BAHWASANNYA

Adanya "ADA" itu "ADA",Tidak adanya "ADA" itu "ADA".Adanya "Tidak Ada" itu "ADA",Tidak Adanya "Tidak Ada" itu "ADA"....
"Huwalloh, Robby...Wa Robbukum...Dialah Allah, Tuhanku dan Tuhan Kalian"

Home » » AREMA Bukan Sekedar Urusan Sepak Bola

AREMA Bukan Sekedar Urusan Sepak Bola

Must Joyo | 9/12/2008 10:48:00 AM | 0 komentar
Penulis: GedePrama
Arema, Selama ini dikenal sebagai klub sepak bola yang ber-home base di kota dingin Malang. Bukan kabar yang mengagetkan jika klub ini hampir tidak bisa mengikuti kompetisi Liga Indonesia karena tidak punya dana. Problem dana memang telah mendarah-daging dalam Arema. Uniknya, klub berlogo singo edan ini selalu dapat mengatasi problem itu, bahkan mempu berprestasi lumayan bagus. Sekali menjadi juara kompetisi Galatama, dan dua kali masuk ke babak perempat final Liga Indonesia yang telah dicatat Arema. Catatan prestasi ini cukup untuk menempatkan Arema salah satu tim yang disegani di kancah Liga Indonesia. Namun yang lebih sering menarik perhatian publik bola nasional dari Arema dalah polah-tingkah komunitas supporternya yang dikenal dengan sebutan Aremania. Aremania banyak dipuji sebagai prototipe supporter sepak bola yang ideal untuk masa depan sepak-bola Indonesia. Mereka mampu menggabungkan unsur fanatisme terhadap klub kebanggaan dengan sportivitas terhadap pemain dan suppoter lawan, serta kreativitas dalam menghidupkan atmosfer pertandingan. "Nonton sepakbola di Malang, mengingatkan saya akan pertandingan-pertandingan sepak-bola di Eropa," begitu komentar pelatih asal Belanda, Henk Wulem yang terkesima oleh kreativitas Aremania. Pelatih tim Pelita Solo, Danurwindo suatu ketika juga mengakui, bermain tandang di Malang layaknya bermain di kandang sendiri. Meskipun penonton di Stadion Gajayana Malang sampai ke tepi lapangan, mereka tidak menganggu para pemain lawan dan bersikap sangat ramah. Tim tamu justru sering mendapatkan dukungan penonton ketika tim tuan rumah bermain mengecewakan. Komunitas supporter Pasopati Solo mengakui kelahiran mereka banyak terinspirasi oleh Aremania. Militansi Aremania tak diragukan. Mereka sanggup bernyanyi dan menari sepanjang pertandingan untuk mendukung tim kesayangannya. Mereka tetap memberi dukungan walaupun tim Arema mengalami kekalahan. Yang lebih diacungi jempol banyak pihak, mereka menyanyikan lagu "Padamu negeri" di awal dan di penghujung pertandingan. Militansi inilah yang membuat banyak pemain asing, khususnya dari Chili begitu betah tinggal di Malang. Militansi itu yang membuat para pemain bermain kesetanan dan sanggup mengalahkan tim-tim yang lebih unggul. Para pemain bahkan begitu loyal terhadap tim, walaupun mereka tidak digaji setinggi jika mereka bergabung dengan tim lain. Arema Sebagai Subkultur Namun, Arema sesungguhnya bukan sekedar sebuah klub sepakbola berikut komunitas suppoerternya yang sangat fanatik. Lebih dari itu, adalah sebuah simbol, atau lambang yang menandakan kebanggaan terhadap identitas sebagai orang asal Malang. Oleh karena itu, sebutan Arema bukan sekedar melekat pada komunitas sepak bola, namun juga digunakan oleh komunitas sopir angkutan umum, tukang becak, komunitas tinju dan lain-lain. Dalam perspektif historis, identitas Arema juga dapat dilihat sebagai bentuk resistensi terhadap Arek Surabaya. Bukan rahasia lagi jika anak-anak muda Malang dan anak-anak muda Surabaya sejak dahulu bersaing dalam banyak hal. Mereka bersaing untuk menjadi warga yang paling superior di Jawa Timur. Mereka bersaing untuk menunjukkan siapakah yang paling layak untuk menyandang predikat "Arek". Arek Malang menolak anggapan bahwa mereka adalah "warga kelas dua" di Jawa Timur, di bawah Arek Surabaya yang menghuni kota yang lebih besar dan metropolis. Arek Malang selalu berusaha menciptakan jarak dan "pembeda-pembeda" dengan Arek Surabaya. Untuk itulah mereka berusaha membangun identitas tersendiri. Mereka ingin menunjukkan bahwa kiprah Arek Malang tidak kalah dengan Arek Surabaya. Dalam konteks itulah, kadar permusuhan Arek Malang terhadap Arek Surabaya begitu mengental dan dalam kasus-kasus tertentu melebihi permusuhan mereka dengan komunitas yang secara geografis lebih jauh. Dalam konteks inilah Arema kemudian menjelma mejadi semacam "subkultur" dengan identitas, simbol dan karakter yang berbeda dari subkultur Arek -yang secara umum telah identik dengan Arek Surabaya. Arek Malang membangun reputasinya di antaranya melalui musik dan olahraga. Sejarah menunjukkan Malang adalah gudangnya petinju berprestasi seperti : Thomas Americo, Wongso Suseno, Polo Sugaray, Monod, dan lain-lain. Malang juga melahirkan pesepak bola kenamaan : Bambang Nurdiansyah, Jamrawi, Singgih Pitono, Aji Santoso, Kuncoro, Maryanto, Agus Yuwono, Charis Yulianto dan lain-lain. Beberapa dari mereka bukan asli Malang, namun mereka besar di Malang dan bangga disebut Arek Malang. Berkaitan dengan usaha untuk melakukan resistensi itulah kiranya Aremania menunjukkan trend perilaku yang berbeda dengan supporter sepak bola Surabaya. Beberapa tahun belakangan ini, citra supporter sepak bola Surabaya benar-benar menurun. Mereka benar-benar diidentikkan dengan julukan "supporter bonek" dengan berbagai perangai buruknya. Uniknya, pada saat yang bersamaan citra Aremania semakin membaik. Aremania semakin populer sebagai supporter yang fanatik, namun kreatif dan sportif. Dengan kata lain, semakin buruk perilaku supporter sepak-bola Surabaya, maka akan semakin baik tren perilaku Aremania. Namun hal ini masih perlu pembuktian lebih jauh. Kita lihat saja nanti, apakah ketika supporter sepak-bola Surabaya menunjukkan gelagat membaik, Aremania justu menunjukkan trend sebaliknya. Mudah-mudahan yang terjadi Arema justru semakin lebih baik lagi. Arema Sebagai Media Katarsis Di sisi lain, keberadaan Arema dan Aremania juga bermakna sebagai media katarsis bagi problem-problem sosial yang dihadapi anak-anak muda Malang. Jika mau jujur, karakteristik anak-anak muda Malang tidak jauh beda dengan anak-anak muda Surabaya. Mereka menjadi bagian dari dinamika tradisi kekerasan, premanisme serta gaya hidup hedonis yang juga berkembang di Malang. Arek Malang dalam sejarahnya juga mengenal minum-minuman keras, narkoba dan berbagai bentuk aksi kejahatan. Omong-omong tentang kekerasan, bahkan ada seloroh yang menyatakan "Tradisi kekerasan di Malang sudah kondang sejak jaman Ken Arok". Walaupun tidak ada data statistik yang meyakinkan, penulis yakin kebiasaan-kebiasan buruk Arek Malang itu menurun signifikan sejak mereka Arema berdiri tahun 1987 dan berhasil menjadi simbol kebanggaan baru bagi Arek Malang. Arema dapat menjadi muara (yang positip) bagi Arek-arek Malang untuk menumpahkan segala kesumpekan hidup yang mereka alami. Arema dapat menjadi media katarsis bagi energi-energi terpendan dalam tubuh anak-anak muda di Malang. Dalam konteks inilah, fanatisme terhadap Arema menghasilkan efek-efek positip. Fanatisme itu dapat mengurangi kebiasaan nge-drug, minuman keras, trek-trekan (balapan liar) dan kebiasan-kebiasan buruk lain yang lazim dilakukan arek-arek Malang. Fanatisme itu tidak dibiarkan tumbuh liar, melainkan dikelola dengan baik melalui pembentukan korwil-korwil Arema berikut berbagai kegiatan positipnya : pengajian, tahlil bersama, arisan, bakti sosial dan lain-lain. Memang mustahil untuk memastikan bahwa 10.000 lebih supporter Arema semuanya sudah berkelakuan baik. Tentu saja ada satu-dua orang yang masih suka minum-minuman, ngedrug, nyopet ataupun tindakan kejahatan yang lain. Meskipun demikian, harus diakui Aremania semakin jauh dari kesan supporter sepak bola yang sangar, anarkhis dan suka melakukan kekerasan. Berdasarkan realitas-realitas di atas, terlihat bahwa Arema sesungguhnya adalah aset yang sangat berharga bagi masyarakat Malang dan sekitarnya. Eksistensi Arema dan Aremania mampu menghadirkan sejumlah dampak positip bagi kehidupan sosial masyarakat Malang pada umumnya.

*) Penulis adalah pengamat sepakbola dan staf peneliti ISAI
Salah satu Motivator Terlaris di Indonesia
Sumber : arema@yahoogroup.com (Millis Arema Sak Ndunyo)
Share this article :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Griya Maya Rog Rog Asem - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger