BAHWASANNYA

Adanya "ADA" itu "ADA",Tidak adanya "ADA" itu "ADA".Adanya "Tidak Ada" itu "ADA",Tidak Adanya "Tidak Ada" itu "ADA"....
"Huwalloh, Robby...Wa Robbukum...Dialah Allah, Tuhanku dan Tuhan Kalian"

Tampilkan postingan dengan label arema-aremania. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label arema-aremania. Tampilkan semua postingan

Pendaki ‘’Nyleneh’’ Asal Tumpang Berjalan Mundur

EMDE Channel | 9/05/2013 08:47:00 AM | 0 komentar
Foto: Merdeka.com

Keteguhan dan keyakinan merupakan kunci meraih sukses.  Hal ini  diperlihatkan pendaki gunung bernama Iswahyudi alias Tarpin. Pria asal Tumpang Kabupaten Malang ini sukses menaklukkan Gunung Semeru secara ‘’nyeleneh’’ Yakni, berjalan mundur selama tiga hari dan berakhir awal pekan ini.

Gunung Semeru memang  sudah akrab dengan Tarpin. Maklum, selain sebagai pendaki, ayah  dua anak ini juga bekerja sebagai porter  atau pembawa barang untuk para pendaki di ‘‘atap‘‘ pulau Jawa ini. Bahkan, ia  sedikitnya  800 kali lebih mendaki gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut. Karena itu, ia sampai dijuluki Tarpin yang merupakan singkatan dari ‘‘Tarsan Pindah‘‘.“Saya sejak tahun 1986 sudah mendaki Gunung Semeru. Kalau ditanya tepatnya berapa kali saya mendaki, sudah lupa. Tapi sedikitnya ya  800 kali,‘‘ ujarnya ketika disambangi Malang Post di markas komunitasnya,Gimbal Alas Indonesia di Sawojajar Kota Malang,kemarin.
Karena itu, ia kemudian mempunyai gagasan ‘‘gila‘‘   mendaki Gunung Semeru dengan cara berjalan mundur.Maklum,  memang  belum ada seorangpun pendaki gunung yang ada di dunia ini melakukan pendakian dengan berjalan mundur. Dibantu dengan Komunitas Gimbal Alas  Tarpin akhirnya mewujudkan keinginannya. Namun, dia tidak asal maupun serta merta melakukannya. Melainkan juga melakukan persiapan dan melengkapi diri dengan peralatan mendaki yang lumrah dilakukan seorang pendaki. Bedanya, saat melakukan pendakian mundur, di badannya harus dipasang dua spion layaknya sepeda motor. “Bagaimana bisa lihat ke belakang, kalau tidak dipasang spion. Ya sebenarnya memang bisa saja tidak memakai spion, tetapi tentu  berpeluang  mendapat berbagai celaka,‘‘ urainya.
 Dia mengawali pendakian dengan  berjalan mundur, pada hari Sabtu (24/8)  mengambil start etape pertama dari Ranu Pani sekitar pukul 08.00 WIB menuju ke Ranu Kumbolo. Pendakian sejauh 12 km dengan medan yang sangat berliku serta menanjak, Tarpin selesaikan dengan waktu empat jam. “Kalau pendaki pemula, ya bisa jadi enam sampai tujuh jam. Belum lagi kalau sesekali berhenti istirahat, ya tambah lama,” urainya.
Foto : Merdeka.com
Sesampainya di Ranu Kumbolo sekitar pukul 12.00 WIB dia beristirahat selama satu jam. Sekitar pukul 13.00, dia start etape kedua menuju  Kali Mati. Pada etape keduanya tersebut, pria kelahiran 1 Januari 1965 ini, hanya memakan waktu lima jam, tepatnya sekitar pukul 18.00 Tarpin sudah berada di Kali Mati dan menginap di tempat tersebut.
Keesokan harinya, Minggu (25/8), dia bersama timnya melanjutkan pendakian mundur untuk menempuh etape ketiga sekitar pukul 12.00 menuju Kelik atau daerah batas vegitasi. Tarpin hanya menempuh waktu dua jam setengah, tepatnya pukul 14.20 WIB sudah sampai di batas vegetasi. “Di tempat tersebut, saya nge-camp lagi, karena sudah petang dan berkabut,” ucapnya.
Dia menuturkan, perlu tenaga yang ekstra kuat untuk menyelesaikan etape terakhir. Lantaran menurutnya, untuk mencapai puncak medan yang ditempuh semakin sulit. “Medannya berbatu dan berdebu tentunya semakin menantang. Belum lagi oksigen yang semakin tipis, karena berada di ketinggian,” urainya.
Hari Senin (26/8) sekitar pukul 05.30 WIB, dia melanjutkan kembali untuk menempuh etape keempat dengan tujuan Puncak Mahameru. Lagi-lagi berkat kelihaian dan keahliannya, Tarpin menyelesaikan etape waktu hanya lima jam. Tepatnya sekitar pukul 10.21 pria asal Tumpang ini sudah  berhasil sampai di puncak Semeru. Saat itu,  Tarpin bersama Komunitas Gimbal Alas Indonesia melakukan upacara mengibarkan bendera merah putih. Jika mendaki secara normal, Tarpin dan kawan-kawan biasanya cukup menghabiskan waktu sehari dan semalam untuk mencapai puncak Gunung Semeru. “Kemudian  kami selebrasi dan berfoto bersama. Saat itu kami sangat senang karena akhirnya bisa menaklukkan Gunung Semeru dengan berjalan mundur yang memang baru pertama kali,“ urainya.
Saat turun, dia juga berjalan mundur. Namun, saat turun lebih mudah dibanding saat mendaki. Selama melakukan perjalanan untuk turun tersebut, Tarpin bersama komunitasnya mengumpulkan sampah  yang  banyak berserakan di sepanjang jalur pendakian.“Kami memang mempunyai tujuan ganda melakukan aksi ini, selain menaklukan tantangan berjalan mundur, juga melakukan kegiatan sosial membersihkan sampah,“ jelasnya.
Melalui kegiatan itulah dia sekaligus berpesan agar kepada para pendaki pemula untuk tetap menjaga lingkungan Gunung Semeru. “Apalagi setelah dijadikan syuting  film 5 Cm, maka akhir-akhir ini Gunung Semeru semakin dipadati pendaki pemula. Biasanya usai mendaki, mereka membuang sampah begitu saja. Hal ini membuat rusak lingkungan dan tentunya membahayakan lingkungan,“ keluhnya.Terbukti, saat mengumpulkan sampah itulah, dia bersama komunitasnya berhasil mengeruk sampah dalam jumlah banyak kemudian dibawa turun untuk dibakar. ‘‘Setelah ini saya juga  ingin mendaki  Gunung Rinjani yang ada di Pulau Lombok Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan cara berjalan mundur,‘‘ pungkasnya.

sumber : Foto : Merdeka.com


Ketika mahameru didaki pemula. Akibatnya banyak kerusakan pada alam... *Sampah e cak dijupuki, ojok foto2an ae!!!  
(Sebuah Status kawan Abi Yazid Al Basthomi)

Foto: FB OM Dhemitz
Dan salah satu komentar status : Iswahyudi yang akrab disapa Tarpin (tarzan pinter), berhasil mewujudkan niatnya untuk mendaki Gunung Semeru dengan cara berjalan mundur. Ia mencapai puncak Mahameru pada hari Senin (26/8/2013) pagi yang merupakan puncak tertinggi di Pulau Jawa. Pendakian Tarpin dimulai sejak Sabtu (24/8/2013) pagi sekitar pukul 08.15 dari Pos Pendakian Semeru di Ranu Pane. Bagusnya lagi sembari berjalan Tarpin membersihkan sampah-sampah yang berserakan disepanjang jalan yang dilewatinya. Patut menjadi inspirasi dan bisa memotivasi kita semua untuk lebih menghargai alam. SUKSES TARPIN..SALAM DUA KAKI..
[sing nyekel rokok gan cak tarpin,sing sijine cak takim dukun bantengan tumpang] Sumber : FBOM Dhemitz

2013, Malang Jadi Bandara Internasional

EMDE Channel | 5/01/2012 11:23:00 AM | 0 komentar
MALANG – Meski jumlah bandara internasional di Indonesia-- mencapai 27 bandara-- dinilai terlalu berlebihan, tapi tahun depan Jawa Timur menargetkan Bandara Abdulrachman Saleh, Malang  juga ‘go’ internasional. Selain karena Bandara Juanda sudah melebihi kapasitas, sehingga diperlukan bandara pendamping, dengan fasilitas baru rute dunia bisa menerbangi Malang.

Gerbang Bandara Abdurrahman Saleh, Malang
Namun menurut kalangan pengamat fasilitas Bandara Abdulrahman Saleh saat ini masih jauh dari kata cukup untuk menjadi bandara internasional. “Pada dasarnya Malang punya potensi besar untuk pariwisata namun pencanangan sebuah bandara menjadi sebuah bandara internasional butuh waktu dan proses yang panjang,” terang pengamat penerbangan Dudi Sudibyo Rabu (11/4).
Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk bandara Internasional  antara lain Karantina, Balai Kesehatan untuk penumpang, Bea Cukai dan Imigrasi serta Sosialisasi terhadap pasar luar bahwa di Jatim terdapat dua bandara international yaitu Bandara Juanda dan Bandara Abdul Rahman Saleh.
 Terkait runway, bandara Malang hanya memiliki panjang 2.300 meter, padahal untuk sebuah bandara international syaratnya sekitar 3.000 meter. Sementara untuk kedatangan dalam dan luar negeri dia merasa telah cukup memenuhi Kuota.
Selain itu  masih banyak peralatan lain yang hasrus disiapkan. Bandara Abdulrahman  Saleh harus dipasang instrument light system (ILS). Pasalnya hingga kini bandara itu belum memiliki ILS, sedangkan untuk memasang ILS merupakan kewenangan pemerintah pusat.ILS ini digunakan untuk memfasilitasi penerbangan pada malam hari.
“Sejauh ini masih sekitar tujuh kali penerbangan pulang pergi. Dari Malang-Jakarta sebanyak enam kali penerbangan, dan satu kali penerbangan Malang-Denpasar. Itu siang semua, jadi belum lah,” tambahnya
Terpisah Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Bandara, Mayor Teguh Susilotomo mengatakan 2013 semua fasilitas bandara sudah selesai pengerjaannya. “Sekarang tinggal perbaikan di kiri dan kanan saja. Selama empat minggu ke depan, perbaikan terakhir itu ditarget sudah selesai. Jadi 2013 siap pakai,” katanya saat dihubungi Rabu (11/4) pagi tadi.
Dicontohkannya perpanjangan lintasan atau runway dari sebelumnya 1.900 meter menjadi lebih dari 2.300 meter telah selesai. Setelah finishing, kini tinggal pemasangan runway light sekitar 400 meter untuk mempermudah proses landing pesawat.  “Kalau runway light ini dipasang secepatnya. Harapan kami tahun ini juga sudah selesai,”paparnya.
Sementara untuk pengerjaan terminal keberangkatan yang berdiri 2 lantai saat ini masih terhenti. Teguh memperkirakan mandeknya pengerjaan itu disebabkan karena anggaran yang belum turun pada tahun ini.
“Mungkin karena anggaran tahun ini belum turun. Kalau sudah cair, bisa segera dikerjakan lagi. Untuk pembangunan terminal keberangkatan, Pemprov Jatim yang tahu karena anggarannya dari APBD Jatim,” urai Teguh.Saat ini pengerjaannya baru sekitar 30% saja. Kapasitasnya mampu menampung hingga 900 penumpang.
Sebelumnya, Gubernur Jawa Timur, Soekarwo mengatakan, usulan agar Bandara Abdulrahman Saleh menjadi bandara internasional sudah disampaikan kepada Meteri Perhubungan sejak dua bulan silam.
“Menhub sudah menerima dan sekarang mempelajari usulan kami,” kata Soekarwo usai Apel Komandan Satuan di Dodikjur Rindam V Brawijaya Malang, Selasa (10/4).
Sejak akhir 2011 silam, bandara yang sebelumnya menyatu dengan pangkalan TNI AU ini sudah terpisah dengan penerbangan militer. Sehingga murni untuk penerbangan komersial dan dibentuk Unit Pelaksana Teknis (UPT) Bandara yang bertanggungjawab langsung kepada Pemprov Jawa Timur. Dengan demikian, Bandara Abdurrahman Saleh menjadi bandara yang dikelola oleh Pemprov Jawa Timur dan tiga pemerintah daerah Malang Raya (Kabupaten Malang, Kota Batu dan Kota Malang).“Bandara Abdurrahman Saleh akan menjadi pilot project, biar PT Angkasa Pura punya competitor,” ujar Soekarwo.
Salah stau pertimbangan Malang harus memiliki bandara internasional karena geliat Malang Raya makin pesat. Diantaranya, sebanyak 45% mahasiswa yang belajar di Malang berasal dari luar Jawa Timur.
Usulan bandara Abd Saleh menjadi bandara internasional ini disambut baik oleh Pemkot Malang. Walikota Malang, Peni Suparto mengatakan, pihaknya sudah memiliki rencana untuk membangun embarkasi haji bagi para jamaah haji yang berasal dari Kota Malang.
“Kalau rencana itu disetujui, kami siap membangun embarkasi haji. Sehingga para jamaah haji tak perlu jauh-jauh ke Surabaya,” kata Peni.
Selain itu, sambungnya, manfaat lainnya tentu dirasakan masyarakat Malang Raya. Misalnya, berpengaruh pada tingkat kunjungan wisatawan dari luar daerah. Karena akses transportasi semakin mudah dijangkau.
Sekadar diketahui, dari 27 bandara internasional di Indonesia sebenarnya hanya 5 yang ideal mengikuti program open sky penerbangan ASEAN pada 2015.Lima bandara Indonesia yang akan sepenuhnya dibuka untuk dimasuki maskapai-maskapai dari negara ASEAN yaitu Soekarno-Hatta (Jakarta), Kualanamu (Medan), Juanda (Surabaya), Ngurah Rai (Denpasar) dan Sultan Hasanuddin (Makassar).zar,m42

Contoh Jenis Barang Dagangan Yang Dijual di Stand Malang Kembali VII 2012

EMDE Channel | 4/30/2012 02:57:00 PM | 0 komentar
Kalau membaca nama-nama jenis makanan, mainan, kerajinan, dan lain-lain di bawah ini. yang terasa benar-benar ada pada kondisi budaya dan peradaban Malang dan sekitarnya. Saya jadi teringat masa-masa kecil dan ingin sekali mengenangnya. Ini hanya sekedar kopi paste Informasi Stan Festival Malang Kembali 2012 yang diselanggarakan oleh Jajasan Inggil, Djalan Gadjahmada no. 4 Malang dan Pemerintah kota Malang




Contoh Jenis Barang Dagangan (yang Diperbolehkan) Dijual di Stand Malang Kembali VII 2012
  1. Stand Makanan
    • Sego Jagung, Pecel, Kuning, Kuning, Rames, Goreng Jowo
    • Rujak Petis, Cingur, Legi
    • Orem-orem
    • Sate Kambing, Ayam, Klopo
    • Tahu Lontong, Tahu Bumbu, Tahu Telor
    • Mi Goreng Jowo
    • Soto Daging Ayam, Daging Sapi, Daging Kambing
    • Ikan Bakar, Ayam Bakar
  2. Stand Batik
    • Baju Batik
    • Pakaian Reog
    • Kebaya
    • Sorjan
    • Blangkon
    • Sewek
    • Kaos Oblong
    • Kopiah
    • Sarung
    • Topi Laken
    • Capil
  3. Stand Jajanan dan Minuman
    • Gandos Rangin
    • Lupis, Cenil. Putu
    • Horog-horog, Sawut, Gatot, Tiwul
    • Jajan Cecek-cecekan
    • Gempo, Lemet, Iwel-iwel, Bugis
    • Getuk, Apem, Bikang, Kucur
    • Ting-ting, Gulo Kacang, Carang Mas
    • Lamtari, Opak, Renginang
    • Samiler, Krupuk Rambak, Krupuk Pasir
    • Gelali, Arbana
    • Gelali, Arbanat
    • Gorengan
    • Polo Pendem
    • Jagung Godhog, Jagung Bakar, Kacang
    • Jenang Grendul, Jenang Sum-sum, Jenang Abang
    • Angsle, Kolak, Ronde
    • Kopi, Teh, Wedhang Jae, susu
    • Es Degan, Dawet
    • Es Puter
    • Roti Maryam
    • Es Gandul Tali Merang
    • Es Lilin, Es Goyang
    • Jamu
    • Buah Juwet, Rukem, Ranti
  4. Stand Jasa
    • Pijit Tradisional
    • Salon & Spa Tradisional
    • Ramalan
    • Jamas Keris
  5. Stand Kerajinan
    • Gerabah, Keramik
    • Akik
    • Lukisan
    • Wayang Kulit
    • Topeng Kayu
    • Jaran Kepang, Caplokan, Reog
    • Produk Handy Craft
    • Kloso Pandan
    • Payung Kertas
    • Alat Dapur Tradisional
    • Klompen
  6. Stand Benda Antik
    • Perabot Antik
    • Buku Kuno
    • Sepeda Onthel
    • Uang Lama
    • Benda Pos Kuno
  7. Stand Mainan Anak
    • Bedhil-bedhilan
    • Gasing Kayu,Bambu
    • Terbang
    • Kapal-kapalan Kayu
    • Kuda-kudaan Kayu
    • Kekehan
    • Tulup
    • Damar Kurung
    • Kitiran
    • Burung, Kelinci, Gareng Pung, Jangkrik
    • Keong
Sumber, Artikel/foto/logo :

Balada Petani Tua

EMDE Channel | 6/22/2011 07:16:00 PM | 0 komentar
SPESIAL:
Terkait kisruh di internal Arema Indonesia, Lucky Acub Zainal mengeluarkan sebuah tulisan berjudul 'Balada Petani Tua'.

Pendiri Arema Indonesia Lucky Acub Zainal tampaknya juga merasa gerah dengan kisruh yang terjadi di internal manajemen Arema saat ini. Seperti yang diketahui, internal Arema sedang bergejolak setelah ada dua kubu yang ingin membawa investor yang berbeda untuk masuk ke Arema.

Oleh karena itu, Sam Ikul [sapaan Lucky Acub Zainal] membuat sebuah tulisan yang berisikan sindiran halus kepada dua kubu tersebut. Lucky menuliskan cerita mengenai seorang anak bernama Tole dan ayahnya yang mempunyai profesi sebagai petani. Dalam cerita tersebut, sang anak terlihat kebingungan dengan adanya dua kubu yang ingin menguasai Arema.

Dalam tulisan tersebut, Sam Ikul berharap agar semua pihak yang berseteru tidak memikirkan kekuasaan saja, tetapi juga memikirkan nasib dari orang-orang kecil yang memperoleh hidup dari apa yang mereka perebutkan.

Berikut adalah tulisan Lucky Acub Zainal, yang diterima kontributor Malang untuk GOAL.com Indonesia, Aang Kurniawan:

Suatu senja di pertengahan bulan Juni 2011, di sebuah dusun terpencil di kaki gunung semeru, sinar matahari mulai memerah tanda sang matahari akan beristirahat.
Di salah satu rumah, atau lebih tepatnya sebuah gubuk reyot, duduklah seorang petani tua di depan rumahnya, umurnya sekitar 60 tahun, perawakan tubuhnya sedang, kulitnya hitam legam dengan peluh yang masih menetes, duduknya santai sembari menghisap sebatang rokok klobot yang dia miliki. Dihisapnya dalam-dalam rokok itu, sambil merasakan indahnya alam senja, dari kejauhan seorang anak kecil berlari menghampirinya, anak itu masih mengenakan seragam sekolahnya yang lusuh karena sudah beberapa hari dipakainya tanpa dicuci, dan sepatu hitam dan kaus kakinya yang sudah molor turun hingga mata kaki karena hanya itu satu-satunya kaus kaki yang dia punya, dari kejauhan anak kecil itu berseru "PAAAK!! BAPAAK!! AKU TEKO PAK! [Paaak!! Bapaak!! Saya Datang Pak!]," si anak itu ternyata putra si petani tua dengan cepat menghampiri bapaknya, setibanya di rumah sang anak yang bernama Tole langsung menghampiri bapaknya dan mencium tangan bapaknya itu, kemudian duduk di sebelahnya.

Setelah beberapa saat mereka saling berdiam diri, mungkin karena sama-sama kelelahan, Tole membuka tasnya yang sudah sobek, ia mengeluarkan beberapa lembar kertas koran terbitan beberapa hari yang lalu dan mulai membacanya dan terjadi dialog antara bapak dan anaknya "Wuih Pak!onok gambare dhuwit uakeh banget,sak mejo! [Wuih Pak! ada gambar uang banyak sekali, satu meja!]" ucap Tole "ckckckc,miliaran lo pak!" lanjut Tole, tapi sang bapak tidak menjawab, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu "OOOOOO, gawe mbayar pemaine AREMA Pak! [Oooo buat membayar pemain Arema Pak!]" ucap Tole menerangkan "Wih, berarti pemaine AREMA iku bayarane akeh yo pak? [Wih, berarti pemain Arema itu bayarannya banyak ya pak?]" tanya Tole ke bapaknya itu, akhirnya sang bapak menjawab "Iyo le [Iya Le]," jawab sang bapak singkat, Tole terus membaca dan membuka lembaran koran lain "Lho Pak, iki onok beritane AREMA maneh! jarene ate dituku Bakrie. Bakrie iku sopo yo Pak? [Loh Pak, ini ada beritanya Arema lagi! Katanya akan dibeli Bakrie. Bakrie itu siapa ya Pak?]," bapaknya pun menjawab "Bapak yo gak weruh Le [Bapak juga tidak tahu Le]," ucap bapak singkat "OOOH!Aku eling pak!iku lho,sing ngebor ing Sidoarjo terus njeblhuk iku lo pak! [OOOH! Saya ingat Pak! Itu lho, yang mengebor di Sidoarjo lalu ambrol itu lho Pak!]," ucap Tole bersemangat "Oooh" lagi-lagi bapaknya hanya menjawab singkat "Sugih iku pak! aku tau moco ning koran jarene pengusaha minyak, tapi aku yo tau moco lek jare AREMA iku yo arep dituku sing jenenge Panigoro [Kaya itu Pak! saya pernah baca di koran katanya pengusaha minyak, tetapi saya juga pernah baca kalau Arema juga akan dibeli oleh yang namanya Panigoro]," ucap Tole "Akeh yo sing arep nduweni AREMA, padahal jarene AREMA kuwi rugi terus [Banyak ya yang ingin memiliki Arema, padahal Arema itu katanya rugi terus]," lanjut Tole agak heran, sang bapak menjawab perlahan "Bapak ora weruh le, wong saiki iki bapak lagi mikiri tandurane bapak nang tegalanmu, bapak sesuk kudu nggolek pupuk soale wis wayahe nggarem (memupuk/memberi pupuk),kok yo kudu mikiri bal-balan senenganmu [Bapak tidak tahu Le, sekarang Bapak lagi memikirkan tanaman di pekaranganmu, Bapak besok harus cari pupuk karena sudah saatnya untuk memupuk, kok harus memikirkan sepakbola kesenangan kamu]," ucap bapaknya pelan "Pak, tapi aku yo pingin nonton AREMA ing Stadion Kanjuruhan kono,pingin ndelok pemain londo-ne sing jenenge Roman Chmelo iku lo pak [Pak, tetapi saya juga ingin melihat Arema di stadion Kanjuruhan sana, ingin melihat pemain asing yang namanya Roman Chmelo itu Pak]," rupanya Tole hafal betul pemain AREMA terutama Roman Chmelo "Hoalah Le,karcise kan yo larang..terus kowe yo numpak opo meronone? adoh lo Le, bapak ora nduwe dhuwit..nontok nang TV Balai Desa ae yo [Oalah Le, tiketnya kan juga mahal..terus kamu naik apa kesananya? Jauh Le, Bapak tidak punya uang...nonton di TV Balai Desa saja ya]," Tole pun hanya terdiam, sesaat kemudian Tole bertanya pada bapaknya "Pak, Pak, kiro-kiro nek dibandingno Bakrie, Panigoro, karo sing duwe dhuwit sak meja mau sugih endi yo pak? [Pak, Pak, kira-kira kalau dibandingkan Bakrie, Panigoro, dan yang punya uang satu meja tadi lebih kaya mana ya pak?]" sang bapak langsung memeluk Tole dan mengelus kepala anaknya dengan penuh kasih sayang sambil berkata dengan lirih "Sugih bapakmu nak! soale bapak nduwe kowe nak! kowe sinau sing sregep lan sekolah sing dhuwur, ben sesuk duwit iso sak mejo! mboh carane bapak golek dhuwit [Lebih kaya Bapak kamu nak! karena Bapak punya kamu nak! Kamu belajar dan sekolah yang tinggi, agar besok uang kamu bisa satu meja! Tidak tahu bagaimana caranya Bapak mencari uang]," sayup-sayup terdengar suara adzan Maghrib "Inggih pak! Amin! [Iya Pak, Amin!]" Tole tersenyum "Ayo nak, wis Maghrib, ndang adus terus sholat maghrib karo kirim Fatihah nang ibumu..[Ayo nak, sudah Maghrib, segera mandi lalu sholat Maghrib dan mengirim Fathihah ke Ibu kamu...]" Mereka pun beranjak masuk ke dalam rumah mereka,meninggalkan kertas koran yang baru dibaca Tole di depan rumah mereka,dan WHUUUUSSSSH angin sore bertiup dan menerbangkan kertas-kertas koran itu,seakan menerbangkan impian sang petani tua ke awang-awang...
Angin malam berhembus menyusup ke dalam rumah seakan ingin bergabung dengan Tole dan bapaknya, Tole yang sedang belajar dengan tekun dibawah sinar lampu teplok didampingi sang bapak yang dengan setia menemani sembari mendengarkan suara wayang yang terdengar dari radio kecilnya "Kowe sinau opo iku Le? [Kamu belajar apa itu Le?]" tanya sang bapak "Sejarah pak" ucap Tole dan terus melanjutkan belajarnya "Ooo, iyo! apik [Ooo, iya! Bagus]" jawab bapak sambil tetap mendengarkan radionya "wayange lakone opo pak? [Wayangnya ceritanya apa pak?]" tanya Tole penasaran "Yo koyok biasane, lanjutane Kurawa karo Pendawa rebutan Ngastina, Kurawa ora gelem ngalah [Ya seperti biasanya, lanjutannya Kurawa dan Pandawa berebut Ngastina, Kurawa tidak mau mengalah]" ucap si bapak menerangkan "Kok malih koyok wong jaman saiki yo pak? [Kok jadi seperti orang jaman sekarang ya Pak?]" ucap Tole heran "Lha yo iku le, Bapak yo heran. Mbok yo mikir rakyat cilik koyok awake dewe.kok ngono, wong perkoro bal-balan ae rebutan kuasa, byuuuuuhh [Itu dia Le, Bapak juga heran. Seharusnya memikirkan rakyat kecil seperti kita ini. Kok malah begitu, masalah sepakbola saja berebut kekuasaan, byuuuuh]" ucap bapak tak kalah heran "Wis, terusno sinaumu ae le, kowe mau wis sholat Isya' durung? [Sudah, lanjutkan belajar kamu saja Le, kamu sudah sholat Isya' belum?]" ucap si bapak "nggih sampun pak [Ya sudah Pak]," balas Tole "Ojo lali Fatihah e nang ibuk lo ya!iku ngono sing ngelairno kowe [Jangan lupa Fathihah ke Ibu ya! Dia itu yang melahirkan kamu]," jawab bapaknya lirih sambil pikirannya melayang mengenang saat-saat kebersamaan mereka sebelum dia dipanggil-Nya. Dia melirik Tole yang belajar dengan serius seakan tidak ingin ada yang mengganggunya untuk meraih cita-cita. Malam pun semakin larut, Tole pun tertidur dengan buku sejarahnya, sedangkan si petani tua tertidur dengan radionya ,dan mereka siap menghadapi esok hari yang berat dan penuh tantangan bagi mereka berdua, tapi semangat dan cita-cita Tole serta bapaknya untuk membuat perjalanan hidup mereka terasa lebih ringan karena mereka yakin Tuhan akan selalu memberi jalan dan tidak akan meninggalkan umatnya.
Oleh : Lucky Acub Zainal, Pendiri Arema

Sumber :Milis Aremania sejagat
Sumber Photo :

Kamus Boso Malangan

EMDE Channel | 5/24/2011 02:42:00 PM | 0 komentar
Ayo Ker rame2 Lestarikan Osob Malang
Tulisan di bawah ini sebenarnya bukan artikel, hanya sekedar informasi saja, mengenai adanya kamus boso Malangan (Kamus Bahasa Malangan) yang saya ambil dari Milis Arema yang cukup membuat perhatian saya, yang judulnya seperti di atas. Namun untuk mendapatkan kamus itu sendiri saya juga masih mencari tau, dimana kira2 bisa didapatkan... dan berikut adalah tulisan/email tersebut... Talus ewag sinulep.
Sudah saatnya Bahasa Malangan (osob Kiwalan & osob Ngalam) di dokumentasikan. Sejajar dengan bahasa gaul dan dialek lain, Bahasa Malang pun tidak kalah penting nya dengan semua itu. Bahkan, bahasa Malang merupakan bahasa kebanggan bagi orang Malang, orang yang nunut lahir di Malang, pernah tinggal di Malang atau mempunyai hubungan emosional dengan Malang. Kini, jika seseorang bertemu dengan orang Malang di ibu kota, di luar jawa sampai di luar negeri – mereka akan mengajak Boso Ngalaman, baik kiwalan maupun Osob Ngalam. Hal itu menandakan: pertama, Bahasa malang mulai dikenal di kalangan luas. Kedua, semua strata sosial masyarakat, dari kaum marjinal sampai pembesar di pemerintahan maupun bisnis, menganggap ada ke khasan dari bahasa Malang, sehingga orang ingin menuturkan sesuatu minimal mengucapkannya. Ketiga, sebagai simbul sebuah hubungan dan interaksi yang komunikatif; dengan menggunakan dialek khas dan “begengsi” ini, semua percakapan akan nyambung dan lancar.

Supaya lebih menyajikan bahasa Malangan secarah utuh, maka kamus ini menampilkan bahasa walikan (osob kiwalan) dan Bahasa Malang (osob Ngalam). Keduanya menyatu dan unik dibanding bahasa Jawa lainya – walaupun dasar kata nya tidak terlepas dari ujaran dan bahasa di seputar wilayah Malang. Sebagaimana kata dan bahasa tidak bisa dilepaskan dari keputusan yang arbitrer (sewenang-wenang), disini juga akan terlihat unsur kesewenangan itu terutama dalam bahasa lisan, menyesuaikan dengan dinamika yang terjadi di masyarakat Malang atau yang menjiwai budaya Malang. Sekali lagi, Bahasa Malang mempunyai kekhasan, satu-satunya di dunia: ada prokem ada dialek ada sleng. Yang khas tidak terbantahkan karena sudah mengakar, misalnya ada kata sikim (pisau), naskim (nakam/makan), ojir (uang). Untuk kata UANG tidak lazim untuk langsung membalik kata menjadi ngau (uang), tetapi pakai istilah khusus ojir atau dhuwik. Apalagi dalam bahasa tutur, semua mengalir dan menjadi sangat akrab jika dipakai dalam percakapan, jika partner bicara kurang paham, tinggal ditanyakan apa itu ojir, ndewor, awad dan seterusnya.

Pokoknya, Bahasa Malangan adalah bahasa santai, bahasa gaul dan pergaulan serta bahasa komunikatif yang penuh keakraban. Jadi dalam Osob Kiwalan ada yang walikan yang paten seperti idrek (kerja), oker (rokok dll. Tetapi, ada yang terus berkembang seiring dengan munculnya istilah baru, sesuai dinamika dan logika, terutama yang direct, misal: model menjadi ledom, kuliah menjadi hailuk, gizi menjadi izig dan seterusnya. Untuk Bahasa Malang (Osob Ngalam) bisa mempunyai dua kelompok. Pertama, bahasa Jawa Timur yang khas, yang banyak dituturkan oleh orang Malang, bisa saja di daerah lain tidak lazim. Misal: wanyik (dia), ebes (ayah/ibu). Kedua, memakai bahasa khas Malang tetapi daerah lain juga mengenal, misal: yoopo (bagaimana): juga dikenal di Jawa Timur Tengah ke Timur-Utara, sedangkan yang ke arah Barat dan Selatan cenderung memakai kata piye atau pripun. Boso Malang, cenderung memakai akhiran a. Wis ngalup a? budal a? daerah lain ada yang cenderung memakai budal ta, budal yo, budal kah? atau budal yo! budal ya!

Jadi, bahasa Malangan itu tidak hanya bahasa walikan (Osob Kiwalan), dan cara membaliknya juga tidak semua kata dibalik begitu saja. Tetapi ada caranya. Yang kedua, Bahasa Malangan itu juga mempunyai unsur Bahasa khas Malang, seperti contoh diatas (bukan Boso walikan) tetapi banyak dituturkan oleh orang Malang seperti: ebes, keplas, ja’it, wanyik, dlll. Ditambah dengan logat yang khas, pemakaian akhiran khas, dan ada ekspresi mengungkapkan dengan kalimat tertentu – yang juga khas.

Dengan selesainya Kamus ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada Walikota Malang, DPRD Kota Malang, Bupati Malang, DPRD Kab. Malang, Wali Kota Batu, DPRD Kota Batu, komunitas MOHE (anak-anak gaul ex. Halokes SMA Kelud), nawak-nawak alumni SMPK1 Jl.Semeru, Aremania dan Ngalamania, dan semua pihak yang telah mendukung sehingga buku ini bisa diterbitkan.

Penulis berharap, kiranya buku ini bisa bermanfaat bagi Kota Malang, warga Malang dan semua pihak yang peduli tentang Bahasa Ngalaman.

Irad ayas

Sinulep,

ADI MOHE

Sumber :

Arema Runs Down Persik to Reach Final

EMDE Channel | 7/30/2010 10:29:00 AM | 4komentar
Sidoarjo, East Java. Arema Malang took advantage of a late-game meltdown by Persik Kediri to come away with an emphatic 4-0 victory in their Indonesian Cup semifinal in Sidoarjo, East Java on Wednesday night.

The victory set up the Crazy Lions, the reigning Super League champion, for a collision course with two-time Cup winner Sriwijaya FC in the final on Sunday.

Irfan Raditya, Muhammad Ridhuan, Rachmat Affandi and Muhamad Fakhrudin each scored for Arema, ousting a Persik side that was reduced to 10 men after goalkeeper Fauzi Toldo was sent off in the 80th minute.

“It was a strong performance by the team and I laud them for that,” Arema coach Robert Alberts said.

“They played with a lot of confidence, and they simply willed themselves to victory in this one.”

At Gelora Delta Stadium, both teams started slow in a lackluster first half, which each side struggling to break through the other’s defensive lines.

Arema returned after the break with more energy, and Irfan finally put his team on the scoreboard three minutes into the second half after an assist from Pierre Njanka.

That was just the beginning of a bad night for Toldo.

After Singaporean striker Noh Alam Shah saw his goal disallowed for offside in the 50th minute, Arema again beat Toldo a minute later, courtesy of midfielder Ridhuan, to make the score 2-0.

In the 80th minute, Toldo received an immediate red card from referee Oki Dwi Putra after he brought down Alam Shah outside the penalty box.

Because Persik had used up all its substitutions, midfielder Wawan Widiantoro was assigned to man the goal.

Fakhrudin extended Arema’s lead to 3-0 two minutes later, and Rachmat completed the rout.

Persik coach Agus Yuwono said his team failed to keep its composure.

“Our players just lost their focus right at the start of the second half, that’s why we conceded two easy goals,” Agus said.

“I thought we had a chance to get back in the match, but after the red card the game was over.”

It will be the third appearance in the final for Arema, who won the inaugural championship in 2005 then successfully defended it in 2006.

“We’re looking forward to a great match against Sriwijaya,” said Alberts, who is looking to give Arema its first domestic double against the only team to have ever achieved the feat.

“We’re up against a great team, but I know we also have good chance of beating them. We want to end this season on a high note, and we just have to work hard to achieve that,” he said.

The third-place playoff between Persik and Persipura Jayapura will be broadcast live on RCTI at 3.30 p.m. The final will take place at Manahan Stadium in Solo, Central Java at 8 p.m.

JG, Antara

Sumber :
Photo: aremafc.com

Asal-usul Kata "Goal" dalam Sepakbola

EMDE Channel | 6/17/2010 03:21:00 PM | 0 komentar
Istilah goal secara etimologis berasal dari gal atau gol satu kata dalam bahasa Inggris Pertengahan yang artinya adalah ‘batas’ atau ‘limit’.

Dalam konteks sepak bola, goal adalah batas atau tujuan yang hendak dicapai dalam permainan tersebut. Pada 1681 di Inggris diadakan permainan sepak bola antara pelayan raja melawan pelayan Duke of Albemare. Pintu masuk kedua benteng digunakan sebagai batas permainan. Para pemain mencetak skor dengan cara menggiring bola melewati pintu benteng lawan. Goal kini merujuk pada benda yang disasar sebagai tujuan dalam sepak bola, yakni dua buah tiang besi terpisah dengan jarak 7,3 meter. Tinggi kedua tiang 2,4 meter dan dihubungkan dengan palang/mistar di atasnya.


Di samping itu, menurut kamus Webster maupun situs First Base Sport, kata goal juga mengacu pada tindakan atau usaha dalam menyarangkan bola ke dalam sasaran/tujuan. Hasilnya juga dinamai goal. Jadi, baik benda yang menjadi tujuan, lalu tindakan untuk mencapai tujuan tersebut, maupun hasilnya, bahasa Inggris sebenarnya tidak membuat perbedaan istilah, tetap satu, yakni goal. Namun, untuk membedakannya, sering kali pengguna bahasa Inggris memakai kata goalpost atau bahkan hanya post saja untuk menunjukkan benda yang disasar.

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikan. Berbeda dari bahasa Inggris, bahasa Indonesia memberi nama khusus untuk benda yang menjadi tujuan permainan sepak bola. Kita menyebutnya ‘gawang’. Kata ini secara harfiah sebenarnya berarti ‘kusen pintu’. Gawang mungkin berasal dari kata lawang dalam bahasa Sansekerta yang berarti ‘pintu’.

Goal juga diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘gol’, tapi maknanya secara umum lebih pada usaha menceploskan bola ke dalam gawang lawan.

Goal atau dalam bahasa Indonesia disebut gol adalah peristiwa masuknya bola ke dalam gawang. Dalam beberapa cabang olahraga yang mengenal istilah ini adalah sepak bola, hoki es, hoki lapangan, polo air, dan bola tangan.

Dalam sepakbola gol terbagi menjadi 3 bagian :

1. Gol Bunuh Diri
Gol bunuh diri adalah istilah dalam olahraga sepak bola ketika seorang pemain memasukkan bola ke gawangnya sendiri sehingga dianggap sebagai gol bagi tim lawan. Pemain tersebut juga dianggap sebagai pencetak golnya. Apabila gol tersebut diakibatkan oleh pantulan, maka pencetak gol dilihat jika tendangan yang menghasilkan gol tersebut adalah tendangan langsung ke arah gawang atau tidak. Jika ternyata merupakan tendangan langsung ke gawang, maka pemain yang menendang tersebut dinyatakan sebagai pencetak gol. Gol bunuh diri terkenal terjadi di Piala Dunia 1994 di. Saat pertandingan tuan rumah Amerika Serikat melawan Kolombia yang di buat oleh Andreas Escobar. Yang mengakibatkan timnas Kolombia kalah 1-2.

Gol bunuh diri tidak bisa diterima jika dihasilkan dari lemparan ke dalam atau dari tendangan bebas.

2. Gol Emas
Gol emas adalah peraturan dalam sepak bola dengan memberi tambahan waktu dua kali 15 menit untuk mendapatkan pemenang yang dilakukan apabila dalam dua kali 45 menit tidak didapatkan pemenang dalam sebuah pertandingan sepak bola. peraturan ini biasa dilakukan di dalam kompetisi dengan sistem gugur.

Dalam peraturan golden goal, apabila terjadi gol dalam perpanjangan waktu yang dilakukan, maka pertandingan akan dihentikan pada saat gol. Tim yang mencetak gol dalam kesempatan pertama akan ditetapkan sebagai pemenang pertandingan. Dan apabila dalam dua kali 15 menit tetap tidak ada tercipta gol oleh salah satu tim, maka pertandingan diakhiri dengan adu penalti untuk mendapatkan pemenang dari pertandingan.

3. Gol Perak
Gol perak (Inggris: silver goal) adalah peraturan sepak bola yang dilakukan untuk mendapatkan pemenang dengan memainkan babak tambahan dua kali 15 menit, apabila dalam waktu normal tidak didapatkan pemenang dalam sebuah pertandingan sepak bola. Peraturan ini biasa diadakan dalam pertandingan sepak bola yang menggunakan format kompetisi dengan sistem gugur.

Dalam peraturan di dalam silver goal, apabila pertandingan sepak bola dalam babak perpanjangan waktu terjadi gol oleh salah satu tim, maka pertandingan akan tetap dilanjutkan hingga babak perpanjangan waktu dimana terjadi gol habis. Setelah babak perpanjangan waktu habis, maka tim yang dapat mencetak gol akan dinyatakan sebagai pemenang pertandingan. Apabila dalam dua babak perpanjangan waktu tidak terjadi gol, maka pertandingan dilanjutkan ke babak adu penalti.

Sumber :

Arema Roh, Aremania Milik Semua

EMDE Channel | 6/07/2010 10:53:00 AM | 0 komentar
SUKSES skuad Arema Indonesia menjadi juara kompetisi Super Liga tahun ini menjadi sebuah kebanggaan luar biasa Arek Malang. Hal ini tidak hanya dirasakan masyarakat Malang Raya, melainkan juga arek-arek Malang yang ada di luar Malang Raya. Salah satunya adalah Anto Baret yang dikenal sebagai tokoh Aremania Batavia. Bagaimana suka duka dia dalam mengawal Arema dan Aremania, serta pandangannya terhadap sukses Arema Berikut wawancara wartawan Malang Post, Poy Heri Pristianto dengan Sam OT, sapaan akrab Anto Baret.

Arema dan Aremania, adalah kebanggaan Anda. Apa komentar Anda soal sukses Arema?
Ini benar-benar sebuah kebahagiaan yang tidak ternilai harganya. Rasanya semua jerih-payah, perjuangan teman-teman Aremania, bahkan ada yang sampai meninggal, terbalaskan dengan gelar juara. Benar-benar sebuah cerita bahagia untuk Arema dan Aremania.
Apa kunci sukses Arema bisa menjadi juara?
Menurut saya, kebersamaan dan penghayatan terhadap slogan : Salam Satu Jiwa. Slogan itu benar-benar ampuh menyatukan Arema dan Aremania. Bagi pemain Arema, slogan itu membuat mereka benar-benar menyatu menjadi sebuah tim yang solid dan kompak. Tim yang saling mengisi dan tak terpisahkan. Sementara bagi Aremania, slogan itu membuat mereka merasa menjadi satu bagian dengan tim dan satu keluarga besar Aremania. Kami benar-benar satu jiwa dan tak terpisahkan. Aremania adalah Arema, Arema adalah Aremania.
Tanpa Arema, Aremania tidak ada dan bukan apa-apa. Mereka tidak pernah lahir, kalau tidak ada Arema. Demikian pula dengan Arema. Mereka tidak bisa menjadi apa-apa tanpa Aremania. Mereka juga tidak bisa seperti ini tanpa dukungan Aremania. Jadi, keduanya seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.

Atas dasar itukah Anda sampai menyempatkan diri datang ke Malang untuk ikut merayakan sukses Arema?

Saya datang dari Jakarta kesini (Malang, Red) murni tidak ada embel-embel apa-apa, tidak disuruh siapa-siapa. Murni karena Arema, karena ingin merayakan hari kemenangan Arema dan Aremania. Saya datang diundang PT Arema Indonesia sekaligus untuk menjawab isu-isu yang beredar yang tidak bertanggung jawab. Bahkan isu beredar seputar dukungan Arema ke Senayan. Seperti ada korban meninggal dan bus dibakar saat Aremania berangkat ke Jakarta. Ternyata itu hanya isu-isu. Kalaupun ada insiden dan Aremania ada yang terluka, namun semua itu bisa diatasi.

Bagaimana bentuk apresiasi Anda atas kemenangan Arema Indonesia, musim ini?
Jam 2 malam (Selasa-2 Juni, Red), kita masuk Malang. Paginya, kita bangun, setelah itu ikut pawai dengan rute se Malang Raya. Keliling-keliling sampai siang hari, kemudian sampai di Stasiun Kotabaru. Disitu ada acara, ada musik, ada pejabat teras disana. Saya terus duduk disitu, setelah itu saya dipanggil untuk nyanyi, saya pun menyanyi. Setelah itu, saya dipanggil lagi. Di atas panggung itu, saya dapat penghargaan, yang memberi penghargaan itu ada Pak Rendra.
Jujur, saya tidak kenal dan baru tahu siapa Pak Rendra ini, ya baru dipanggung Pesta Rakyat Aremania. Tapi besoknya, keluar iklan ada judul di situ, Aremania : Pak Rendra Oke. Iklan itu tidak ada masalah. Tapi ternyata di dalam iklan ini ada gambar saya, yang menerima penghargaan mewakili Aremania seluruh Jabotabek, dan Arema-Arema yang di Bali, Kalimantan, serta didaerah lain.

Bagaimana posisi Anda sendiri?
Selama ini, kalau saya datang ke Kota Malang, ke Malang Raya, saya datang tidak ada tendensi apa-apa. Apalagi sampai masuk ranah politik. Saya tidak mendukung siapa-siapa. Karena saya tidak begitu paham peta politik di Malang Raya. Apalagi terus terang, hidup saya memang ada di Jakarta. Tapi, ini kok sepertinya ada satu kendaraan politik dan saya merasa dijadikan kendaraan itu. Kalau saya memang mau mendukung seseorang, saya harus kenal dengan orang itu terlebih dahulu. Kalau saya tidak kenal dengan orang itu, saya tidak mungkin mendukung orang itu.

Sikap Anda kemudian?
Apapun alasannya, di belakang kita ada adik-adik Aremania. Yang saya takutkan, saya dianggap tidak lagi netral. Tapi saya dianggap mendukung seseorang. Saya bisa saja diopinikan mendapatkan uang atau opini jelek lainnya. Saya tidak mau kebersamaan antar Aremania terpecah-belah. Sekali lagi saya tegaskan, kalau saya mendukung seseorang, saya harus kenal luar dalam orang itu. Karena ini menyangkut nasib anak-anak bangsa, adik-adik saya yang ada di Malang. Marilah memberikan contoh yang baik, tatanan baik. Penuh sopan santun.

Apa komentar Anda tentang kemungkinan Aremania menjadi kendaraan politik?
Kalau bicara soal kendaraan politik dan Aremania jadi kendaraan politik, itu ibaratnya ketika dia naik, dia ingin menuju sesuatu. Jika sudah sampai sesuatu, bisa jadi kendaraan ini akan ditinggalkannya. Kasihan Aremania yang tidak tahu apa-apa, jika diperlakukan seperti itu. Padahal apa yang dilakukan Aremania selama ini, adalah ungkapan cinta kasih terhadap timnya, kotanya. Saya yakin, Aremania mengerti hal itu, jangan sampai hal ini terjadi lagi kedepannya. Kita harus memberikan pelajaran politik, sopan santun. Sekali lagi saya bilang, saya datang kesini untuk Arema, karena Arema adalah roh saya bertahan di Jakarta. Aremania dan Arema memang milik semuanya. Mereka punya hak untuk ikut turun dan ditengah-tengah kita, sekaligus punya hak pilih. (*)


Aremania akan Menjadi Kristal

DUKUNGAN dan fanatisme Aremania terhadap tim kesayangannya, Arema Indonesia tidak bisa diragukan lagi. Komunitas suporter beratribut kebesaran biru-biru tersebut bak menjadi bagian dari roh Singo Edan selama ini hingga sukses memboyong trofi juara Super Liga, musim ini.
Dalam kacamata Antok Baret, kelak kedepannya, Aremania akan mengkristal. Dengan begitu, Aremania tidak akan khawatir sampai mengalami perpecahan. Tanda-tanda itu terasa dengan begitu tingginya semangat Aremania dalam mendukung kiprah Arema selama ini. Hal itu tidak hanya dibuktikan dengan memberi tiket laga home, melainkan rela mengeluarkan biaya sendiri saat tim away.
‘’Insya Allah, Aremania lambat laun akan jadi kristal. Kalau pecah itu masih berupa kaca, kalau sudah jadi kristal itu tidak bisa pecah. Perjuangan itu sudah dibuktikan Aremania sejak dari dulu sampai sekarang,” yakin Antok Baret, tokoh Aremania Batavia.
Dia menyebut kefanatisan itu adalah energi, dan bisa menjadi doa bagi skuad Arema. Aremania adalah suporter paling baik dan yang terpenting adalah berjiwa satria. Kalau bukan satria, Aremania pasti akan melakukan tindakan yang merugikan orang lain.
Selain itu, mendukung kesebelasannya, tidak hanya meneriakkan yel-yel, tapi juga membeli karcis, hingga berangkat ke Jakarta untuk mendukung dengan biaya sendiri.
Sam OT, begitu dia akrab disapa, menegaskan, komandan Aremania adalah Salam Satu Jiwa. Pasalnya, salam khas Arema ini adalah salam persaudaraan atau seduluran. Dari prestasi itu, Aremania mendapat siraman yang bentuknya kegembiraan dan kebanggaan. Jika merasa capek saat mendukung, kemenangan itu akan menghilangkan rasa capek itu.
‘’Tanpa Aremania, Arema tidak apa-apanya. Begitu juga sebaliknya, Aremania tidak ada apa-apanya, tanpa Arema. Jadi, semuanya harus bisa menyatu, dengan komandannya, adalah Salam Satu Jiwa. Ini yang bisa menyatukan semuanya, coba diingat era 70 an, dulu di Malang ada banyak geng-geng. Tapi sekarang semuanya, sangat bagus, kompak dan bersatu,” tambah Sam OT.
Dia juga berharap Arema bisa mempertahankan prestasinya. Meski perjalanan seluruh klub di Indonesia, tidak lepas dari masalah pendanaan. Tapi dengan dukungan penuh Aremania, Singo Edan pasti akan mampu terus bertahan. Apalagi, jika Arema dn Aremania semakin menyatu, maka semuanya akan tetap mampu berjalan.
‘’Arema sudah melangkah ke jalur sepakbola Industri. Dampak positif pasti akan menghampiri industri Arema, misalnya penjualan atribut dan merchandise Arema akan mengalami peningkatan,” yakinnya. (poy/nug)

Sumber :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Griya Maya Rog Rog Asem - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger