak lama kemudian beliau minta izin pulang kerumah ayahnya, dan Mbah KH. Munawir berpesan”nek wes tutuk omah warahen bapakmu kongkon mrene”.
(jika sampai rumah, bilang bapakmu suruh kesini).

Setelah sampai dirumah beliau menceritakan kepada ayahnya apa yang telah diperintahkan oleh sang guru (Mbah KH. Munawir) kepadanya. Mbah KH. Bahruddin yang juga masih termasuk keponakan dari Mbah KH. Munawir langsung pergi ke Kertosono untuk menemui beliau, sesampainya Mbah KH. Bahruddin disana, Mbah KH. Munawir berkata kepada beliau ”anakmu soleh ojok digembol ae, culno jarno arek iku cek ngaleh” beliau menjawab ”inggih nderek aken”. Setelah perbincangan antara keduanya selesai, akhirnya Mbah KH. Bahruddin pulang, dan sesampainya dirumah beliau langsung memanggil Romo KH. Soleh Bahruddin dan memberikan sebuah wejangan akan beberapa hal yang harus beliau lakukan dalam menjalankan perintah sang guru.Dengan diiringi doa restu yang tulus, melepaskan anaknya untuk pergi berjuang menyampaikan kalam Tuhan, beliau berpesan;
  1. Kowe yen dholek panggunan kudu ora ado lan ora jedek songko pasar (Kamu kalau mencari tempat jangan yang terlalu jauh dan terlalu dekat dengan pasar)
  2. Panggunan mau ora adoh songko dalan sepur (Stasiun) (Tempat itu juga tidak jauh dari stasiun)
  3. Panggunan mau ora adoh songko ratan (Tempat itu juga tidak jauh dari jalan raya)
  4. Panggonan mau ora adoh songko banyu. (Tempat itu juga tidak jauh dari sungai)
  5. Panggunan mau seng penduduk’e isih tipis imane (Tempat yang penduduk atau warganya masih banyak yang belum beriman)
  6. Panggonan mau durung ono bangunan masjid. (Tempat itu masih belum ada masjidnya)
  7. Lan panggonan mau kudu ono pinggir tengene dalan. (dan tempat itu harus berada disebelah kanan jalan)
Belum kering rasa kegelisahan untuk mengawali perjuangan, pindah dari dekapan orang tua, jauh dari keluarga yang selalu memberikan perlindungan sesuai dengan amanah sang guru, hati danpikiran beliau tambah bergejolak rasa kebingungan sesaat setelah menerima pesan dari orang tuanya itu.
Dalam hati beliau bertanya-tanya kemana aku harus mencari tempat yang sesuai dengan petunjuk sang ayah itu.Namun dengan latar belakang ketaatan seorang anak yang selalu berbakti kepada guru dan orang tua, beliaupun tidak pikir panjang dan banyak komentar, dengan Bismillahdan percaya akan pertolongan Allah yang selalu menolong hamba-Nya, perintah itupun dilaksanakan dengan meminta restu kepada orang tuanya”Pangestunipun”,”iyo wes budalo tak pangestoni” (berangkatlah, saya restui) hanya doa itulah yang mengiringi beliau dalam menunaikan perintah sang guru dan orang tuanya.

bersambung...

Sumber : FP Komunitas Ngaji Sak Paran-Paran

Pendaki ‘’Nyleneh’’ Asal Tumpang Berjalan Mundur

EMDE Channel | 9/05/2013 08:47:00 AM | 0 komentar
Foto: Merdeka.com

Keteguhan dan keyakinan merupakan kunci meraih sukses.  Hal ini  diperlihatkan pendaki gunung bernama Iswahyudi alias Tarpin. Pria asal Tumpang Kabupaten Malang ini sukses menaklukkan Gunung Semeru secara ‘’nyeleneh’’ Yakni, berjalan mundur selama tiga hari dan berakhir awal pekan ini.

Gunung Semeru memang  sudah akrab dengan Tarpin. Maklum, selain sebagai pendaki, ayah  dua anak ini juga bekerja sebagai porter  atau pembawa barang untuk para pendaki di ‘‘atap‘‘ pulau Jawa ini. Bahkan, ia  sedikitnya  800 kali lebih mendaki gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut. Karena itu, ia sampai dijuluki Tarpin yang merupakan singkatan dari ‘‘Tarsan Pindah‘‘.“Saya sejak tahun 1986 sudah mendaki Gunung Semeru. Kalau ditanya tepatnya berapa kali saya mendaki, sudah lupa. Tapi sedikitnya ya  800 kali,‘‘ ujarnya ketika disambangi Malang Post di markas komunitasnya,Gimbal Alas Indonesia di Sawojajar Kota Malang,kemarin.
Karena itu, ia kemudian mempunyai gagasan ‘‘gila‘‘   mendaki Gunung Semeru dengan cara berjalan mundur.Maklum,  memang  belum ada seorangpun pendaki gunung yang ada di dunia ini melakukan pendakian dengan berjalan mundur. Dibantu dengan Komunitas Gimbal Alas  Tarpin akhirnya mewujudkan keinginannya. Namun, dia tidak asal maupun serta merta melakukannya. Melainkan juga melakukan persiapan dan melengkapi diri dengan peralatan mendaki yang lumrah dilakukan seorang pendaki. Bedanya, saat melakukan pendakian mundur, di badannya harus dipasang dua spion layaknya sepeda motor. “Bagaimana bisa lihat ke belakang, kalau tidak dipasang spion. Ya sebenarnya memang bisa saja tidak memakai spion, tetapi tentu  berpeluang  mendapat berbagai celaka,‘‘ urainya.
 Dia mengawali pendakian dengan  berjalan mundur, pada hari Sabtu (24/8)  mengambil start etape pertama dari Ranu Pani sekitar pukul 08.00 WIB menuju ke Ranu Kumbolo. Pendakian sejauh 12 km dengan medan yang sangat berliku serta menanjak, Tarpin selesaikan dengan waktu empat jam. “Kalau pendaki pemula, ya bisa jadi enam sampai tujuh jam. Belum lagi kalau sesekali berhenti istirahat, ya tambah lama,” urainya.
Foto : Merdeka.com
Sesampainya di Ranu Kumbolo sekitar pukul 12.00 WIB dia beristirahat selama satu jam. Sekitar pukul 13.00, dia start etape kedua menuju  Kali Mati. Pada etape keduanya tersebut, pria kelahiran 1 Januari 1965 ini, hanya memakan waktu lima jam, tepatnya sekitar pukul 18.00 Tarpin sudah berada di Kali Mati dan menginap di tempat tersebut.
Keesokan harinya, Minggu (25/8), dia bersama timnya melanjutkan pendakian mundur untuk menempuh etape ketiga sekitar pukul 12.00 menuju Kelik atau daerah batas vegitasi. Tarpin hanya menempuh waktu dua jam setengah, tepatnya pukul 14.20 WIB sudah sampai di batas vegetasi. “Di tempat tersebut, saya nge-camp lagi, karena sudah petang dan berkabut,” ucapnya.
Dia menuturkan, perlu tenaga yang ekstra kuat untuk menyelesaikan etape terakhir. Lantaran menurutnya, untuk mencapai puncak medan yang ditempuh semakin sulit. “Medannya berbatu dan berdebu tentunya semakin menantang. Belum lagi oksigen yang semakin tipis, karena berada di ketinggian,” urainya.
Hari Senin (26/8) sekitar pukul 05.30 WIB, dia melanjutkan kembali untuk menempuh etape keempat dengan tujuan Puncak Mahameru. Lagi-lagi berkat kelihaian dan keahliannya, Tarpin menyelesaikan etape waktu hanya lima jam. Tepatnya sekitar pukul 10.21 pria asal Tumpang ini sudah  berhasil sampai di puncak Semeru. Saat itu,  Tarpin bersama Komunitas Gimbal Alas Indonesia melakukan upacara mengibarkan bendera merah putih. Jika mendaki secara normal, Tarpin dan kawan-kawan biasanya cukup menghabiskan waktu sehari dan semalam untuk mencapai puncak Gunung Semeru. “Kemudian  kami selebrasi dan berfoto bersama. Saat itu kami sangat senang karena akhirnya bisa menaklukkan Gunung Semeru dengan berjalan mundur yang memang baru pertama kali,“ urainya.
Saat turun, dia juga berjalan mundur. Namun, saat turun lebih mudah dibanding saat mendaki. Selama melakukan perjalanan untuk turun tersebut, Tarpin bersama komunitasnya mengumpulkan sampah  yang  banyak berserakan di sepanjang jalur pendakian.“Kami memang mempunyai tujuan ganda melakukan aksi ini, selain menaklukan tantangan berjalan mundur, juga melakukan kegiatan sosial membersihkan sampah,“ jelasnya.
Melalui kegiatan itulah dia sekaligus berpesan agar kepada para pendaki pemula untuk tetap menjaga lingkungan Gunung Semeru. “Apalagi setelah dijadikan syuting  film 5 Cm, maka akhir-akhir ini Gunung Semeru semakin dipadati pendaki pemula. Biasanya usai mendaki, mereka membuang sampah begitu saja. Hal ini membuat rusak lingkungan dan tentunya membahayakan lingkungan,“ keluhnya.Terbukti, saat mengumpulkan sampah itulah, dia bersama komunitasnya berhasil mengeruk sampah dalam jumlah banyak kemudian dibawa turun untuk dibakar. ‘‘Setelah ini saya juga  ingin mendaki  Gunung Rinjani yang ada di Pulau Lombok Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan cara berjalan mundur,‘‘ pungkasnya.

sumber : Foto : Merdeka.com


Ketika mahameru didaki pemula. Akibatnya banyak kerusakan pada alam... *Sampah e cak dijupuki, ojok foto2an ae!!!  
(Sebuah Status kawan Abi Yazid Al Basthomi)

Foto: FB OM Dhemitz
Dan salah satu komentar status : Iswahyudi yang akrab disapa Tarpin (tarzan pinter), berhasil mewujudkan niatnya untuk mendaki Gunung Semeru dengan cara berjalan mundur. Ia mencapai puncak Mahameru pada hari Senin (26/8/2013) pagi yang merupakan puncak tertinggi di Pulau Jawa. Pendakian Tarpin dimulai sejak Sabtu (24/8/2013) pagi sekitar pukul 08.15 dari Pos Pendakian Semeru di Ranu Pane. Bagusnya lagi sembari berjalan Tarpin membersihkan sampah-sampah yang berserakan disepanjang jalan yang dilewatinya. Patut menjadi inspirasi dan bisa memotivasi kita semua untuk lebih menghargai alam. SUKSES TARPIN..SALAM DUA KAKI..
[sing nyekel rokok gan cak tarpin,sing sijine cak takim dukun bantengan tumpang] Sumber : FBOM Dhemitz

Album Baru Iwan Fals : "Raya" (Nama Anak Ke-3)

EMDE Channel | 6/26/2013 05:10:00 PM | 0 komentar
JAKARTA–Iwan Fals meluncurkan album terbarunya berjudul Raya yang diambil dari nama anak ketiganya. Dua nama anak Iwan Fals juga sempat menjadi judul lagu yaitu Galang Rambu Anarki dan Cikal.
Galang Rambu Anarki populer tahun 80an dan terdapat dalam album Opini. Hari kelahiran anak pertama Iwan Fals itu pada 1982 itu ditandai dengan naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) yang diabadikan dalam syair lagu tersebut.
Album Cikal keluaran tahun 1991, terinspirasi dari Annisa Cikal Rambu Basae, anak kedua Iwan Fals. Nama Cikal juga menjadi judul sebuah lagu yang keluar pada tahun yang sama.
Selasa (25/6), Iwan Fals meluncurkan album Raya, untuk anak bungsunya Raya Rambu Rabbani yang baru berusia 10 tahun. Lagu Raya juga turut menjadi pembuka album ini.
Menurut Iwan, album Raya adalah catatan hidupnya setelah mengeluarkan album Keseimbangan pada tahun 2010.
“Ini catatan-catatan saya tiga tahun setelah itu. Tentang dalam dan luar perasaan saya,” kata Iwan Fals saat meluncurkan albumnya.
Album Raya, menurut Iwan Fals, menggambarkan kegembiraan, kekecewaan, dan ekspresi diri musisi kawakan Tanah Air itu.
“Saya tidak tahu ini kritik atau bukan. Saya bikin saja, biar kritikus yang menilai,” kata Iwan Fals saat disinggung apakah lagu-lagunya ini merupakan kritik sosial.
Album berisi 18 lagu ini dikemas dalam dua kepingan cakram. Sang istri yang akrab disapa Mbak Yos dan anaknya Cikal yang memilihkan lagu-lagu yang dimuat dalam album ini.
Iwan Fals mengaku telah menciptakan lagu untuk sang anak sejak beberapa tahun yang lalu. Hanya saja, ia menunggu persetujuan sang anak hingga baru terealisasi sekarang.
Inspirasi membuat album ini datang ketika Iwan memperhatikan rutinitas sehari-hari anak bungsunya itu.  “Saya perhatikan Raya kalau sekolah bawa tas gede banget. Kok berat ya, hidup,” kata Iwan Fals.
Raya yang juga mendampingi sang ayah meluncurkan albumnya mengaku senang dibuatkan album oleh Iwan Fals. “Senang. Semoga lagunya jadi baik,” kata Raya yang lahir pada tahun 2003 itu.
Iwan Fals tertawa saat ditanya kapan membuat album dengan nama sang istri, Rosana, yang akrab dipanggil Yos.
“Soal album \’Yos\’, mudah-mudahan aja. Taj Mahal aja bisa. Mudah-mudahan ada Taj Mahal dalam bentuk album,” kata Iwan Fals dan tertawa.Taj Mahal adalah monumen terkenal di India yang dibangun seorang kaisar untuk istrinya.
Sang istri, Yos,  turut berkolaborasi bersama Iwan Fals dalam laguCinta Itu, yang terdapat dalam album terbaru Iwan Fals.
Iwan Fals menyebut keluarganya itu sebagai keluarga musikal.  “Hidup kami musikal. Nggak perlu mereka nyanyi, tiap detik mereka selalu bernyanyi, keluar atau dalam hati,” katanya.
Jadi kita tunggu saja apakah album terbaru Iwan Fals dengan tembang unggulan Raya akan setenar Galang Rambu Anarki atau Cikal.

Sumber : Foto :
Berikut petikan lirik pada bait pertama dalam lagu Raya: 'Raya', Album Terbaru Iwan Fals

Sang Kiai (Film)

EMDE Channel | 5/29/2013 01:34:00 PM | 0 komentar
Sang Kiai (Sebuah film drama)
Sang Kiai adalah film drama Indonesia tahun 2013 yang mengangkat kisah seorang pejuang kemerdekaan sekaligus salah satu pendiri Nahdlatul Ulama dari Jombang, Jawa Timur yakni Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari . Film ini akan dirilis pada tanggal 30 Mei 2013. Film ini dibintangi oleh Ikranagara, Christine Hakim, Agus Kuncoro, Adipati Dolken. Meriza Febriyani, Dimas Aditya dan Royhan Hidayat
Sinopsis
Pendudukan Jepang ternyata tidak lebih baik dari Belanda. Jepang mulai melarang pengibaran bendera merah putih, melarang lagu Indonesia Raya dan memaksa rakyat Indonesia untuk melakukan Sekerei (menghormat kepada Matahari). KH Hasyim Asyari sebagai tokoh besar agamis saat itu menolak untuk melakukan Sekerei karena beranggapan bahwa tindakan itu menyimpang dari aqidah agama Islam. Menolak karena sebagai umat Islam, hanya boleh menyembah kepada Allah SWT. Karena tindakannya yang berani itu, Jepang menangkap KH Hasyim Asyari.

KH Wahid Hasyim, salah satu putra beliau mencari jalan diplomasi untuk membebaskan KH Hasyim Asyari. Berbeda dengan Harun, salah satu santri KH Hasyim Asyari yang percaya cara kekerasanlah yang dapat menyelesaikan masalah tersebut. Harun menghimpun kekuatan santri untuk melakukan demo menuntut kebebasan KH Hasyim Asyari. Tetapi harun salah karena cara tersebut malah menambah korban berjatuhan.

Dengan cara damai KH Wahid Hasyim berhasil memenangkan diplomasi terhadap pihak Jepang dan KH Hasyim Asyari berhasil dibebaskan. Ternyata perjuangan melawan Jepang tidak berakhir sampai disini. Jepang memaksa rakyat Indonesia untuk melimpahkan hasil bumi. Jepang menggunakan Masyumi yang diketuai KH. Hasyim Asy'ari untuk menggalakkan bercocok tanam. Bahkan seruan itu terselip di ceramah sholat Jum'at. Ternyata hasil tanam rakyat tersebut harus disetor ke pihak Jepang. Padahal saat itu rakyat sedang mengalami krisis beras, bahkan lumbung pesantren pun nyaris kosong. Harun melihat masalah ini secara harfiah dan merasa bahwa KH. Hasyim Asy'ari mendukung Jepang, hingga ia memutuskan untuk pergi dari pesantren.

Jepang kalah perang, Sekutu mulai datang. Soekarno sebagai presiden saat itu mengirim utusannya ke Tebuireng untuk meminta KH HAsyim Asyari membantu mempertahankan kemerdekaan. KH Hasyim Asyari menjawab permintaan Soekarno dengan mengeluarkan Resolusi Jihad yang kemudian membuat barisan santri dan masa penduduk Surabaya berduyun duyun tanpa rasa takut melawan sekutu di Surabaya. Gema resolusi jihad yang didukung oleh semangat spiritual keagamaan membuat Indonesia berani mati.

Di Jombang, Sarinah membantu barisan santri perempuan merawat korban perang dan mempersiapkan ransum. Barisan laskar santri pulang dalam beberapa truk ke Tebuireng. KH Hasyim Asyari menyambut kedatangan santri- santrinya yang gagah berani, tetapi air mata mengambang di matanya yang nanar.
Sumber :

Ir. Sri Bintang Pamungkas Tokoh Yang Melawan Arus

EMDE Channel | 5/30/2012 10:31:00 AM | 2komentar
Ir. Sri Bintang Pamungkas M.Si., Ph.D., S.E
Siapa yang tak kenal Sri Bintang Pamungkas, tokoh politik nasional yang melejit namanya ketika era reformasi. Ternyata hingga saat ini nama Sri Bintang Pamungkas tetap dikenal dan memiliki pengaruh luas. Beliau pula yang menyebut dirinya adalah yang bertindak melawan arus...

Ir. Sri Bintang Pamungkas, MSi, PhD. SE.  Saat ini aktif sebagai staf akademik Jurusan Teknik Industri, Universitas Indonesia. Mr Bintang lahir di Tulungagung, Jawa Timur, 25 Juni 1945. Ia memulai pendidikan tinggi di Teknik Mesin, Institut Teknologi Bandung dan lulus pada 1971. Kemudian, ia melanjutkan studi di Teknik Industri, Universitas Southern Carolina dan memperoleh gelar master (MSISE) pada tahun 1979. Pada tahun 1984, ia menyelesaikan jalur pendidikannya dengan menyelesaikan PhD. program di IOWA State University.

Mr Bintang telah mengajar beberapa mata kuliah di Teknik Industri UI, termasuk Proses Manufaktur, Corporate Finance, dan Pengantar Ekonomi. Minat penelitiannya 'adalah di bidang Ekonomi Industri dan bidang Manajemen Keuangan. (Profile & Biografi Sri Bintang Pamungkas)

Dalam satu kesempatan bertemu dengan tokoh pelawan arus ini, Mr.Bintang yang kebetulan datang ke Perusahaan PT. MR untuk keperluan mengurus ijin / pengajuan putrinya yang saat ini kuliah di Universitas Gunadarma untuk Praktek Kerja Lapangan (PKL) di MR. Hari sudah sore, jam kerja sudah lewat dan kebanyak karyawan sudah meninggalkan kantor. Beruntung orang yang biasanya mengurusi tentang hal tersebut masih ada di tempat, Pak "DEKAN" Sahiran, begitu teman-teman kantor biasa memanggilnya. Sebelum pak Dekan menemui Mr. Bintang, Sebutlah Eko Budiono yang tadinya mau meninggalkan kantor dan terlebih dulu absen pulang di ruang loby bertemu dengan Mr. Bintang Tokoh Pelawan Arus itu. Maka terjadilah obrolan kecil tapi ceplas ceplos. Dalam kesempatan itu, Sdr. Eko meninggalkan Mr.Bintang sebentar untuk memanggil Pak Dekan untuk menemuinya, dan sayapun diajaknya untuk bertemu dan sekedar ngobrol dengan beliau. Dalam kesempatan itu pula, kami sempatkan untuk foto bersama Tokoh Pelawan Arus itu...

Foto lainnya...
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Griya Maya Rog Rog Asem - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger