BAHWASANNYA

Adanya "ADA" itu "ADA",Tidak adanya "ADA" itu "ADA".Adanya "Tidak Ada" itu "ADA",Tidak Adanya "Tidak Ada" itu "ADA"....
"Huwalloh, Robby...Wa Robbukum...Dialah Allah, Tuhanku dan Tuhan Kalian"

KESENIAN BANTENGAN

Must Joyo | 4/26/2013 08:45:00 AM | 0 komentar
BANTENGAN : KESENIAN RAKYAT MILIK MOJOKERTO?

Oleh : Hardjono WS


1. Sejarah

Lahirnya kesenian bantengan ada dua versi

a. Berasal dari Batu

b. Berasal dari Cleket dan berkembang pesat di Pacet

 a. Berasal dari kota Batu. Menurut catatan yang bersifat dari mulut ke mulut dimulai dari seorang tua bernama Pak Saimin berasal dari Batu seorang pendekar membawa kesenian ini dan bergabung dengan Pak Saman (kelompok Siliwangi) dari Pacet dan berkembang di Pacet sampai sekarang ini.

Foto : retakankata.com
b. Berasal dari Pacet. Menurut cerita dari Pak Amir anak dari Mbah Siran yang menghidupkan kesenian Bantengan ini sampai sekarang di Claket. Akhirnya kesenian ini hidup subur sampai sekarang di Pacet dan Claket (baca: Surabaya Post, 1997)

Kedua versi itu sulit dilacak kebenarannya, mana yang lahir lebih dulu. Tetapi jelas sekali tempat yang terus melestarikan kesenian Bantengan ini adalah Pacet (sering mengadakan Festival Bantengan dan upacara tetap setiap memperingati hari kemerdekaan RI), cara swasembada layaknya kesenian tradisional lainnya di Indonesia.

Kedua versi itu masuk akal kalau dihubungkan dengan geografi kedua kawasan itu. masih banyak terdiri dari hutan belantara dan gunung. Sudah tentu Bantengan itu identik dengan hutan.

Menurut cerita Pak Amir (tokoh Bantengan) dan beberapa tokoh bantengan yang lain, seni Bantengan ini asal mulanya dari seni persilatan yang tumbuh subur di surau-surau atau langgar (mushollah).

Kesenian Bantengan ini awalnya untuk beladiri bagi pemuda di surau-surau. Tetapi akhirnya menjadi kegiatan seni untuk merayakan upacara perkawinan, sunatan atau bersih desa.

Pemikiran manusia terus berkembang, begitu juga perkembangan kesenian termasuk seni “Kitch” atau seni bawah/ tradisional.

Seni yang hidup turun temurun dari rakyat. Pencak silat itu akhirnya tidak banyak diminati masyarakat luas karena membosankan dan tidak menarik lagi.

Para pendekar mencari alternatif lain agar kesenian itu diminati lagi. Begitu sederhana sekali perjalanan kesenian Bantengan ini.

Suatu ketika Mbah Siran dari Claket itu menemukan bangkai banteng yang tergeletak di tepi sungai Kromong tepi hutan. Konon kabarnya ini terjadi karena perkelahian dua ekor banteng. Seekor kalah dan mati menjadi bangkai. Supaya tidak mubazir oleh Mbah Siran bangkai banteng ini diambil khusus kepalanya (tengkoraknya) dibersihkan dan dibawa pulang.

Kalau kepala menjangan untuk hiasan rumah, sampai sekarang masih banyak terdapat di rumah-rumah lama sebagai lambang atau simbol keberadaan seseorang, tetapi tengkorak banteng yang berkesan gagah dan berwibawa ini mengilhami Mbah Siran untuk melengkapi kesenian Bantengan yang tidak menarik lagi. Awalnya tengkorak itulah yang langsung diambil untuk dipakai sebagai “topeng” Bantengan itu melengkapi seni pencak silat dan akhirnya karena menarik, hanya Bantengan saja yang lestari sampai sekarang. Bantengan berdiri sendiri tanpa pencak silat lagi.

Akhirnya Bantengan ini menjadi cabang seni rakyat atau tradisional yang amat digemari masyarakat, meskipun sampai sekarang Pemerintah Kabupaten Mojokerto sendiri belum pernah ada usaha untuk mengangkat seni rakyat ini menjadi sebuah kebanggaan yang akhirnya bisa menjadi ikon untuk Kabupaten Mojokerto.

Mereka hidup sendiri dan ini perlu ditangani secara lebih serius agar tidak tertatih-tatih berjalan sendiri tanpa penanganan yang jelas meskipun diam-diam ia telah mengangkat citra sebuah kota dalam bidang kesenian dan kebudayaan. Barangkali ini sebuah landasan pemikiran tentang sebuah IKON.

2. Bantengan Masa Sekarang

Group Bantengan di Kabupaten Mojokerto awalnya banyak sekali. Menurut catatan, dulu sampai sekarang ke daerah Gondang, Kutorejo dan Tlagan. Bahkan menurut berita dari mulut ke mulut ada juga yang masih hidup di daerah Pandan dan Wonosalam serta di kota kecil Dinoyo. Tetapi yang jalan sampai sekarang hanya Pacet dan Claket saja. Tak salah kalau banyak orang yang mengatakan bahwa Bantengan kesenian milik Pacet (baca: Surabaya post, 1997, oleh Hardjono WS). Atau saling berebut antara kota Batu dan Pacet mana yang lebih dulu melahirkan Bantengan ini tetapi ini sulit dilacak kebenarannya. Mengapa demikian?

Barangkali memang benar kesenian ini dari sana dan secara geografis (Batu dan Pacet) masyarakatnya amat mendukung, hutan dan gunung. Masyarakat Pacet dan Claket memang merasa memiliki seni ini turun temurun yang di “leluri” sebagai penghargaan kepada penemu atau pencipta serta penerus sini Bantengan ini.

Akhirnya topeng Bantengan yang awalnya dari tengkorak banteng asli diganti dengan topeng buatan yang dibuat dari kayu. Ditakutkan akan terjadi perburuan liar untuk menembak banteng, meskipun akhirnya banteng itu punah dengan sendirinya.

Seni Bantengan ini terdiri dari dua pemain yang berperan menjadi seekor banteng. Pemain depan dengan dua laki-laki bertugas menjadi dua kaki banteng di depan, dan kaki milik pemain yang lain bertugas sebagai dua kaki banteng bagian belakang. Tubuh banteng dibentuk dari selembar kain hitam yang menghubungkan kepala banteng dengan ekor banteng yang dimainkan oleh pemain yang di belakang (lihat gambar).

Kedua pemain harus kompak bermain. Bagaimana mereka harus bermain menjadi satu tubuh, satu jiwa, satu karakter, satu roh, layaknya pemain double dalam bulu tangkis Ricky Subagya dan Rexy Meinaky. Teknik mereka memaunkan Bantengan memang ada dasar-dasar tertentu.

Meskipun sebagai seni tradisi yang bersifat seni perlawanan, rasa jiwa, spontanitas “berimprovisasi” layaknya dalam musik jazz ikut mendominasi gerakan-gerakan mereka. Kalau diuraikan secara teori menurut pakar Bantengan memang ada gerakan-gerakan tertentu, misalnya : langkah dua ekor banteng , laku lombo gedong, junjungan, geser, banteng turu (tidur), perang dengan macan (harimau) atau dengan naga, banteng nginguk (melirik), tubrukan dengan macan. Macan pun punya gerakan begitu, juga gerakan pendekar.

Sekarang Bantengan pun tidak sja hanya banteng, tapi bisa juga melibatkan beinatang-binatang lain penghuni hutan (disbet buron alas). Menurut cerita mereka (penggarap Bantengan), banteng adalah simbol pengayom atau pelindung binatang-binatang lain di hutan. Ini sebuah proses panjang yang tidak bisa kita ketahui di mana mereka akan bermuara, karena pemikiran manusia itu terus berkembang (misalnya perkembangan pementasan wayang Purwo atau wayang Kuli), beladiri lewat persilatan, kemudian berubah menjadi Bantengan. Banteng musuh banteng, akhirnya banteng melawan macan, melawan ular naga, melawan kera dan melawan bainatang-binatang lain (buron wana). Ini semua karena tuntutan untuk lebih menarik bagi para penonton saja.

Tahun 1999, penulis yang kebetulan pecinta seni tradisional melakukan eksperimen. Bantengan kita angkat bermain di sebuah hotel berbintang; hotel Sativa di Pacet ketika ada pameran emas se dunia di Surabaya. Kebetulan penutupannya di hotel mewah tersebut, tetapi dengan syarat : tidak boleh ndadi (tak sadar atau in trance), running time tidak boleh melebihi 25 menit, setting (arena tempat main) hanya 5x5 meter, pemain tidak boleh lebih dari 15 orang termasuk pemain musik dan pendekarnya serta mendapat honor lebih dari cukup lengkap dengan makan minum di hotel.

Biasanya kalau mereka main, pemainnya tak terbatas jumlahnya. Begitu juga tentang running maupun setting untuk bermain termasuk pengikutnya. Begitu juga dengan “ndadi”nya atau in trance-nya. Pertunjukkan di hotel saat itu amat menarik pengunjung, dan baru merasa pertama kali inilah mereka nikmati. Mereka yakin bahwa Bantengan ini kesenian milik Pacet atau Mojokerto. Esensi Bantengan tetap tak berubah, seperti pertandingan tinju ditambahai dengan challeng girl (panari latar perempuan yang cantik), toh esensi tinju tak berubah.

3. Bagaimana Bantengan Masa Depan

Sejelek-jeleknya “ondel-ondel” (Jakarta) tak seorangpun warga kota yang tidak bangga dengan lenong dan Ondel-ondel. Segala lapisan masyarakat ingin bersama-sama mengangkat kesenian ini menjadi sebuah icon. Mulai dari abang becak sampai abang Ali Sadikin dan abang Sutiyoso (bang Yos), akademisi dan seniman cinta dengan cabang seni ini. Ondel-ondel menjadi mascot kota Jakarta. Coba, mengapa Mojokerto yang katanya awal berdirinya sebuah negeri besar dengan pandangan nusantara ini tak mau mengangkat sebuah kesenian yang dipersembahkan oleh rakyat khusunya Pacet/ Claket menjadi sebuah icon dan kebanggaan tak ubahnya Reyog (bukan Reog) dari Ponorogo yang menurut catatan Reyog ini dikembangkan dan diangkat ke permukaan oleh Bethara Katong Bupati Ponorogo adik dari Brawijaya raja Mojopahit. Meskipun Reyog ini awalnya dipersembahkan oleh rakyat setempat, pemerintah mempunyai tugas dan wewenang atas pemikiran serta usulan rakyat.

Bagaimana Ondel-ondel atau Reyog yang dianggap kitch dan berselera rendah semacam bemo dan ludruk pada awalnya bisa diangkat ke tempat-tempat yang lebih bergengsi dan berwibawa. Sudah barang tentu pemerintah punya kewajiban, dan ini harus berani melakukan renovasi dan pembenahan-pembenahan minimal seperti contoh Bantengan itu sendiri. Tentang pakaian, musiknya, gerakan tarinya, filosofi tentang kesenian itu sendiri. Misalnya, Bantengan tidak perlu melawan banteng karena banteng secara filosofis adalah sebagai lambang kebangsaan (ingat sumpah palapa, begitu juga salah seorang Proklamator kita Bung Karno yang terlahir di Mojokerto adalah tokoh kebangsaan yang masih belum ada duanya). Masa bangsa musuh bangsa sendiri.

Bukankah Mojopahit dulu dan Indonesia sekarang merindukan keutuhan bangsa Indonesia (NKRI) tanpa melihat agama dan suku bangsa?

Banteng mungkin melawan harimau atau macan (masih ingat lukisan R. Saleh tentang banteng melawan harimau) simbol bangsa Indonesia melawan kolonialisme Belanda. Atau banteng melawan ular naga (simbol dari angkara murka) dan ini mungkin lebih menarik karena gerakan ular naga sendiri pasti lebih artistik dan atraktif apalagi saat melawan banteng.

Banteng bukan milik PDI atau partai-partai lain. Kita harus berpikir bersih dan bening demi seni dan bangsa serta kemanusiaan.

Pakaiannya barangkali bisa lebih digarap lagi supaya warna hitam (tubuh banteng) yang dominan adalah warna dasar yang akan lebih hidup. Ketika “uborampe”nya digarap mulai dari topeng, tubuh banteng dengan ornamen warna Mojopahit untuk menghias kepala banteng, tubuh banteng serta pakaian pendekar atau penabuh gamelan pasti akan lebih menarik lagi (warna gula kelapa) terasa ada garapan. Untuk musik barangkali tak perlu mendapat pembenahan yang mendasar karena musik yang terdiri dari gendang, jidor, gong. Kethe sebagai melodi sudah bisa mewakili bunyi serta ritme yang diharapkan oleh penabuh dan pemain bantengannya. Kalau toh ada pembenahan bisa ditambah lagi dengan yang lain tetapi tidak mengurangi esensi gamelan atau musik yang berangkat dari seni silat ini, misalnya terbang atau ceng-ceng (dari Bali) karena Mojopahit dan Bali masih ada ikatan emosionalnya dan sedikit gamelan yang rancak dan atraktif. Biasanya bunyi gamelannya berlaras slendro (kebanyakan musik atau gamelan Mojokerto atau Jawa timur). Akhirnya Bantengan ini menjadi sesuatu yang khas dan kemungkinan akan diminati oleh masyarakat lebih luas seperti seni-seni kitch yang lain: Reyog (Ponorogo), Glipang (Probolinggo), Remo (Surabaya), Topeng (Malang dan Madura), Jangger (Banyuwangi), Ririmau (Palembang), Ondel-ondel (Jakarta) dan Bantengan dari Mojokerto.

4. Lain-lain

Untuk melengkapi buku ini kami lampirkan juga pemikiran-pemikiran para pemikir kebudayaan dan seniman Mojokerto. Mengapa pemikiran ini juga harus kami lampirkan? Karena berbicara Bantengan sudah tentu tidak hanya berbicara masalah seni saja, tetapi sudah berbicara tentang budaya, politik, ekonomi dan kepercayaan yang lahir dari masyarakat. Para pemikir tersebut adalah Bambang Purwanto S.H dari Bappeda (birokrat), Drs. Nano Purwana M.M dari Dinas Pariwisata, Any Lasani dari unsur partai (PDI), Muhammad Amien dari unsur agama dan mantan anggota DPR, Hardjono WS dari seniman budayawan, Gatot S.H mantan jaksa dan pemerhati budaya Jawa, Drs. Harmajie M.M dari paguyuban Majas Leluri Paguyuban Budaya Jawa, Muhammad Khamim anggota Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto, Anam anis S.H seorang pengacara serta Sukardi dan Kun Haryono dari pers yang selalu membantu dalam pemikiran surat kabar mereka. Tetapi sayang, karena keterbatasan waktu mereka akhirnya hanya tujuh orang yang sempat menyelesaikan buku kecil panduan seni Bantengan yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto. Mereka adalah: Hardjono WS, Bambang Purwanto S.H, Muhammad Amien, Drs. Harmajie M.M , Drs. Nano Purwana M.M, Any Lasani, dan Gatot S.H. inilah buku kecil panduan mereka tentang Bantengan ini. sudah tentu ini perlu untuk melengkapi penerbitan buku “Bantengan : Antara Seni, Icon dan Nilai-nilai Kebangsaan” ini. buku panduan dari Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto.

A. Latar Belakang Pemikiran

Dalam sebuah buku lama tentang dongeng (fable) bahwa dongeng itu berasal dari India yang sudah lahir 1500 sebelum Masehi yang kemudian ditulis oleh Jean Dela Fontine penulis asal Perancis dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Trisno Sumarjo pada tahun 1953 dengan harga buku masih seratus lima puluh rupiah. Dalam dongeng yang lahir di pulau Jawa dan tidak termasuk dalam kumpulan buku tersebut, dalam dunia binatang bahwa banteng adalah binatang yang mewakili sifat-sifat terpuji khususnya kalau sudah melakukan tindakan (action). Pada suatu ketika seekor banteng menolong seekor buaya yang tertimpa sebatang pohon besar karena semalam telah terjadi angin rebut dan pohon itu tumbang sekaligus menimpa tubuh buaya. Semalaman buaya mempertahankan dirinya dari kematian sampai pagi. Kemudian datanglah sang penolong banteng. Awalnya sang banteng tidak mau menolong mengingat watak dan sifat buaya yang terkenal jahat, rakus, licik dan buas. Bukankah buaya adalah satu-satunya binatang yang sampai hati makan anaknya sendiri? Tetapi karena mendengar permintaan buaya begitu memilukan, akhirnya banteng ingin juga menolong. Mungkin ia masih sempat berpikir bukankan semua makhluk Tuhan itu bisa berubah perangai dan wataknya? Sang buaya tidak menyadari bahwa watak itu sulit untuk berubah? Pertolongan itu tidak saja membuat buaya lepas dari tindihan pohon, tetapi sampai minta digendong ke muara sungai tempat buaya hidup. Alasannya sederhana, belum begitu kuat meskipun hanya membawa tubuhnya sendiri. Padal di balik itu semua ia ingin membunuh sekaligus memakan tubuh banteng itu. kalau perkelahian itu terjadi di sungai pasti buaya akan memenangkannya. Bayangkan betapa licik sang buaya dan betapa tulus hati sang banteng menghadapi itu semua. Benar setelah sampai di muara synagi langsung sang buaya berhasrat untuk membunuh sekaligus makan tubuh sang banteng. Sang banteng sempat berpikir bagaimana ia harus menyelamatkan diri serta menyelesaikan kebenaran masalah itu. siapakah yang salah dan siapakah yang benar kalau kebajikan itu dibalas dengan kebatilan. Satu-satunya cara menurut banteng hanyalah sebuah pengadilan. Supaya adil maka mereka sepakat mencari pengadilan sampai tiga kali atau tiga macam pengadilan. Pengadilan itulah yang akhirnya memutuskan untuk mengadili buaya itu harus kembali seperti sebelum mendapat pertolongan sang banteng. Tubuh tertimpa pohon besar dan tak usah ditolong lagi. Dongeng tentang keperkasaan dan ketulusan serta kebujaksanaan banteng ini telah diabadikan juga menjadi naskah teater anak-anak. Tidak ada salahnya belajar dari dunia binatang lewat dongeng karena dongeng itu adalah karya sastra yang berbicara masalah akhlak dan bukan bersifat menggurui atau dogmatis. Oleh seorang pelukis besar Indonesia, R. Saleh mengabadikan dongeng itu dengan melukis perkelahian antara banteng dan harimau. Banteng diyakini sebagai simbol kebangsaan melawan harimau sebagai simbol angkara murka, imperialis dan kapitalis Belanda waktu itu. pelukis menggambarkan situasi bangsa Indonesia saat itu lewat karya seni berupa lukisan.

Jika Surabaya mempunyai Ludruk dan Remo, Bandung punya Sisingaan, Palembang punya Ririmau, Jakarta punya Lenong dan Ondel-ondel, Yogyakarta punya Ketoprak (bukan ketoprak Jakarta) Ponorogo punya Reyog (bukan Reog) dan Banyuwangi punya Gandrung dan Jangger, Probolinggo punya Glipang, Kediri, Tulungagung dan Trenggalek punya jaranan, lalu Mojokerto punya apa? Mojokerto memang mempunyai banyak cabang seni yang berangkat dari rakyat (bukan instant atau rekayasa) misalnya saja Ujung atau Ujungan (waktu-waktu tertentu muncul), olahraga silat, jaranan, mocopat dan lain-lain bukan karena untuk kepentingan golongan termaduk Bantengan ini sendiri yang sampai sekarang masih hidup subur di daerah Pacet dan Claket. Tetapi mengapa Bantengan itu sendiri belum bisa dianggap sebagai ciri khas atau jati diri kabupaten Mojokerto? Barangkali ada benang merah yang terputus dan juga tak ada salahnya jika sekarang inilah benang terputus itu kita sambung kembali. Sebagai catatan, kesenian yang banyak tumbuh tumbuh subur di kabupaten Mojokerto ini juga bisa berasal dari luar kota atau asli Mojokerto, tetapi yang tampak jelas bantenganlah yang diyakini asli Mojokerto. Bukktinya secara kongkrit kawasan Mojokertolah yang sampai sekarang kesenian Bantengan ini hidup subur di kawasan tersebut. Bahkan sering di tempat-tempat itu dilakukan kegiatan pementasan dan festifal. Akhirnya founding father kita menggambarkan dalam lambang Pancasila bahwa nilai-nilai kolonialisme atau kebangsaan adalah gambar banteng. Tidak salah bukan kalau Bantengan merupakan simbol dari kesenian yang dibanggakan masyarakat Mojokerto yang merupakan cikal bakal pemikiran wawasan Nusantara (Sumpah Palapa) dan Bhinneka Tunggal Ika zaman Mojopahit.

B. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan buku ini adalah sebagai berikut :

a. Merupakan suatu sarana sosialisasi agar meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap seni pada umumnya dan seni Bantengan pada khususnya.

b. Agar terdapat seni khas untuk Kabupaten Mojokerto yang dapat dikembangkan dan pada gilirannya berdampak terhadap aspek ekonomi, tenaga kerja, pariwisata, industri dan lain sebagainya.

c. Meningkatkan perhatian Pemerintah terhadap upaya melestarikan seni dan budaya pada umumnya dan khususnya seni Bantengan di Kabupaten Mojokerto.

d. Sebagai sarana membangun komitmen dari berbagai kalangan bahwa seni Bantengan adalah seni khas Kabupaten Mojokerto.

e. Agar dapat menjadi panduan bagi pemerhati dan penggiat seni Bantengan dalam upaya pengelolaan dan pengembangan di Kabupaten Mojokerto.

C. Metode Pengumpulan Data

Metode yang digunakan dalam rangka penulisan buku ini adalah metode wawancara, yaitu mengadakan wawancara dengan orang-orang yang mengetahui sejarah atau latar belakang adanya seni Bantengan. Sehingga data yang diperoleh adalah data primer yang bersumber dari orang-orang yang diwawancarai.

D. Komitmen Masyarakat Terhadap Seni Bantengan

Setelah melalui beberapa kegiatan koordinasi dengan berbagai komponen masyarakat, antara lain para seniman, budayawan, penggiat/ pemerhati seni Bantengan, agamawan, tokoh masyarakat serta berbagai instansi baik pemerintah maupun swasta maka dapat dimaklumi bahwa keberadaan seni Bantengan adalah satu-satunya sebagai seni khas kabupaten Mojokerto yang dapat mengangkat citra positif bagi kabupaten Mojokerto.

BAB II

Makna Filosofis Seni Bantengan

Sebenarnya kota kecil Pacet kurang lebih 30 km dari kota Mojokerto ke arah selatan sudah terkenal sejak zaman Belanda. Di samping udaranya yang sejuk dan banyak dikunjungi orang kota, ada juga sebuah cabang kesenian rakyat bahkan sudah mentradisi sampai sekarang. Kesenian itu sangat atraktif yang disebut Bantengan. Cabang kesenian ini sering pentas/ pagelaran menghibur masyarakat dalam kegiatan hajatan , ruwatan desa, sunatan, pernikahan terutama untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Jenis kesenian ini amat digemari masyarakat kabupaten Mojokerto meskipun keberadaannya tergantung pada kesetiaan dan kecintaan group itu sendiri. Tidak jarang mereka bermain hanya dihargai dengan nilai uang kurang memadai. Bahkan lebih sering secara gratis. “Kesenian banteng adalah bagian hidup kami”, kata Cak Amir pemimpin Bantengan asal Claket Pacet mojokrto. Sebagaimana kakek dan bapaknya dulu (Mbah Siran), Amir mulai mencintai Bantengan sejak masih anak-anak. Alasannya dia mengikuti cabang kesenian sekaligus ikut olahraga pencak silat yang banyak berkembang di surau-surau setempat. Jumlah group Bantengan yang berada di wilayah kecamatan Pacet sampai sekarang ini diperkirakan berjumlah 17 group yang tersebar di desa-desa Claket, Kambengan, Cempoko Limo, Made, Barakan dan lain-lain.

A. Asal-usul

Pada awalnya Bantengan Cuma sebagai pelengkap kesenian rakyat pencakcak silat. Akhirnya Bantengan menjadi sebuah tontonan sendiri. Kalau memiliki Bantengan berarti pencak silat, tapi kalau memiliki pencak silat belum tentu memiliki Bantengan. Asal-usul Bantengan ini konon bermula dari Pacet atau Claket sebagaimana diungkapkan di atas. Namun ada yang mengatakan dari kecamtan Jatirejo dan kecamatan Trawas. Boleh jadi karena daeradaerah saat itu masih terdiri dari hutan liar yang banyak dihuni binatang banteng. Sehingga binatang ini menjadi maskot yang akhirnya melahirkan kesenian tersebut. Salah seorang tokoh Bantengan yang kini sudah almarhum adalah Mbah Siran dari desa Claket Pacet. Sebagai mandor hutan di zaman Belanda, Mbah Siran terkenal sebagai pendekar penvak silat yang energik, segar, menarik dan atraktif. Semenjak Mbah Siran menemukan bangkai banteng yang tergeletak di tepi hutan segera dibawa pulang, dibersihkan tengkoraknya saja. kalau kepala menjangan untuk hiasan rumah (sampai sekarang masih ada rumah berhiaskan kepala menjangan sebagai lambang atau keberadaan seseorang), tetapi tengkorak banteng yang terkesan gagah dan berwibawa mengilhami Mbah Siran untuk melengkapi kesenian pencak silat yang tidak menarik lagi. Awalnya tengkorak itulah yang dipakai langsung untuk topeng Bantengan melengkapi seni pencak silat. Dari Mbah Siran itulah Bantengan mulai diperkenalkan ke masyarakat luas sehingga tontonan pencak silat lebih kaya variasi. Saat itu pencak silat hanya terdiri atas “kembangan” stelan, perkelahian bebas dengan tangan kosong, clurit, kayu dan tombak. Tabuhannya (iringan musik) seperangkat gamelan atau berupa dua buah ketipung, jidor, theng-theng, rebana yang dipukul dengan “gothik" (potongan kayu). Setelah diikutsertakan dalam pencak silat, tontonan itu menjadi tontonan dengan istilah baru “Bantengan”. Kalau mengadakan tontonan di tempat tertentu Bantengan ini masih lengkap dengan pencak silat. Tapi kalau diundang untuk meramaikan karnaval atau pawai hanya Bantengan saja yang dimainkan. Pemain yang memainkan Bantengan ini dikendalikan oleh dadungawuk atau pawangnya. Gerakan mereka atraktif dan amat dinamis apalagi diiringi tabuhan yang berkesan magis. Tidak jarang permainan ini menjadi liar dan berkesan buas apalagi kalau pawangnya tidak mahir. Penerus Mbah Siran adalah Cak Amir tak beda dengan kakek dan bapaknya adalah seorang pendekar dan pemimpin sekaligus.

BAB III

Seni Bantengan dalam Konteks Perjuangan

Setiap manusia mendambakan sebuah kemerdekaan, baik kemerdekaan individu maupun kemerdekaan sosial. Begitu juga masyarakat Mojokerto yang waktu itu dijajah Belanda. Ketika berbagai strategi dan taktik dapat diketahui oleh Belanda harus mencari cara yang lain. Kerena perjuangan masih belum dilakukan secara terorganisir, maka dicarilah cara-cara membangkitkan semangat terutama pemuda untuk sama melawan penjajah, maka dicarilah alternatif baru dalam wadah pergerakan perjuangan. Berdasarkan berbagai permusyawaratan, maka diputuskan memakai wadah silaturrahim dalam pendidikan pencak silat (silat dianalogkan sebagai silaturrahim). Dengan pendidikan silat, maka tujuan menghimpun kembali wadah pergerakan perjuangan telah tercapai. Di sampang sebagai forum silaturrahim, pencak silat sebagai pendidikan olahraga merupakan dasar untuk menyusun kekuatan secara fisik. Setelah ditemukan wadah pergerakan, maka dicapai sebuah alat perjuangan berupa seni Bantengan. Banyak alasan mengapa Bantengan ini dipilih:

a. Karena di dalamnya ada sarana berkumpul untuk rmusyawarah membahas perjuangan.

b. Adanya unsur olahraga sebagai bagian dasar berlatih untuk perang

c. Adanya unsur sufisme di mana dalam memerankan rangkaian seni Bantengan (banteng, kera, harimau, jepaplok, manusia) selalu dibimbing dan dilatih untuk menyatukan (ngenjengno/ manunggaling kawulo lan Gusti) supaya bisa menyatukan diri dalam arah dan gerak seni peran diperlukan kesadaran dan penyatuan diri terhadap Tuhan agar dapat menampilkan perilaku seperti apa yang diperankan.

d. Adanya unsur taktik perjuangan dengan cara “kesurupan”. Dengan cara ini apabila terjadi penyerangan terhadap Belanda, maka pemain seni ini termasuk orang gila yang tidak bisa dijerat hukum.

e. Adanya unsur beibadah karena dasarnya semua agama menganjurkan untuk menggunakan wangi-wangian di dalam setiap aktivitas, di mana seni Bantengan menggunakan kemenyan, dupa atau minyak wangi. Hal ini seakan-akan menggunakan magic, padahal itu semua bagian dari ibadah.

A. Seni Bantengan dalam Konteks Olahraga

Akal yang sehat terletak pada badan yang sehat, demikian sebuah pepatah. Untuk dapat memainkan Bantengan perlu adanya pikiran yang sehat sehingga bisa mengendalikan permainan serta badan yang sehat agar gerak danlaku yang diperankan bisa sempurna. Ada dasar-dasar olahraga yang perlu dipersiapkan dalam olahraga yang perlu dipersiapkan dalam pola seni Bantengan ini antara lain : kaki yang kuat dalm kuda-kuda, kekekaran dan kesehatan tubuh, kelenturan dalam gerak langkah, serta pernafasan yang panjang. Untuk memenuhi hal itu diperlukan latihan yang rutin dalam bidang olahraga. Olahraga yang membudaya waktu itu adalah seni beladiri masyarakat Jawa yang lebih dikenal dengan pencak silat. Setelah diteliti olahraga ini hanya dimiliki pada budaya Jawa.

B. Seni Bantengan dalam Konteks Olah Hati

Jika kita mendalami budaya, maka banyak cara yang dilakukan oleh nenk moyang kita dalam mendekatkan diri pada Tuhan dengan cara meditasi, semedi, tapa brata, yoga dan lain-lain yang intinya ingin mendapatkan kesempurnaan hidup sampai manunggaling kawula lan Gusti. Setiap manusia tentu ingin mendapatkan kesempurnaan hidup. Salah satu unsur kesempurnaan hidup adalah efektiknya (tulus ikhlas) permintaan kepada Tuhan. Untuk bisa efektif permintaan pada Tuhan diperlukan latihan olah rohani yang dilandasi olah nafas/ tenaga dalam. Sesungguhnya hampir semua agama mengajarkan cara ini, hanya saja metodenya yang berbeda. Dalam dunia persilatan cara ini banyak dilakukan apakah perguruan modern maupun tradisional. Untuk memerankan peran dalam kelompok seni Bantengan tentu semua ingin melakonkan atau memainkan dengan sempurna. Untuk melakukan dengan sempurna maka olah dan gerak nafas dapat dilakukan antara lain:

1. Konsentrasi memohon kepada Tuhan

2. Menarik nafas panjang dilepas pelan-pelan sambil berdoa mohon sesuai dengan yang diinginkan.

3. Dilakukan terus-menerus sampai mendapatkan langkah dan gerak otomatis menuju kesempurnaan yang dimainkan. Dengan cara ini meskipun keanyakan orang melihat kesurupan, tetapi pada dasarnya adalah permainan untuk mengecoh pengunjung agar puas serta sebagai alat perjuangan agar tidak terjerat oleh hukum karena dianggap kesurupan (gila)

C. Seni Bantengan dalam Konteks Mistik

Budaya nenek moyang kita dalam setiap kegiatan spiritual dan ritual biasanya menggunakan wangi-wangian. Contohnya pada saat “keleman” di sawah diberi sesaji yang diperuntukkan untuk Dewi Sri berupa cikal bakal yang di dalamnya ada unsur wewangian (bunga) memberikan sandingan, dipersembahkan pada waktu punya hajat, sesajen Malam Jumat unsur wewangian tidak aka terlepas. Tradisi semacam itu di dalam agama merupakan bagian dari ibadah, maka dicari unsur wewangian yang seakan identik dengan mistik. Langkah ini dilakukan untuk mengecoh Belanda seakan-akan pemain Bantengan berbuat musyrik. Dengan menggunakan sarana kemenyan (lokal, Arab) dupa, candu atau minyak wangi. Agar murah meriah biasanya memakai kemenyan lokal ditambah minyak wangi, baunya semerbak menyengat. Dengan unsur kepura-puraan pula seakan mendatangkan roh halus sehingga pemain seni Bantengan kesurupan, padahal ia bisa memainkan seni Bantengan bukan karena kesurupan. Karena didukung bau wewangian sehingga mampu menunggaling kawula lan Gusti akhirnya keberhasilan yang diharapkan dalam memainkan seni peran dapat dikabulkan oleh Tuhan.

D. Seni Bantengan dalam Konteks Entertainment

Pola dan gerak dalam seni Bantengan perlu diolah sedemikian rupa sehingga pengunjung betul-betul terhibur. Bagi pemain Bantengan kesurupan (meskipun dalam kepura-puraan) adalah inti dari pola permainan. Kalau belum bisa memainkan dengan kesurupan, maka permainan Bantengan belum dianggap sempurna. Bagi penonton Bantengan adalah seni yang menarik tetapi manakala benar-benar kesurupan tentu hal ini amat menakutkan. Agar kedua pola ini dapat saling menguntungkan, maka sebaiknya dalam memerankan Bantengan ini dilakukan dengan managemen organisasi modern dan managemen kalbu. Dengan demikian seakan-akan para pemain itu betul-betul kesurupan tetapi masih dalam kendali rohani sehingga tidak sampai membahayakan.

Salam Budaya...

Sumber: Facebook


Share this article :

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Griya Maya Rog Rog Asem - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger